PONTIANAK POST — Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kayong Utara semakin menegaskan perannya sebagai pusat baru industri aluminium nasional. Dikembangkan untuk mengolah dan memurnikan bauksit menjadi alumina dan aluminium menggunakan teknologi Bayer dan Hall-Heroult, KIPP hadir untuk menjawab kebutuhan aluminium Indonesia yang mencapai 1,2 juta ton per tahun, di mana 56 persen masih dipenuhi melalui impor.
Dengan kapasitas dan teknologi yang disiapkan, KIPP diharapkan menjadi katalis tumbuhnya industri energi surya, kendaraan listrik, hingga green industry di Indonesia. Di balik ambisi nasional tersebut, kehadiran PT Dharma Inti Bersama (DIB) sebagai pengelola KIPP menunjukkan dampak nyata bagi perekonomian lokal, terutama Kabupaten Kayong Utara. Salah satu dampak paling menonjol ialah tingginya penyerapan tenaga kerja daerah sejak fase persiapan pembangunan kawasan dimulai.
Hingga Oktober 2025, DIB mencatat total 1.861 karyawan, dengan 69 persen di antaranya merupakan tenaga kerja asal Kalimantan Barat, mayoritas dari Kayong Utara. Angka ini menunjukkan komitmen kuat perusahaan mengutamakan pemberdayaan SDM lokal dalam proyek yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.
“Serapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu prioritas kami. Kehadiran KIPP tidak hanya membangun industri, tetapi juga membuka peluang bagi putra-putri daerah untuk berkembang, memperoleh pendapatan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar External Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, dalam silaturahmi media di Pontianak, Jumat (28/11).
DIB juga menjalankan program pelatihan, peningkatan kompetensi, hingga transfer teknologi untuk memperkuat kualitas SDM lokal. Langkah ini sejalan dengan target perusahaan mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kayong Utara yang masih berada di bawah rata-rata Kalimantan Barat.
Kontribusi ekonomi juga terlihat dari peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemerintah Kabupaten Kayong Utara mencatat kenaikan PAD sebesar Rp918 juta pada APBD Perubahan 2025, sebagian dipengaruhi aktivitas ekonomi baru dari proyek strategis, termasuk KIPP.
Direksi DIB, Rasnius Pasaribu, dalam sambutannya menegaskan bahwa perusahaan menargetkan diri menjadi tulang punggung pemenuhan aluminium nasional. “Kami berharap dapat menjadi pendukung utama pemenuhan kebutuhan aluminium Indonesia,” ujarnya.
Tidak hanya penyerapan tenaga kerja langsung, DIB juga melaksanakan program CSR berkelanjutan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat pesisir, dan infrastruktur desa. Program tersebut mencakup beasiswa S1, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pelatihan nelayan dan bantuan alat perikanan, hingga dukungan bagi UMKM lokal. (ote/r)
Editor : Hanif