PONTIANAK POST - Tak dipungkiri jika masyarakat yang tinggal di perbatasan Indonesia - Malaysia masih banyak berobat ke negeri Jiran. Berbagai macam alasan masyarakat perbatasan memilih pelayanan kesehatan di Malaysia. Kepala Imigrasi Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu Uray Aliandri menyampaikan pelintas keluar masuk PLBN Badau Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kapuas Hulu didominasi oleh WNI asal Kapuas Hulu yang berobat ke Malaysia.
"Data itu berdasarkan data pada tahun 2024 sebanyak 90 orang setiap hari, WNI melintas keluar masuk lewat PLBN Badau, mereka berobat ke Malaysia, berwisata, ketemu keluarga dan sebagainya," katanya, Senin (7/4). Sedangkan sisanya sekitar 10 persen orang Malaysia yang berkunjung ke negara Indonesia melewati PLBN Badau Kabupaten Kapuas Hulu. "Secara ketat kita terus melakukan pengawasan dan pemantauan," ucapnya.
Selain Paspor ada juga pemberlakuan Pas Merah. Dimana untuk Pas Merah hanya untuk masyarakat di perbatasan Indonesia, zona kunjungannya mereka ke Malaysia cuma sampai Lubuk Antu "Kalau berkunjung ke Sriaman Malaysia hingga ke daerah Kuching dan lainnya itu harus gunakan Paspor, karena sudah ada aturan yang berlaku, dan tidak berlaku untuk Pas Merah itu sendiri," ujarnya
Terus alasan kepentingan kunjungan itu, dipaparkan adalah dominannya dilakukan oleh WNI yang buka usaha taxi ke Malaysia. "Mereka keluar masuk wilayah perbatasan dua negara dan pasti cap di masing-masing imigrasi," ungkapnya. Sementara Indra warga perbatasan Kapuas Hulu mengungkapkan ada beberapa alasan masyarakat perbatasan lebih memilih berobat ke Malaysia, meskipun di perbatasan terutama di Kecamatan Badau ada Rumah Sakit Bergerak. "Kalau kita berobat di Malaysia ruangan nyaman, petugas medis lebih komunikatif, akses lebih mudah dijangkau, dan biaya lebih murah," ujarnya.
Dia mengatakan, dirinya sendiri pernah membawa keluarganya berobat ke Malaysia, namun bukan hanya keluarganya saja yang berobat, tetapi banyak juga warga Indonesia yang lain berobat ke Malaysia. "Kami melihat penyebabnya masalahnya ada beberapa hal yaitu kapasitas daripada pelayanan kesehatan atau kemampuan rumah sakit kita untuk menangani suatu penyakit, SDM masih kurang, dan persoalan hospitality," pungkasnya. (fik)
Editor : Hanif