Kapan Rambut Rontok Menjadi Tanda Penyakit? Ini Penjelasan Dokter Kulit

Chairunnisya • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 08:31 WIB
ilustrasi rambut rontok kurang nutrisi.
ilustrasi rambut rontok kurang nutrisi.

PONTIANAK POST - Menemukan rambut rontok di sisir atau lantai kamar mandi sering membuat banyak orang khawatir.

 Padahal, kerontokan rambut dalam jumlah tertentu merupakan proses alami yang dialami setiap orang. Yang terpenting adalah mengenali kapan kondisi tersebut masih tergolong normal dan kapan perlu mendapatkan pemeriksaan medis.

Dilansir dari Jawapos, dokter spesialis kulit dan kelamin RS Royal Surabaya, dr Agustina Tri Pujiastuti SpDVE FINSDV, menjelaskan bahwa seseorang umumnya kehilangan sekitar 50–100 helai rambut setiap hari.

Baca Juga: Tips Merawat Rambut Sehat di Balik Hijab agar Bebas Lepek dan Rontok

"Bisa dilihat apakah ada suatu kejadian yang menyebabkan stres antara lain melahirkan, sempat demam, atau baru menjalani operasi. Biasanya saat tubuh sudah beradaptasi, kerontokan akan membaik dengan sendirinya dalam 6–9 bulan," papar dr Agustina.

Waspadai Jika Kerontokan Berlebihan

Meski termasuk normal, kerontokan rambut perlu mendapat perhatian apabila jumlahnya melebihi 100 helai per hari atau tidak kunjung membaik dalam waktu enam hingga sembilan bulan.

Baca Juga: Rambut Rontok Bisa Dicegah! Ini Tips Sederhana yang Jarang Orang Tahu

Menurut dr Agustina, kondisi tersebut sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk mengetahui apakah kerontokan menjadi gejala penyakit tertentu.

Beberapa penyakit yang dapat berkaitan dengan rambut rontok antara lain lupus, sifilis, maupun gangguan hormon tiroid.

Penyebab Rambut Rontok Beragam

Penyebab rambut rontok tidak selalu sama. Salah satunya adalah alopecia areata, yaitu kerontokan akibat kelainan autoimun.

Baca Juga: 5 Penyebab Utama Rambut Rontok dan Cara Mengatasinya Menurut Ahli

"Kerontokan rambut yang disebabkan kelainan autoimun disebut alopecia areata. Biasanya polanya lokal jadi seperti pitak di bagian tertentu saja," jelas dokter spesialis kulit dan kelamin RS Royal Surabaya itu.

Selain itu terdapat telogen effluvium, yaitu kerontokan yang terjadi secara merata akibat gangguan siklus pertumbuhan rambut, misalnya setelah tubuh mengalami stres atau baru pulih dari penyakit infeksi.

Sementara alopecia androgenetik berkaitan dengan faktor genetik dan hormon androgen.

"Kemudian, ada alopecia androgenetik yang kaitannya dengan genetik dan hormon androgen. Bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan yang ditandai dengan penipisan rambut dengan pola tertentu," lanjutnya.

Pada anak-anak, kerontokan rambut lebih sering dipicu infeksi jamur di kulit kepala. Rambut rontok juga dapat dipengaruhi efek samping obat maupun kebiasaan mengikat rambut terlalu kencang.

Baca Juga: Pusing Rambut Rontok Terus? Coba Terapkan Gaya Hidup Sehat Ini

"Rontok akibat penggunaan obat atau produk rambut yang tidak cocok dan kebiasaan sering mengikat rambut terlalu kencang dapat membaik jika semua itu dihentikan," ungkapnya. (*)

Editor : Chairunnisya
dokter kulit alopecia rambut rontok penyebab rambut rontok kesehatan rambut