PONTIANAK POST - Donald Trump mengunggah pernyataan keras disertai gambar AI dirinya memegang senjata di Truth Social pada Rabu (29/4) dini hari waktu setempat, yang ditujukan kepada Iran.
Dalam unggahan tersebut, Trump menulis, “Iran tidak bisa bertindak bersama. Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka lebih baik segera menjadi pintar!”
Gambar yang menyertai unggahan itu menampilkan Trump dengan latar ledakan dan tulisan “NO MORE MR. NICE GUY!” yang mempertegas sikap kerasnya.
Baca Juga: Ramp Check Pesawat dan Koordinasi Internasional Telah Siap, Kloter Pertama Jemaah Telah Berangkat
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama terkait situasi di Selat Hormuz dan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Upaya diplomasi terbaru dilaporkan terhenti setelah rencana keberangkatan delegasi AS ke Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan dibatalkan.
“Kami memegang semua kartu,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News, seraya menegaskan Iran harus mengambil inisiatif jika ingin melanjutkan dialog.
Sebelumnya, negosiasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance juga berakhir tanpa kesepakatan.
Baca Juga: Donald Trump Murka Disebut Pedofil dalam Manifesto Penembakan Gedung Putih
Di sisi lain, Teheran mengajukan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz dengan meminta penghentian blokade terhadap pelabuhan mereka serta berakhirnya konflik yang berlangsung.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi adanya proposal tersebut, namun laporan Reuters menyebutkan Trump tidak puas dan tengah menyiapkan tawaran balasan.
Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global dengan lonjakan harga minyak mentah.
Baca Juga: Cole Allen Sebut Donald Trump 'Penjahat' dan 'Bos Mafia Sosiopat' di Media Sosial Sebelum Beraksi
Harga West Texas Intermediate (WTI) naik 2,82 persen menjadi USD 102,75 per barel, sementara Brent meningkat tiga persen ke USD 114,62 per barel.
Kondisi ini turut diperparah oleh keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari OPEC mulai 1 Mei yang berpotensi memengaruhi pasokan global.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana pernyataan politik dan kebijakan internasional berdampak langsung pada stabilitas ekonomi serta kehidupan masyarakat luas di berbagai negara. (*)
Editor : Efprizan