Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mengunjungi Objek Wisata Kolam Bunga Lita nan Terlupakan di Kapuas Hulu, Dahulu Kala Jadi Tempat Mandi Para Bidadari

A'an • Senin, 3 Februari 2025 | 11:54 WIB

 

Kolam Bunga Lita di Kapuas Hulu.
Kolam Bunga Lita di Kapuas Hulu.

PONTIANAK POST - Kabupaten Kapuas Hulu memiliki beberapa objek wisata yang sudah dikenal dan diminati oleh wisatawan antara lain Bukit Semugang, Medang Pulang, Sepandan Danau Sentarum, Batu Ancau, Sungai Utik, arung jeram dan lainnya. Namun dari sekian banyak objek wisata tersebut, pemerintah daerah maupun masyarakat Kapuas Hulu seakan lupa dengan objek wisata yang satu ini. Objek wisata tersebut namanya Kolam Bunga Lita yang terletak di Desa Suka Maju, Kecamatan Mentebah.

Objek wisata ini memiliki kolam pemandian, jeram, dan situs batu. Kawasan wisata ini jarang mendapatkan pembinaan sehingga pengunjung sepi. Kawasan ini relatif tidak jauh dari Ibu Kota Putussibau. Jika naik kendaraan, rata-rata perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.

Jika ingin berkunjung atau menikmati keindahan alam di sana, caranya cukup mudah. Pengunjung hanya perlu mencari Simpang Makai, di daerah Tekalong dan masuk ke dalam sekitar tujuh kilometer.

Yohanes Aloysius Rewa, pemilik kawasan wisata tersebut menyampaikan, di kawasan wisata ini tidak hanya ada kolam pemandian. Ada sejumlah objek lain seperti Gurung Makai dan Situs Batu Babi. "Gurung ini bahasa Dayak Suruk. Kalau bahasa Indonesianya jeram," katanya kemarin.

Menurut Aloy, kawasan wisata ini memang belum banyak dikenal orang. Karena itu, ia berniat untuk mengembangkannya agar bisa menjadi kawasan wisata unggulan.

"Di sini ada jeram Gurung Makai, ada kolam pemandian Bunga Lita, dan situs Batu Babi. Selama ini orang tahunya hanya dari mulut ke mulut," ungkap Aloy.

Ia mengatakan kawasan wisata tersebut konon dipercaya merupakan sebuah rumah betang, yang kemudian 'melebur' atau berubah wujud menjadi batu. "Kalau kolam pemandian Bunga Lita ini adalah tempat pemandian para bidadari. Sebelumnya, kolam ini adalah wadah susu. Bidadari mandi di sini. Itulah cerita yang kami percayai secar turun menurun dari para leluhur kami," ujarnya.

Sebenarnya ada dua kolam di kawasan itu. Ada Kolam Brem  dan Kolam Bunga Lita. "Kolam brem ini tidak boleh dipakai. Jangan cuci muka, apalagi meminumnya. Bisa gila. Karena dulunya itu adalah wadah arak. Tapi kalau kolam Bunga Lita ini justru bagus, karena terbuat dari wadah susu. Jadi kalau mandi di situ, bagus. Makanya ramai juga yang mandi di situ," jelasnya.

Dia menambahkan, sebelum mandi di Kolam Bunga Lita, pengunjung disarankan untuk melempar logam, seperti uang koin, jarum, atau paku serta meminta izin kepada kolam tersebut.

Tak jauh pemandian Bunga Lita, ada juga situs Batu Babi. Menurut Aloy, Batu Babi ini dulunya adalah babi peliharaan warga, yang berubah wujud menjadi batu. Ada tiga babi, tempat makan babi, dan seorang perempuan yang sedang hamil.

"Saat memberi makan babi, perempuan ini bilang 'sama-sama hamil kita ini ya'. Setelah dia bilang begitu, seketika cuaca buruk, awan gelap, dan semuanya berubah menjadi batu," jelasnya.

Ia pun berpesan, agar pengunjung tak memukul-mukul batu babi tersebut, jika tak ingin mendapatkan mimpi buruk. "Saya sendiri pernah mengalaminya," tuturnya.

Kawasan wisata Bunga Lita ini menjadi semakin menarik dengan adanya Gurung Makai. Jeram ini arusnya tak terlalu kuat, sehingga memungkinkan pengunjung untuk berenang mengikuti arus hingga danau di ujung jeram. Bebatuan di kiri dan kanan jeram membuat panoramanya semakin berkesan.

"Daerah ini akan kita kembangkan menjadi wisata alam, sehingga pengunjung bisa menikmati suasana alam yang asri, suara air, bebatuan. Di sini juga bisa camping, tapi kami juga ada menyiapkan kamar-kamar bagi pengunjung yang ingin menginap di kamar," ujarnya.

Aloy menyebutkan, untuk pengembangan objek wisata ini, bantuan dana pemerintah sangat diperlukan. Selain untuk pembangunan beberapa sarana penunjang, juga untuk penambahan areal lahan parkir.

Ia optimistis, Kolam Bunga Lita dapat terus berkembang dan mampu menarik wisatawan, karena menjadi satu-satunya objek wisata yang mudah diakses, dan berjarak kurang dari sejam dari Kota Putussibau.

“Bahkan kendaraan bisa masuk ke area objek wisata. Parkir kendaraan langsung di tepi sungai. Kalau wisata lain, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh, baru tiba di lokasi wisata,” ucapnya.

Dirinya berharap wisata Kolam Bunga Lita juga menjadi destinasi unggulan ke depan karena Kabupaten Kapuas Hulu berbatasan darat dengan Provinsi Kaltim, yang menjadi Ibu Kota Negara. Terlebih saat ini akses melalui jalur lintas timur Kecamatan Putussibau Selatan menuju perbatasan Kaltim sudah terbuka.

"Strategi promosi Kolam Bunga Lita sudah disinergikan dan bekerja sama dengan pemerintah desa melalui BUMDes. Saya berkomitmen, sebagai pihak pengelola tentu pengembangan Kolam Bunga Lita akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, seperti pemberian lapangan kerja," ujarnya.

Sementara itu, Lauren, warga Kapuas Hulu mengaku sudah beberapa kali dirinya bersama keluarga pergi berlibur ke kawasan wisata Bunga Lita. Menurutnya, tempat wisata tersebut indah dan tenang. "Karena kita bisa menikmati keindahan alam yang benar-benar alami. Di situ kita bisa menikmati pemandian, jeram, dan di sana juga ada nilai sejarahnya," ujar dia.

Ia berharap objek wisata tersebut dapat berkembang dan mendapatkan dukungan dari pemerintah, sehingga menjadi salah satu destinasi kebanggaan masyarakat Kapuas Hulu serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pemerintah daerah dapat memikirkan bagaimana perkembangan untuk wisatawan tersebut. Sayang jika tidak dikelola, apalagi dibiarkan begitu saja karena tempatnya bagus," pungkasnya. Objek wisata Kolam Bunga Lita ini dikelilingi oleh Desa Suka Maju, Desa Kepala Gurung, dan Desa Tanjung. (fik)

Editor : A'an
#Kapuas Hulu #wisata