PONTIANAK POST - Daun kratom semakin sering diperbincangkan karena disebut memiliki manfaat kesehatan, mulai dari meredakan nyeri hingga meningkatkan mood.
Namun di balik popularitasnya, tanaman herbal asal Asia Tenggara ini juga memiliki risiko efek samping hingga potensi ketergantungan yang perlu diwaspadai.
Apa Itu Daun Kratom?
Melansir Halodoc, kratom atau Mitragyna speciosa merupakan tanaman yang masih satu keluarga dengan kopi dan banyak ditemukan di Indonesia, Thailand, serta Malaysia.
Baca Juga: Kasus Pencurian Kratom di Putussibau Terbongkar, Polisi Amankan Pelaku dan Barang Bukti 950 Kg
Masyarakat tradisional di Asia Tenggara telah lama memanfaatkan daun kratom sebagai obat herbal.
Daunnya biasanya dikeringkan lalu diseduh menjadi teh, dikunyah langsung, atau diolah menjadi bubuk dan suplemen.
Mengandung Senyawa Alkaloid
Daun kratom mengandung sejumlah senyawa alkaloid yang dipercaya memiliki efek terhadap tubuh.
Salah satu kandungan utamanya adalah mitragynine yang disebut memiliki efek kuat terhadap sistem saraf. Selain itu terdapat 7-hydroxymitragynine yang dikenal memiliki efek analgesik atau pereda nyeri.
Beberapa senyawa lain seperti speciociliatine, speciogynine, hingga paynantheine juga disebut berperan dalam meningkatkan energi, suasana hati, dan membantu mengurangi rasa sakit.
Disebut Bisa Redakan Nyeri
Kratom dikenal memiliki efek pereda nyeri karena senyawanya bekerja pada reseptor opioid di otak.
Terdapat beberapa jenis kratom seperti vena merah, vena hijau, dan vena putih yang masing-masing dipercaya memiliki efek berbeda.
Meski bekerja mirip opioid seperti morfin dan kodein, sebagian ahli menyebut kratom sebagai opioid atipikal karena mekanismenya dianggap lebih selektif.
Berpotensi Tingkatkan Mood
Selain meredakan nyeri, daun kratom juga sering digunakan untuk membantu meningkatkan suasana hati.
Sebagian pengguna memanfaatkannya untuk membantu mengurangi gejala putus zat opioid dan meredakan stres.
Beberapa penelitian awal juga menyebut kratom berpotensi memiliki efek antidepresan karena dapat memengaruhi hormon kortikosteron yang berkaitan dengan depresi. Namun manfaat ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Bisa Dikonsumsi dengan Berbagai Cara
Daun kratom dapat digunakan dengan berbagai metode, mulai dari diseduh menjadi teh, dikunyah, diasapi, hingga diolah menjadi suplemen berbentuk kapsul atau bubuk.
Namun penggunaan dalam bentuk apa pun tetap perlu diperhatikan dosis dan keamanannya.
Punya Risiko Efek Samping
Meski memiliki sejumlah manfaat, kratom juga dapat menimbulkan efek samping terutama bila dikonsumsi dalam dosis tinggi atau jangka panjang.
Beberapa efek samping yang sering dilaporkan antara lain:
- mual
- sembelit
- pusing
- mulut kering
- berkeringat
- gatal
Pada kondisi tertentu, kratom juga dapat memicu halusinasi, kejang, hingga gangguan hati.
Bisa Menyebabkan Ketergantungan
Penggunaan kratom dalam jangka panjang juga berpotensi menyebabkan gejala ketergantungan dan putus zat.
Gejalanya dapat berupa:
- agresif
- gelisah
- nyeri otot
- sulit bekerja
- gerakan tubuh tidak terkendali
Karena itu, penggunaan kratom perlu dilakukan dengan hati-hati dan tidak berlebihan.
Baca Juga: Kalbar Dinilai Tertinggal dalam Hilirisasi Kratom karena Kendala Regulasi
Benarkah Kratom Bisa Memabukkan?
Kratom memang dapat memberikan efek psikoaktif, terutama pada dosis tinggi.
Pada dosis rendah, efeknya lebih mirip kafein seperti meningkatkan energi dan mood.
Namun dalam dosis besar, kratom dapat menimbulkan rasa rileks, euforia, dan efek memabukkan yang menyerupai opioid.
Efek tersebut berasal dari kandungan mitragynine yang bekerja pada sistem saraf pusat.
Jangan Jadikan Pengobatan Utama
Meski kratom telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, penelitian ilmiah mengenai keamanan dan efektivitasnya masih terus berkembang.
Karena itu, daun kratom sebaiknya tidak dijadikan pengobatan utama tanpa pengawasan tenaga medis, terutama mengingat risiko efek samping dan ketergantungannya. (*)
Editor : Miftahul Khair