PONTIANAK POST - Menjalani program diet membutuhkan perhatian terhadap perubahan yang terjadi dalam tubuh.
Selain melihat keberhasilan penurunan berat badan, masyarakat juga perlu memahami tanda-tanda yang menunjukkan adanya gangguan kesehatan.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah terbentuknya batu empedu, terutama ketika berat badan turun secara drastis dalam waktu singkat.
Baca Juga: Diet Sehat Bukan Tentang Tren, Tetapi Membangun Pola Makan Berkelanjutan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSIA NUN Surabaya, dr Putu Anisya Purnamasari SpPD, mengatakan perubahan metabolisme akibat penurunan berat badan ekstrem dapat meningkatkan risiko terbentuknya endapan pada kantong empedu.
Nyeri Perut Kanan Atas Menjadi Tanda Awal
Menurut Anisya, salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah munculnya nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian perut kanan atas. Keluhan tersebut terutama muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan berlemak.
"Itu bisa menjadi rambu-rambu adanya endapan di kantong empedu. Sebaiknya segera diperiksa ke dokter," ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Kenali Proses Pembentukan Batu Empedu Akibat Penurunan Berat Badan Ekstrem
Keluhan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat menjadi tanda awal adanya gangguan pada kantong empedu.
Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang kondisi dapat ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Pemeriksaan Membantu Mengetahui Kondisi Empedu
Untuk memastikan adanya gangguan batu empedu, diperlukan pemeriksaan medis. Anisya menjelaskan, pemeriksaan dapat dilakukan melalui USG abdomen. Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT, SGPT, dan bilirubin.
Baca Juga: Diet Ekstrem Turunkan Berat Badan Cepat, Risiko Batu Empedu Mengintai Kesehatan
Pemeriksaan tersebut membantu mengetahui kondisi organ terkait dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Dari Endapan hingga Batu Empedu
Pembentukan batu empedu tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut Anisya, proses tersebut diawali oleh kondisi gallbladder sludge atau endapan kristal di kantong empedu.
Pada tahap awal tersebut, kondisi masih memiliki peluang kembali normal apabila penyebabnya segera ditangani. Namun, apabila endapan berkembang hingga membentuk inti batu, pilihan pengobatan menjadi lebih terbatas.
Baca Juga: Ahli Gizi Ingatkan Risiko Diet Ekstrem bagi Tubuh Usia 40 Tahun Ke Atas
"Kalau inti batu sudah terbentuk, pengobatan lebih terbatas dan tidak semua pasien bisa diobati dengan obat pelarut batu," jelasnya.
Penanganan Bergantung pada Kondisi Pasien
Apabila batu empedu sudah terbentuk dan menimbulkan keluhan seperti nyeri berulang, tindakan operasi umumnya menjadi pilihan terapi.
Sementara pada batu empedu yang belum menimbulkan gejala, dokter biasanya melakukan observasi dan pemantauan berkala. Hal tersebut dilakukan karena batu tetap memiliki kemungkinan berpindah dan menyumbat saluran empedu.
Baca Juga: Perut Buncit Tak Kunjung Hilang? Dr Zaidul Akbar Ungkap Cara Alami Tanpa Olahraga dan Diet Ribet
Dengarkan Sinyal Tubuh Saat Diet
Anisya mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berfokus pada target berat badan. Diet yang sehat harus mempertimbangkan kondisi tubuh, kebutuhan nutrisi, serta perubahan yang terjadi selama proses penurunan berat badan.
Dengan mengenali gejala sejak awal dan melakukan pemeriksaan ketika muncul keluhan, risiko gangguan kesehatan akibat diet ekstrem dapat lebih diantisipasi.
Baca Juga: Diet Efektif Tanpa Lapar dan Lemas: 3 Tips Agar Tubuh Sehat dan Bertenaga
Sebab, tujuan utama menjalani diet bukan hanya mendapatkan angka ideal di timbangan, tetapi membangun tubuh yang lebih sehat melalui kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. (*)
Editor : Chairunnisya