PONTIANAK POST - Banyak orang merasa mengantuk setelah makan dan memilih langsung berbaring. Padahal, kebiasaan ini dapat memicu gangguan pencernaan dan masalah kesehatan lainnya.
Sejumlah sumber kesehatan internasional seperti Healthline, Cleveland Clinic, dan Sleep Foundation menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan, sehingga tidur terlalu cepat setelah menyantap asupan dapat mengganggu proses tersebut.
Pemahaman mengenai apa yang terjadi dalam tubuh setelah makan sangat penting agar kita tidak meremehkan dampaknya.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Tidur Setelah Makan?
Setelah asupan masuk ke lambung, tubuh mulai bekerja mencerna dan mengolah nutrisi. Pada kondisi normal, gravitasi membantu asupan bergerak dari lambung ke usus.
Namun, saat seseorang langsung berbaring setelah menyantap asupan, gravitasi tidak berperan sehingga asupan dan asam lambung dapat terdorong kembali ke kerongkongan.
Inilah alasan mengapa banyak orang mengalami rasa panas di dada atau mulut terasa asam. Sistem pencernaan bekerja keras, tetapi posisi tubuh yang tidak mendukung membuat prosesnya terganggu.
Dampak bagi Sistem Pencernaan
Kebiasaan tidur setelah makan dapat menimbulkan sejumlah keluhan pencernaan.
Sebagaimana dijelaskan oleh pakar gastrointestinal di situs medis terpercaya, kondisi berbaring setelah makan membuat katup antara lambung dan kerongkongan lebih mudah terbuka, sehingga asam lambung naik dan menyebabkan sensasi terbakar di dada atau disebut heartburn.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Selain itu, pencernaan menjadi lambat, memicu rasa penuh, kembung, dan nyeri ulu hati.
Pengaruh terhadap Kualitas Tidur
Selain mengganggu pencernaan, tidur terlalu cepat setelah menyantap asupan juga dapat menurunkan kualitas istirahat malam.
Ketika tubuh masih aktif mencerna asupan, sistem internal tidak benar-benar beristirahat, sehingga tidur bisa menjadi gelisah dan tidak pulih sepenuhnya.
Banyak orang yang terbangun dengan rasa tidak nyaman di tenggorokan, perut begah, atau bahkan mimpi buruk akibat kondisi lambung yang bekerja keras saat tubuh seharusnya beristirahat.
Potensi Risiko Lainnya
Kebiasaan ini berpotensi berpengaruh terhadap berat badan, terutama bila terjadi berulang. Ketika tubuh dalam kondisi tidak aktif, pembakaran energi menurun, sehingga asupan lebih mudah disimpan sebagai lemak.
Pada orang dengan masalah pencernaan atau obesitas, risiko refluks asam dan ketidaknyamanan lambung semakin tinggi.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tidur terlalu dekat dengan waktu menyantap asupan dapat mengganggu pengendalian gula darah, terutama pada individu dengan diabetes atau pradiabetes.
Rekomendasi Kebiasaan Sehat Setelah Makan
Para ahli kesehatan menyarankan memberi jeda sekitar 2–3 jam setelah makan sebelum tidur. Selama jeda tersebut, pilihan terbaik adalah melakukan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau merapikan rumah untuk membantu pencernaan bekerja optimal.
Bila merasa sangat mengantuk setelah menyantap asupan, istirahat sejenak dalam posisi duduk yang tegak lebih baik dibanding langsung berbaring.
Selain itu, memilih porsi makan lebih kecil pada malam hari dan menghindari makanan tinggi lemak, pedas, dan berminyak dapat membantu mencegah keluhan pencernaan. (*)
Editor : Miftahul Khair