Kenali Masalah Vagina yang Paling Sering Terjadi dan Kapan Harus ke Dokter

Chairunnisya • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 12:15 WIB
Ilustrasi nyeri di vagina. (FREEPIK)
Ilustrasi nyeri di vagina. (FREEPIK)

PONTIANAK POST - Kesehatan vagina merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi dan kualitas hidup perempuan.

Kondisi vagina tidak hanya memengaruhi kenyamanan sehari-hari dan kehidupan seksual, tetapi juga dapat berdampak pada kesuburan, kehamilan, hingga kesehatan secara keseluruhan.

Karena itu, penting untuk mengenali perubahan yang masih tergolong normal sekaligus memahami tanda-tanda yang memerlukan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele, Ini Berbagai Faktor yang Memengaruhi Kesehatan Miss V

Menurut Mayo Clinic, ada beberapa gangguan vagina yang paling sering terjadi dan perlu dikenali sejak dini.

1. Vaginitis, Peradangan yang Memicu Keputihan dan Gatal

Vaginitis merupakan peradangan pada vagina yang dapat disebabkan oleh infeksi maupun perubahan keseimbangan bakteri dan jamur alami.

Gejalanya dapat berupa keputihan, bau yang tidak biasa, rasa gatal, hingga nyeri. Beberapa bentuk vaginitis yang sering ditemukan meliputi infeksi jamur dan trikomoniasis.

Baca Juga: Ginseng Berpotensi Mendukung Kesehatan Reproduksi dan Fungsi Seksual Pria

2. Bacterial Vaginosis Akibat Ketidakseimbangan Bakteri

Bacterial vaginosis terjadi ketika keseimbangan bakteri alami di dalam vagina terganggu.

Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan keputihan disertai munculnya bau yang tidak biasa. Menurut Mayo Clinic, menstruasi, hubungan seksual, maupun kebiasaan membersihkan bagian dalam vagina (douching) dapat meningkatkan risikonya.

3. Infeksi Menular Seksual Juga Dapat Menyerang Vagina

Baca Juga: Ini Kelompok Herbal Yang Mendukung Kesehatan Reproduksi Wanita Secara Alami

Berbagai infeksi menular seksual (IMS) juga dapat memengaruhi kesehatan vagina.

Infeksi seperti klamidia, gonore, herpes genital, sifilis, dan kutil kelamin dapat menimbulkan luka pada area genital maupun perubahan cairan vagina. Namun, beberapa infeksi juga dapat berlangsung tanpa gejala sehingga sering tidak disadari.

4. Gangguan Dasar Panggul Dapat Menyebabkan Prolaps

Masalah lain yang dapat terjadi adalah gangguan dasar panggul.

Kondisi ini muncul ketika otot, ligamen, dan jaringan penyangga panggul melemah sehingga organ seperti rahim, kandung kemih, atau dinding vagina turun (prolaps).

Gejalanya dapat berupa benjolan pada vagina maupun kebocoran urine saat batuk atau bersin.

Baca Juga: Daun Kelor Membantu Memenuhi Nutrisi Kesehatan Reproduksi

5. Kista hingga Kanker Vagina

Selain gangguan yang lebih umum, vagina juga dapat mengalami kista maupun kanker vagina, meski kanker vagina tergolong jarang.

Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah perdarahan setelah menopause atau perdarahan setelah berhubungan seksual.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Baca Juga: Ini Kelompok Herbal Yang Mendukung Kesehatan Reproduksi Wanita Secara Alami

Disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami perubahan warna, bau, atau jumlah keputihan, gatal atau perubahan pada kulit di sekitar vagina, dan perdarahan di luar menstruasi, setelah berhubungan seksual atau setelah menopause. 

Selain itu, segera berkonsultasi jika terdapat benjolan pada vagina, nyeri saat berhubungan seksual, dan kesulitan menggunakan tampon.

Tidak Semua Keputihan Memerlukan Pemeriksaan Segera

Meski demikian, tidak semua iritasi atau keputihan memerlukan pemeriksaan segera.

Baca Juga: Kunyit Asam Minuman Tradisional Kaya Manfaat untuk Kesehatan Reproduksi dan Imunitas

Apabila seseorang pernah didiagnosis mengalami infeksi jamur vagina dan mengalami gejala yang sama, pengobatan yang pernah direkomendasikan dokter dapat dicoba kembali.

Namun, jika keluhan tidak membaik, pemeriksaan medis tetap diperlukan.

Mengenali berbagai gangguan vagina sejak dini dapat membantu memperoleh penanganan yang tepat sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius. (*)

Editor : Chairunnisya
Mayo Clinic vaginitis bacterial vaginosis infeksi menular seksual kesehatan vagina