PKM Faperta Untan: Transfer Teknologi Pertanian Berbasis Organik di Desa Parit Keladi II Sei Kakap
Hanif PP• Jumat, 1 Agustus 2025 | 09:45 WIB
Tim PKM Faperta Untan foto bersama usai pelatihan bersama warga.
PONTIANAK POST - Tim Pengabdian Kepada Masyarkaat (PKM) Fakultas Pertanian Untan sukses mengedukasi Kelompok Tani (Poktan) Bersatu Karya Tani di Desa Parit Keladi II Kecamatan Sei Kakap, Kabupaten Kubu Raya, untuk melakukan terobosan mengatasi kendala pertanian di lahan tanah sulfat masam. Poktan ini berhasil membudidayakan sayuran buah dan padi di atas lahan yang sebelumnya dianggap tidak subur dan sulit ditanami.
Tim PKM Fakultas Pertanian Untan tersebut beranggotakan empat orang. Terdiri dari Romiyanto, Rini Hazriani, Wanti Fitrianti, Urai Suci Yulies Vitrindrawati. Mereka memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada Poktan tentang teknologi pembuatan pupuk organik berbasis biochar sekam padi dan kompos enceng gondok yang diperkaya dengan pukan ayam.
Menurut Romiyanto, tanah sulfat masam diketahui memiliki berbagai permasalahan. Seperti kekurangan unsur hara makro dan mikro, kandungan bahan organik yang tinggi, serta adanya pirit (mineral sulfide). Tanah sulfat masam ini juga mengandung unsur logam berat seperti besi (Fe) dan aluminium (Al) yang bersifat racun bagi tanaman. Akibatnya, produktivitas pertanian di lahan jenis ini terus menurun dari tahun ke tahun.
Proses pencacahan dan pengolahan enceng gondok.
“Melalui program PKM, Poktan ini mendapatkan pelatihan dan penyuluhan dari kami. Enceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gulma karena memenuhi sungai dan parit-parit di wilayah Sei Kakap, kini justru dimanfaatkan sebagai bahan dasar kompos dari hasil pelatihan dan penyuluhan ini,” jelas Romiyanto.
Pelatihan yang diberikan mencakup proses penyiapan bahan baku, teknik pembakaran sekam menjadi biochar, penyiraman biochar, panen dan penyimpanan biochar. Untuk pelatihan pembuatan kompos enceng dongok menggunakan alat sederhana yaitu, bak komposter dan terpal. Selain itu, petani juga mendapatkan penyuluhan mengenai pentingnya biochar sekam padi sebagai amelioran tanah.
Sebelum mengikuti PKM, sebagian besar petani belum mengetahui apa itu biochar dan kompos enceng gondok, apalagi manfaatnya untuk pertanian. Namun setelah pelatihan selesai, sekitar 90 persen peserta mampu membuat biochar sendiri dengan benar, dan siap mengaplikasikannya di lahan pertanian masing-masing.
Proses pembakaran sekam untuk biochar
“Kami sangat terbantu. Dulu enceng gondok hanya jadi sampah di sungai. Sekarang kami bisa mengubahnya jadi pupuk dan meningkatkan kesuburan tanah kami,” ujar Usman Bali, Ketua Poktan Bersatu Karya Tani.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa dengan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat, lahan marginal seperti tanah sulfat masam pun dapat diolah secara produktif dan berkelanjutan. Ke depan, petani berharap dukungan serupa bisa terus dilanjutkan agar ketahanan pangan lokal semakin kuat.
Keberhasilan program ini tak lepas dari dukungan beberapa pihak. Untuk itu, Tim PKM Faperta Untan juga mengucapkan terimakasih kepada DRTPM Kemdikbudristek dan dukungan LPPM Untan. Atas dukungannya, kegiatan penyuluhan dan pelatihan di Desa Parit Keladi II Kecamatan Sui. Kakap berjalan dengan baik dan lancar. (vie/ser)