Kelompok Rentan Diminta Waspadai Risiko Heat Stroke Saat Cuaca Panas

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:36 WIB
Arsip Foto - Pekerja menurunkan material untuk pembangunan sekolah di Rowosari, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (14/7/2026). Orang yang bekerja di luar ruangan seperti pekerja konstruksi lebih berisiko terkena dampak paparan panas. (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)
Arsip Foto - Orang yang bekerja di luar ruangan seperti pekerja konstruksi lebih berisiko terkena dampak paparan panas. (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

PONTIANAK POST - Dokter spesialis penyakit dalam Faisal Parlindungan dari Rumah Sakit Universitas Indonesia mengingatkan sejumlah kelompok yang rentan mengalami heat stroke atau serangan panas ketika cuaca bersuhu tinggi.

Faisal Parlindungan, Sp.PD mengatakan, kelompok tersebut meliputi lansia, bayi dan anak-anak, pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, serta orang yang melakukan aktivitas fisik berat di luar ruangan.

Selain itu, ibu hamil, individu dengan keterbatasan fisik, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu juga berisiko mengalami serangan panas. Penggunaan obat tertentu juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas.

Karena itu, pasien yang menjalani pengobatan rutin disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mengantisipasi dampak paparan panas selama musim kemarau.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS. menambahkan, pekerja yang melakukan aktivitas fisik berat di lingkungan panas memiliki risiko lebih tinggi mengalami heat stroke.

"Pekerja-pekerja pabrik terutama, apalagi kalau di dalam ruangan pabrik tersebut memang tidak didukung dengan kondisi udara yang adem atau kondisi udara yang nyaman. Pengap, panas itu membawa risiko besar," katanya.

Menurut Hermawan, atlet serta tentara dan polisi yang menjalankan tugas berat di area terbuka juga memiliki risiko tinggi terkena dampak paparan panas.

Kurangi Paparan Panas dan Penuhi Kebutuhan Cairan

Faisal menyarankan masyarakat mengurangi paparan panas secara langsung. Aktivitas fisik berat sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika suhu udara tidak terlalu tinggi.

Kebutuhan cairan juga perlu dipenuhi dengan minum secara teratur. Penggunaan pakaian ringan dan longgar serta pelindung seperti payung atau topi dapat membantu mengurangi dampak paparan panas.

Orang yang mengalami pusing, lemas, mual, sakit kepala, atau kram otot ketika beraktivitas di luar ruangan saat cuaca panas dianjurkan segera menghentikan kegiatan dan berpindah ke tempat teduh.

Hermawan mengatakan, pencegahan serangan panas dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan cairan dan menghindari paparan langsung sinar matahari dalam waktu lama.

"Yang paling penting juga cuaca seperti ini tentu mengurangi aktivitas yang paparan matahari langsung," katanya.

Bagi mereka yang harus bekerja di area terbuka, seperti tentara dan polisi, Hermawan menyarankan penggunaan pakaian lengan panjang dan topi, serta memilih warna pakaian yang lebih terang.

Ia juga menekankan pentingnya pengelola pabrik dan fasilitas produksi menyediakan lingkungan kerja dengan sirkulasi udara yang baik serta suhu yang terkontrol. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
pekerja luar ruangan anak-anak heat stroke aktivitas fisik lansia