PONTIANAK POST - Rabies masih menjadi perhatian serius di Kalimantan Barat. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan ini kembali mencatat angka yang cukup tinggi sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data dari laman Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, periode 1 Januari hingga 1 September 2025, tercatat 6.961 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR). Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 orang meninggal dunia akibat rabies (lyssa).
Hewan penular rabies (HPR) yang dominan di Kalbar adalah anjing dengan populasi mencapai 162.544 ekor.
Disusul kucing dengan jumlah 49.612 ekor, kera atau monyet sebanyak 673 ekor, dan jenis lainnya sejumlah 182 ekor.
Total populasi HPR mencapai 213.011 ekor.
Data juga menunjukkan, terdapat 17 hewan positif rabies yang ditemukan sepanjang tahun ini. Sementara jumlah hewan penular rabies yang menggigit manusia tercatat 6.911 ekor.
Angka ini menegaskan bahwa rabies masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Kalimantan Barat.
Selain korban gigitan, pemerintah daerah juga melakukan upaya pencegahan melalui vaksinasi hewan.
Hingga September 2025, tercatat 7.031 ekor hewan sudah divaksin, terdiri dari 6.173 anjing, 847 kucing, dan 11 ekor monyet.
Meskipun program vaksinasi terus berjalan, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan. Terutama dalam melakukan pertolongan pertama setelah terjadi gigitan atau cakaran dari hewan yang dicurigai rabies.
Pertolongan Pertama Rabies Setelah Terkena Gigitan
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, berikut adalah beberapa langkah pertolongan pertama rabies yang sangat dianjurkan:
1. Bersihkan bekas luka gigitan
Mencuci bekas luka gigitan atau cakaran dengan air hangat dan sabun hingga benar-benar bersih.
Saat mencuci, tekan area luka agar kuman dan air liur hewan yang mungkin mengandung virus ikut keluar.
2. Oleskan Antiseptik
Setelah bersih, segera oleskan antiseptik pada luka.
Tutup luka dengan kain atau perban yang steril agar tetap terlindungi.
3. Konsumsi Obat Pereda Nyeri Jika Diperlukan
Jika luka terasa nyeri, dapat mengonsumsi obat pereda nyeri sederhana seperti paracetamol sesuai dosis.
4. Segera Periksakan Diri Ke Fasilitas Kesehatan Terdekat
Jangan menunda, segera datangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Dokter biasanya akan memberikan vaksin anti rabies (VAR) atau serum anti rabies (SAR) sesuai dengan tingkat keparahan luka.
Pentingnya Penanganan Pertama pada Rabies
Langkah sederhana di atas bisa menjadi penyelamat, karena rabies merupakan penyakit yang hampir selalu berakibat fatal jika gejala klinis sudah muncul. Namun dengan penanganan cepat, risiko bisa ditekan secara signifikan.
Masyarakat juga disarankan agar tidak menyepelekan gigitan sekecil apapun dari hewan, baik hewan peliharaan maupun hewan liar.
Bahkan cakaran atau jilatan pada kulit yang luka terbuka pun bisa menjadi jalur penularan virus rabies.
Di Kalimantan Barat, kasus gigitan tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota.
Beberapa daerah seperti Sanggau, Landak, dan Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah kasus gigitan tertinggi.
Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Apabila korban gigitan terlambat ditangani, virus rabies akan menyerang sistem saraf pusat dan menimbulkan gejala serius seperti rasa takut berlebihan pada air (hidrofobia), kejang, dan akhirnya menyebabkan kematian.
Karena itu, kunci utama melawan rabies adalah pencegahan dan pertolongan pertama yang tepat. Tidak hanya dengan menjaga hewan peliharaan tetap sehat, tetapi juga dengan penanganan cepat ketika insiden terjadi.
Dengan meningkatnya kesadaran bersama, diharapkan angka kematian akibat rabies di Kalimantan Barat bisa terus ditekan, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hewan peliharaan. (dta/mgg)
Editor : Miftahul Khair