Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam, Kedua Negara Kembali Saling Serang

Uray Ronald • Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:43 WIB
Ilustrasi - Rudal Iran. (IRNA)
Ilustrasi - Rudal Iran. (IRNA)

 

PONTIANAK POST – Gencatan senjata AS-Iran kembali berada di ujung tanduk setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk. Insiden tersebut memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan damai yang baru tercapai akan kembali runtuh.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan terhadap fasilitas militer Iran dilakukan sebagai respons atas serangan pesawat nirawak Iran terhadap kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.

Washington menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam keras serangan tersebut. "Jelas, ini adalah pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata kita," ujarnya.

Wakil Presiden AS JD Vance juga mengeluarkan peringatan kepada Teheran melalui akun X. Ia menegaskan kekerasan akan dibalas dengan kekerasan apabila Iran kembali melakukan serangan.

Baca Juga: Iran Pastikan Selat Hormuz Kini Terbuka Penuh untuk Kapal Dagang, Lalu Lintas Kembali Normal

Iran Klaim Serang Balik Pangkalan Militer AS

Dikutip dari Al Jazeera, Jumat (27/6), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku telah menyerang sejumlah lokasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Teheran menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas operasi militer Washington yang sebelumnya menghantam fasilitas rudal, drone, dan radar milik Iran.

"Jika agresi ini terulang, respons kami akan lebih luas dari ini," kata IRGC, menurut unggahan di saluran Telegram TV pemerintah.

Iran menegaskan serangan itu merupakan respons atas tindakan Amerika Serikat yang dianggap sebagai bentuk agresi militer.

Nasib Gencatan Senjata Dipertanyakan

Ketegangan terbaru memunculkan kekhawatiran terhadap kelangsungan nota kesepahaman (MoU) yang menjadi dasar gencatan senjata kedua negara.

Kesepakatan tersebut sebelumnya diharapkan menjadi langkah awal menuju perundingan lanjutan, termasuk pembahasan pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.

Situasi semakin rumit setelah Iran memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Meski demikian, aktivitas pelayaran internasional masih terus berlangsung.

Baca Juga: Garda Revolusi Iran Tegaskan Siap Tempur Jika Kembali Diserang AS dan Israel, Ancam Berikan Balasan Lebih Keras

IAEA Tekankan Pentingnya Verifikasi Program Nuklir

Di tengah meningkatnya ketegangan, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kembali mengingatkan pentingnya sistem verifikasi terhadap program nuklir Iran.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menilai komitmen politik semata tidak cukup untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

"Pemerintah Iran telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa ini bukanlah niat mereka. Namun tentu saja niat saja tidak cukup. Kita harus memiliki sistem verifikasi yang sangat kuat," tuturnya.

Menurut Grossi, mekanisme verifikasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan internasional sekaligus mencegah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.*

Editor : Uray Ronald
#AS-Iran #selat hormuz #IAEA #irgc #gencatan senjata