Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dokter Ungkap Alasan Cuci Tangan Harus Pakai Sabun, Air Saja Tak Cukup!

Miftahul Khair • Senin, 18 Mei 2026 | 14:39 WIB
Ilustrasi cuci tangan. (MAGNIFIC)
Ilustrasi cuci tangan. (MAGNIFIC)

PONTIANAK POST — Kebiasaan mencuci tangan dinilai masih sering dilakukan secara kurang tepat. Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi Ph.D Sp.A(K), mengingatkan bahwa mencuci tangan harus menggunakan sabun dan air mengalir agar kuman benar-benar hilang dan tidak menularkan penyakit.

“Kenapa cuci tangan itu harus pakai sabun? Karena tangan kita itu merupakan tempat yang mudah untuk menularkan penyakit, walaupun tidak kelihatan tapi di situ banyak kumannya,” kata Mei dikutip dari Antara.

Menurutnya, tangan menjadi media paling mudah dalam penyebaran bakteri, virus, dan berbagai organisme penyebab infeksi karena sering bersentuhan dengan banyak benda maupun manusia lain.

Baca Juga: Kulit Tangan Mengelupas Setelah Cuci Piring? Ini Penyebab dan Cara Pencegahannya, Jangan Anggap Sepele!

Air Saja Tidak Cukup Membunuh Kuman

Prof. Mei menjelaskan, sabun memiliki peran penting untuk mengurai lapisan pelindung kuman sehingga organisme tersebut dapat dimusnahkan secara lebih efektif.

“Kalau cuma air saja maka kuman atau bakteri itu tidak akan mati, masih menempel,” ujarnya.

Ia menekankan, mencuci tangan tanpa sabun hanya membersihkan permukaan tangan secara terbatas dan tidak cukup efektif untuk menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit.

Karena itu, penggunaan sabun menjadi langkah penting dalam menjaga kebersihan sekaligus mencegah penularan infeksi, terutama pada anak-anak yang rentan terpapar kuman saat beraktivitas.

Baca Juga: ANTAM Dorong Aksi Sehat Cegah Stunting, Gencarkan Kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun

Pentingnya Menggunakan Air Mengalir saat Cuci Tangan

Selain penggunaan sabun, Prof. Mei juga menyoroti pentingnya air mengalir saat mencuci tangan. Menurut dia, penggunaan air secara bersama-sama justru bisa menjadi media perpindahan kuman dari satu orang ke orang lain.

Ia mencontohkan kebiasaan lama ketika anak-anak mencuci tangan bersama di satu baskom air.

“Kalau bisa menggunakan keran tapi kalau belum ada keran boleh pakai tempat penampung air lalu dialirkan pakai gayung. Intinya air tidak boleh dipakai bersama-sama karena akan menularkan dari satu orang ke orang lain,” paparnya.

Praktik mencuci tangan menggunakan air yang sama dinilai berisiko karena kuman yang terlepas dari tangan seseorang bisa berpindah dan menempel pada orang lain.

Kebiasaan Cuci Tangan Jadi Perubahan Besar Sejak Pandemi COVID-19

Edukasi mengenai pentingnya mencuci tangan sebenarnya sudah lama digaungkan pemerintah. Sejak tahun 2000, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) rutin mengampanyekan kebiasaan mencuci tangan sebagai langkah dasar menjaga kesehatan masyarakat.

Namun, kebiasaan tersebut semakin masif diterapkan sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia.

Baca Juga: Pentingnya Cuci Tangan dengan Sabun dan Cara Tepat Melakukannya

Pandemi membuat masyarakat lebih sadar bahwa kebersihan tangan menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan penyebaran virus dan penyakit menular lainnya.

Karena itu, Kemenkes terus mengimbau masyarakat agar mempertahankan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Cuci Tangan Jadi Langkah Sederhana yang Berdampak Besar

Di tengah tingginya risiko penularan penyakit infeksi, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dinilai memiliki dampak besar bagi kesehatan masyarakat.

Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain, terutama anak-anak dan kelompok rentan. (*)

Editor : Miftahul Khair
#air saja tidak cukup #cuci tangan #dokter anak #Sabun