PONTIANAK POST - Perjalanan panjang seorang desainer tidak hanya diukur dari jumlah koleksi yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana karya tersebut membawa pesan dan nilai baru.
Hal itu menjadi semangat Wilsen Willim saat merayakan satu dekade perjalanan kariernya melalui koleksi terbaru bertajuk Algorithm: Universal Language.
Dilansir dari Jawapos, ashion show koleksi tersebut digelar di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu (8/7) malam.
Baca Juga: Touchup Tampilkan Koleksi Lune & Bloom di Debut Runway Plaza Indonesia Fashion Week
Koleksi ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas perjalanan kreatif Wilsen selama 10 tahun di industri mode.
Denim Daur Ulang Jadi Material Utama
Dalam koleksi terbarunya, Wilsen kembali menggunakan benang denim daur ulang sebagai salah satu material utama.
Baca Juga: Barn Jacket, Jaket Klasik Pekerja yang Kini Jadi Tren Fashion Harian
Denim dipilih karena menjadi material yang dekat dengan kehidupan banyak orang dan memiliki karakter universal, sesuai dengan tema Algorithm: Universal Language.
Sebagai perpaduan, Wilsen menghadirkan sejumlah kain tradisional Indonesia atau wastra yang selama beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari eksplorasi desainnya.
Beberapa wastra yang digunakan antara lain tenun sutra Garut yang sebelumnya telah diolah pada 2023, tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu Putussibau, Kalimantan Barat, songket Jembrana dari Bali, serta songket Minang dari Halaban.
Baca Juga: Dari Blus hingga Blazer, Peplum Kembali Jadi Favorit Pecinta Fashion
“Inovasi ini tidak hanya tentang pelestarian wastra. Dengan adanya penggunaan benang daur ulang yang diproduksi dalam negeri, kita turut mengurangi penumpukan sampah tekstil dan juga kelangkaan serta peningkatan harga benang yang kerap menghambat proses produksi para penenun,” jelas Wilsen.
Padukan Batik Cirebon dan Wastra Nusantara
Tidak hanya mengandalkan denim dan kain tenun, koleksi Algorithm: Universal Language juga dihiasi kain batik tulis dari Cirebon. Motif batik tersebut dirancang oleh tim studio Wilsen Willim.
Berbagai material itu kemudian diwujudkan dalam beragam siluet busana, mulai dari kemeja, jaket, celana, rok, korset, celemek (apron), bib, hingga kain jarik.
Perpaduan semburat biru denim dengan warna metalik serta warna netral seperti hitam, putih, dan abu-abu menciptakan tampilan yang tetap modern sekaligus memiliki karakter kuat.
Melalui komposisi tersebut, Wilsen menunjukkan bahwa desain yang mengangkat unsur tradisi tetap dapat tampil relevan mengikuti perkembangan mode.
Baca Juga: Dekranasda Kalbar Ikuti Kick Off HUT ke-46 Dekranas, Dorong Pembinaan Perajin dan Wastra
Sentuhan Rebel dalam Koleksi Terbaru
Selain koleksi berbasis denim dan wastra, Wilsen juga menampilkan sejumlah busana yang menjadi ciri khasnya, seperti luaran, kebaya gaya Kartini dan Janggan, serta beskap.
Nuansa berbeda hadir melalui sentuhan rebel yang ditampilkan lewat penggunaan berbagai elemen seperti harness, sabuk, korset, hingga biker’s jacket dan rok berpotongan tinggi.
Baca Juga: Wastra Kalbar Go Internasional, Tampil di Panggung Kuala Lumpur Fashion Week 2025
Koleksi ini memperlihatkan upaya Wilsen Willim menghadirkan pertemuan antara tradisi, inovasi, dan keberlanjutan dalam satu rangkaian karya mode. (*)
Editor : Chairunnisya