PONTIANAK POST – Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa total biaya perang Iran saat ini telah mendekati angka USD 50 miliar. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan laporan resmi yang dirilis oleh pihak Pentagon.
Dilansir Anadolu pada Jumat (1/5), estimasi terbaru ini dua kali lipat dari nilai yang disampaikan dalam kesaksian di Kongres. Sebelumnya, pihak militer menyebutkan biaya operasi hanya berada di kisaran USD 25 miliar.
Pejabat Pentagon, Jules Hurst, sempat menyatakan bahwa "Operasi Epic Fury" baru menghabiskan dana sekitar USD 25 miliar. Namun, ia mengakui adanya kesulitan dalam menghitung total biaya perbaikan infrastruktur jangka panjang.
Menurut Hurst, ketidakpastian postur kekuatan militer AS di masa depan menjadi hambatan utama perhitungan. Pihak militer belum bisa memastikan rencana pembangunan pangkalan di wilayah konflik tersebut.
Baca Juga: Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus Rp400 Triliun, Pentagon Minta Tambah Anggaran Lagi
Kerugian Alutsista yang Signifikan
Laporan internal menyebutkan angka rendah yang sebelumnya dirilis belum mencakup kerusakan atau kehancuran peralatan militer. Hal inilah yang menyebabkan pembengkakan anggaran pada penilaian terbaru.
Salah satu kerugian terbesar adalah hancurnya 24 unit drone MQ-9 Reaper. Setiap unit drone canggih ini memiliki nilai lebih dari USD 30 juta.
Konflik ini bermula saat Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas serangan tersebut dengan menyasar sekutu AS dan menutup jalur krusial Selat Hormuz.
Baca Juga: Stok Senjata AS Menipis: Perang Iran Kuras Anggaran Hingga $35 Miliar
Upaya damai sempat dilakukan melalui mediasi Pakistan yang menghasilkan pengumuman gencatan senjata pada 8 April. Namun, pertemuan di Islamabad pada pertengahan April gagal membuahkan kesepakatan permanen.
Status Gencatan Senjata Saat Ini
Presiden AS Donald Trump kemudian mengambil langkah sepihak dengan memperpanjang masa gencatan senjata. Keputusan ini diambil atas permintaan Pakistan tanpa menetapkan batas waktu baru.
Perpanjangan ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi proses diplomasi lebih lanjut. Meski demikian, beban finansial akibat operasi militer ini terus menjadi sorotan di Washington.*
Editor : Uray Ronald