Ari Akbar Rusadi, seorang penambang speedboat di dermaga Jongkong mengeluhkan tingginya harga BBM jenis pertalite.
"Beberapa hari ini susah mendapatkan BBM, khususnya Pertalite, dimana harganya pun naik hingga mencapai Rp14 ribu bahkan Rp18 ribu perliter, yang sebelumnya Rp12 ribu perliter," katanya, Minggu (07/05).
Menurut Ari, BBM tersebut mulai mengalami kenaikan harga hingga sulit didapatkan, sejak diketahui adanya imbauan dari Kapolda Kalbar, dalam program 100 hari kerjanya. Termasuk di dalamnya, disebutkan dia, yakni memberantas kegiatan-kegiatan ilegal, salah satunya yaitu pertambangan tanpa izin (PETI) khususnya tambang emas.
"Kami selaku masyarakat biasa yang tidak melakukan kegiatan ilegal seperti yang dimaksud oleh Kapolda Kalbar dalam 100 hari kerjanya tersebut, juga terdampak," tutur Ari. Ari menjelaskan, dirinya pernah tidak menambang karena tidak mendapatkan minyak.
"Di Jongkong ini kuota BBM sangat minim. Pernah juga BBM di kios -kios kosong, sebab APMS di sini mensuplai BBM hanya sekali dalam sebulan," jelasnya. Ditambahkan Sudirman, penambang speedboat Jongkong, saat ini mereka kesulitan untuk mendapatkan BBM. "Banyak kios yang mulai kekosongan BBM," ucapnya.
Sudirman mengatakan, dirinya biasanya membeli BBM jenis pertalite tersebut 10 liter untuk tiga hari menambang. "Sekarang inikan BBM itu terbatas, kalaupun ada teman-teman penambang biasanya rebutan juga untuk dapatkan BBM," ujarnya.
Dia pun berharap, ke depan BBM ini jangan sampai masyarakat di Jongkong ini kesulitan untuk mendapatkan BBM, soalnya rata-rata masyarakat Jongkong dalam beraktivitas ini menggunakan BBM. "Kita ini rata-rata mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan dan penambang yang semuanya tergantung dengan BBM," tuturnya.
Penambang lainnya, Zainudin, mengatakan, saat ini BBM di kios banyak kosong. "Untuk minyak yang ada sekarang Rp14 ribu perliter," ucapnya.
Zainudin mengaku tidak tahu kenapa BBM sekarang kosong. Padahal sebelumnya BBM di Jongkong ini, diakui dia, lancar dan tak pernah langka. "Harapan kita ke depan supaya minyak bisa lancar saja di Jongkong. Semua masyarakat aktivitas dominan air sehingga tergantung minyak," ungkapnya.
Ditambahkan Ahmadi, kepala Desa Ujung Jambu, Kecamatan Jongkong, sekarang ini mendapatkan minyak agak susah, karena APMS dan kios-kios mulai banyak yang kosong. "Harga BBM pun sekarang agak tinggi Rp14 ribu di kios. Dengan harga segitu tentunya sangat tinggi karena masyarakat akan berpikir untuk kerja jika penghasilan tidak sesuai," ungkapnya.
Ahmadi mengatakan, masyarakat Jongkong memang tergantung dengan ketersediaan minyak dari APMS yang datangnya sebulan sekali. "Kita berharap bagaimana masalah BBM ini jangan sampai terjadi kelangkaan yang membuat masyarakat kesulitan untuk mendapatkannya," pungkasnya. (fik) Editor : Misbahul Munir S