PONTIANAK POST - Tidak semua tanaman yang tumbuh liar layak disingkirkan. Salah satunya adalah krokot.
Tanaman yang sering dianggap gulma ini ternyata menyimpan kandungan gizi melimpah sehingga dikenal sebagai salah satu superfood yang bermanfaat bagi kesehatan.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil MS, menjelaskan bahwa krokot (Portulaca oleracea) merupakan tanaman dari suku Portulacaceae yang juga dikenal dengan nama purslane.
Baca Juga: Tongkat Ali dan Tiga Pilar Herbal untuk Menjaga Vitalitas Pria
Bukan Sekadar Gulma
Krokot memiliki daun berbentuk seperti sendok berwarna hijau terang, batang kemerahan, serta mengandung banyak air.
Seluruh bagian tanaman, mulai batang, daun, hingga bunganya, dapat dikonsumsi.
Rasanya sedikit asam dengan tekstur agak renyah sehingga sering digunakan sebagai bahan salad, sup, maupun campuran saus tomat.
Baca Juga: Ini Kelompok Herbal Yang Mendukung Kesehatan Reproduksi Wanita Secara Alami
Saat dimasak, krokot juga menghasilkan lendir sehingga kerap dimanfaatkan sebagai bahan pengental masakan.
Menurut Prof. Mangestuti Agil, tanaman ini bahkan telah lama dikenal dalam berbagai pengobatan tradisional.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan krokot sebagai salah satu tanaman yang paling banyak digunakan di dunia.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, krokot dikenal sebagai tanaman yang memiliki karakter pembersih panas dan penghilang toksin.
Pemanfaatannya digunakan untuk berbagai masalah kesehatan, seperti bisul, gigitan serangga, wasir berdarah, buang air besar berdarah, eksim, erysipelas, hingga perdarahan tidak normal pada organ reproduksi wanita.
Sementara masyarakat Nepal memanfaatkan daun dan bijinya untuk membantu mengatasi keluhan jantung dan pembuluh darah.
Kaya Air, Protein, Vitamin, dan Mineral
Baca Juga: Tren Kembali ke Alam Dorong Masyarakat Memilih Herbal Tradisional
Menurut Prof. Mangestuti Agil, salah satu alasan krokot dijuluki sebagai superfood adalah karena kandungan gizinya yang sangat lengkap.
Tanaman ini mengandung sekitar 88 persen air, serta kaya karbohidrat, protein, asam lemak, asam amino, karotenoid, vitamin, dan berbagai mineral.
Di antara seluruh kandungan tersebut, asam lemak omega-3 menjadi komponen yang paling banyak mendapat perhatian.
Baca Juga: Ternyata Pegagan Bisa Jadi Herbal Adaptogen Penjaga Keseimbangan Tubuh Saat Stres
Dijuluki Sayuran Panjang Umur
Kekayaan nutrisi tersebut membuat masyarakat Tiongkok mengenal krokot sebagai "longevity vegetable" atau sayuran untuk panjang umur.
Menurut Prof. Mangestuti Agil, krokot mengandung lebih dari 27 jenis asam lemak. Beberapa yang paling dominan adalah palmitic acid, linolenic acid, dan oleic acid.
Kandungan asam lemak, terutama linolenic acid, bahkan lebih tinggi dibandingkan beberapa sayuran hijau seperti bayam maupun selada air.
Baca Juga: Seledri dan Kumis Kucing, Herbal Tradisional yang Banyak Dipakai untuk Hipertensi
Selain itu, krokot juga mengandung berbagai asam amino esensial, seperti leucine, valine, phenylalanine, isoleucine, threonine, histidine, dan methionine.
"Asam amino esensial sangat vital bagi pembentukan otot dan hormon, pengaturan fungsi sistem imun, dan perbaikan jaringan tubuh (2024)."
Prof. Mangestuti Agil menjelaskan bahwa perubahan kadar asam lemak pada krokot dapat dipengaruhi usia panen, tipe tanaman, serta kondisi lingkungan tempat tumbuhnya.
Karena itu, waktu panen menjadi salah satu faktor penting untuk mendapatkan kandungan nutrisi yang optimal.
Tanaman yang selama ini sering dianggap gulma tersebut ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber pangan bergizi tinggi yang layak dimanfaatkan masyarakat. (*)
Editor : Chairunnisya