Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mitos dan Fakta Vasektomi Tubektomi yang Masih Sering Disalahpahami

Chairunnisya • Minggu, 3 Mei 2026 | 21:06 WIB
Dokter melakukan tindakan tubektomi pada salah seorang pasien. Masalah kesehatan bisa menjadi alasan untuk menjalani prosedur tersebut. (DOK JAWAPOS)
Dokter melakukan tindakan tubektomi pada salah seorang pasien. Masalah kesehatan bisa menjadi alasan untuk menjalani prosedur tersebut. (DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Perencanaan keluarga tidak selalu soal menunda kehamilan.

Bagi sebagian pasangan, keputusan untuk tidak memiliki anak lagi menjadi langkah penting yang perlu dipahami dengan matang.

Ketika pasangan suami istri (pasutri) tak ingin punya anak lagi, kontrasepsi mantap seperti vasektomi atau tubektomi bisa menjadi pilihan.

Namun, minimnya informasi membuat masih banyak mitos yang membayangi kedua metode tersebut. Karena itu, penting memahami prosedur yang benar agar sesuai dengan perencanaan keluarga.

Baca Juga: Memilih Alat Kontrasepsi Sesuai Usia, Kondisi, Risiko, hingga Program Hamil

Menurut Dr dr Budi Prasetyo SpOG(K), dokter spesialis kebidanan dan kandungan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), vasektomi dan tubektomi termasuk kontrasepsi mantap.

Yakni, metode jangka panjang yang bertujuan mencegah kehamilan secara permanen.

’’Keduanya bersifat irreversible. Sebelum memutuskan, harus dipahami betul bahwa ini adalah keputusan jangka panjang,’’ jelasnya, dilansir dari Jawapos.

Baca Juga: Keunikan Alat Kontrasepsi yang Jarang Diketahui: Dari Bahan hingga Teknologi

Bukan Keputusan Sepihak

Keputusan memilih vasektomi atau tubektomi sebaiknya tidak diambil secara sepihak. Komunikasi antara suami dan istri menjadi hal yang sangat penting.

’’Bukan keputusan sepihak ya. Dengan begitu, tanggung jawab dalam perencanaan keluarga bisa dirasakan kedua belah pihak,’’ lanjutnya.

Umumnya, tindakan ini dipilih oleh pasangan yang merasa jumlah anak sudah cukup, biasanya setelah memiliki dua anak atau lebih.

Baca Juga: Hari Ini, Hari Kontrasepsi Sedunia, Bagaimana Sejarahnya?

Pada perempuan, prosedur ini juga dapat dipertimbangkan jika kehamilan berikutnya berisiko bagi kesehatan ibu. Meski begitu, keputusan tetap tidak boleh diambil secara tergesa-gesa.

Tidak Ganggu Fungsi Seksual

Di masyarakat, masih banyak anggapan keliru terkait vasektomi dan tubektomi.

Salah satunya adalah anggapan bahwa prosedur ini dapat mengurangi kejantanan atau membuat seseorang tidak bisa berhubungan seksual.

Baca Juga: Program BKKBN Tak Sebatas Kontrasepsi

Budi menegaskan, ’’Itu tidak benar. Kedua prosedur ini tidak mengganggu fungsi seksual maupun identitas gender.’’

Sebaliknya, kontrasepsi mantap justru dapat memberikan ketenangan bagi pasangan karena tidak lagi dihantui kekhawatiran akan kehamilan yang tidak direncanakan.

Meski bersifat permanen, terdapat prosedur rekanalisasi atau penyambungan kembali, baik pada tuba falopi maupun vas deferens. Namun, tingkat keberhasilannya tidak selalu pasti.

’’Angka keberhasilan rekanalisasi tuba bervariasi antara 50 sampai 80 persen, tergantung teknik yang digunakan, usia, dan kondisi kesehatan reproduksi pasien,’’ jelas dosen Fakultas Kedokteran Unair tersebut. (*)

Editor : Chairunnisya
#tubektomi #KB #vasektomi #hamil #kontrasepsi