PONTIANAK POST — PT Mayawana Persada memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menyiagakan 170 personel di delapan posko pemadam serta memperketat pengelolaan tata air gambut di wilayah operasionalnya di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Langkah ini dilakukan di tengah ancaman musim kemarau dan fenomena El Niño. Selain mempercepat pemadaman, perusahaan memperkuat pencegahan melalui pemantauan hotspot secara real-time, patroli darat, pengaturan tinggi muka air (TMA) gambut, dan pelibatan masyarakat.
Direktur PT Mayawana Persada Iwan Budiman mengatakan penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pencegahan agar kebakaran tidak meluas.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujarnya, Selasa (25/8).
Menurut Iwan, kondisi kawasan terus dievaluasi untuk menentukan langkah pencegahan yang perlu diperkuat. Pemantauan titik panas dilakukan melalui platform SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang disinkronkan dengan patroli darat harian.
170 Personel Disiagakan
PT Mayawana Persada mengerahkan tujuh regu inti dan pendukung dengan total 170 personel yang ditempatkan di delapan posko pemadam.
Kesiapan itu didukung peralatan pemadaman, menara pantau, drone, pesawat nirawak vertical take-off and landing (VTOL), CCTV, serta 74 water point yang tersebar di empat sektor operasional.
Patroli dilakukan 24 jam. Saat api ditemukan, tim langsung melakukan pemadaman dan membuat sekat bakar sesuai kondisi lapangan. Setelah api padam, petugas melakukan pendinginan dan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.
Menjaga Gambut Tetap Basah
Pengelolaan tata air menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla di lahan gambut.
Asisten Kepala Environment PT Mayawana Persada Agus Trijoko mengatakan kanal di dalam konsesi digunakan untuk mengatur distribusi air dan mempertahankan ketersediaannya.
“Melalui musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan,” jelasnya.
Perusahaan menjaga TMA rata-rata sekitar 40 sentimeter untuk mempertahankan kelembapan gambut tanpa menggenangi perakaran tanaman. TMA dipantau menggunakan sensor telemetri otomatis atau level logger.
Upaya tersebut penting karena gambut yang mengering lebih mudah terbakar. Api di lapisan bawah gambut juga sulit dideteksi dan dipadamkan karena dapat terus membara di bawah permukaan.
Libatkan Masyarakat
Pencegahan karhutla diperkuat melalui peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar kawasan.
Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR), PT Mayawana Persada menyerahkan sarana dan prasarana pemadam kebakaran kepada Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Desa tersebut merupakan desa binaan mitra konservasi Yayasan Palung dan berada di bentang alam Hutan Lindung Sungai Paduan.
Bantuan diterima Kepala Desa Padu Banjar Kasdy, didampingi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari Samsidar dan perwakilan Yayasan Palung Hendri Gunawan.
Perusahaan berharap peralatan itu dapat dirawat dan dimanfaatkan masyarakat untuk memperkuat deteksi dini serta respons terhadap kebakaran di tingkat tapak.
Pulihkan Ekosistem Gambut
PT Mayawana Persada juga menjalankan rehabilitasi ekosistem gambut berdasarkan dokumen pemulihan gambut yang telah diverifikasi.
Asisten Sustainability PT Mayawana Persada Charia Salasari mengatakan revegetasi difokuskan pada jenis pohon endemik rawa gambut yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat.
Bibit dikembangkan di Revegetation Nursery internal sebelum ditanam di kawasan hutan.
“Melalui pola tanam berjarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur berkala setiap enam bulan, tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) bibit revegetasi kami saat ini telah mencapai sekitar 80 persen,” katanya.
Perusahaan juga mengusulkan peningkatan kawasan konservasi dari sekitar 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare melalui revisi Rencana Kerja Usaha (RKU). Usulan itu mencakup penguatan perlindungan bentang alam di wilayah selatan konsesi.
Asisten Kepala Sustainability PT Mayawana Persada Muharjan mengatakan perluasan kawasan konservasi diarahkan untuk memperkuat perlindungan ekosistem dan koridor satwa.
“Kawasan konservasi berkanopi rapat ini menjadi koridor jelajah yang aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya sekaligus memberi jaminan kelestarian ekologis bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Perusahaan menyatakan penguatan tim lapangan, tata air gambut, pelibatan masyarakat, dan pemulihan ekosistem menjadi bagian dari pengendalian karhutla berbasis sains.
Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat, mitra konservasi, dan masyarakat untuk mempercepat penanganan api serta menekan risiko kebakaran berulang. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro