PONTIANAK POST – Blokade militer Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran diprediksi gagal memicu krisis ekonomi instan di Teheran.
Laporan terbaru menyebutkan Iran mampu bertahan selama berbulan-bulan tanpa kerusakan permanen pada industri minyaknya.
Prediksi Presiden Donald Trump bahwa infrastruktur minyak Iran akan "meledak" dalam hitungan hari terbukti tidak akurat.
Meskipun ekspor terhenti, Teheran memiliki strategi cadangan untuk menjaga operasional ladang minyak mereka.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Pulih Total Usai Serangan AS-Israel di Teheran
Strategi Domestik Iran
Iran menghindari penutupan total dengan mengalihkan hasil produksi minyak mentah ke kilang-kilang domestik.
Langkah ini memungkinkan sebagian besar ladang minyak tetap beroperasi meski ruang penyimpanan mulai menipis.
"Mereka memang harus memangkas sekitar setengah produksi. Namun, operasional tetap berjalan karena minyak tersebut bisa dimurnikan di dalam negeri," ujar Robin Mills dari Qamar Energy dikutip Anadolu.
Baca Juga: AS Blokade Pelabuhan Iran, IRGC Balas Sita Kapal Ocean Koi di Teluk Oman
Pengalaman Menghadapi Sanksi
Pakar dari Eurasia Group, Gregory Brew, menilai Iran sudah berpengalaman mengelola penurunan produksi.
Dalam 15 tahun terakhir, Teheran telah dua kali melakukan penyesuaian serupa akibat sanksi Amerika Serikat.
"Saya tidak merasa blokade ini akan merusak infrastruktur mereka secara masif. Mereka tahu caranya karena pernah melakukan ini sebelumnya," jelas Brew terkait ketahanan teknis Iran.
Dampak Blokade di Selat Hormuz
Saat ini, puluhan kapal tanker Iran tertahan di dekat Selat Hormuz akibat blokade laut.
Iran merespons dengan memangkas pengiriman dari 11 juta barel menjadi sekitar 6-8 juta barel per minggu.
Baca Juga: Iran Ultimatum AS: Deadline 1 Bulan untuk Akhiri Blokade dan Perang
Meski ruang penyimpanan diperkirakan habis dalam dua bulan, kemampuan pengolahan mandiri menjadi kunci utama.
Hal ini kemungkinan besar akan memupuskan harapan AS untuk mengakhiri perang secara cepat melalui tekanan ekonomi.*
Editor : Uray Ronald