Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ikan Asin Kak Ros Tumpuan Perempuan Kubu Raya Tembus Mancanegara

Chairunnisya PP • Sabtu, 8 November 2025 | 21:11 WIB
Ibu-ibu hingga remaja putri sedang membelah ikan bilis segar yang akan diolah menjadi ikan asin. Ikan Asin Kak Ros menjadi UMKM yang menyokong ekonomi warga sekitar.
Ibu-ibu hingga remaja putri sedang membelah ikan bilis segar yang akan diolah menjadi ikan asin. Ikan Asin Kak Ros menjadi UMKM yang menyokong ekonomi warga sekitar.

Walau terletak di desa, usaha ikan asin Kak Ros milik Roslah mampu memberdayakan perempuan-perempuan dari kampung nelayan setempat. Bahkan, menjadi tumpuan hidup para tetangga. Penyokong kehidupan warga sekitar.

CHAIRUNNISYA, Pontianak Post

______

SINTA begitu gesit membelah ikan. Tidak ada raut lelah di wajah perempuan berusia 37 tahun ini. Baginya pekerjaan tersebut menyenangkan.

Sinta sudah belasan tahun kerja di Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah milik Roslah. Sejak masih duduk di bangku SMP hingga saat ini, sudah janda beranak satu.

Dia merupakan tetangga Roslah. Lingkungan kerja yang kondusif membuatnya betah. Apalagi perlakuan Roslah baik kepada pekerja sekaligus tetangganya.

Tak hanya Sinta. Ibunya, Jasimah juga bekerja di sana, walau usianya sudah lebih dari 60 tahun.

“Betah kerja di sini karena lebaran ada THR, kalau lagi kerja ditanggung makan tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. Lingkungan di sini juga enak kerjanya, sesama tetangga,” ujar Sinta yang mampu membelah ikan bilis sedikitnya 20 kilogram dalam sehari itu.

Usaha Ikan Asin Kak Ros milik Roslah berada di Dusun Merpati, Desa Sungai Kakap, Kubu Raya. Berjarak 14 km dari pusat kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat.

Di desa tersebut, sebanyak 75 persen warga menggantungkan hidup sebagai nelayan. Sepanjang perjalanan, di tepi sungai, kapal-kapal nelayan bersandar rapi, kebanyakan dari kapal itu baru saja pulang dari melaut.

Roslah yang kini berusia 42 tahun ini emiliki 12 karyawan yang semuanya perempuan dan menjadi salah satu usaha rumahan terbesar di sana. Dia merintis usahanya sejak tahun 2006.

Ikan asin Kak Ros menjadi penyokong ekonomi warga sekitar, terutama perempuan, yang bermata pencaharian sebagai pembelah ikan. Setiap hari, mereka memproduksi 50 kilogran ikan asin.

“Jika ikan tidak datang maka ibu-ibu di sini tidak bisa bekerja dan tidak mendapat upah harian. Tak jarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka akan pinjam uang terlebih dahulu. Nanti uangnya baru diganti saat ikan datang dan diambil dari upah mereka saat bekerja,” ungkap Roslah.

Pemasaran Ikan Asin Kak Ros dilakukan secara offline dan online. Roslah akan menitipkan produk ikan asinnya di toko oleh-oleh Pontianak, pasar tradisional  hingga pasar modern. Berbagai pameran di Kalimantan Barat juga sudah pernah diikuti.

Tak hanya di Kubu Raya, pemasarannya sudah ke luar kota dan luar negeri. Malaysia menjadi negara tetangga yang rutin memesan Ikan Asin Kak Ros.

"Setiap bulan ada pemesanan dari Malaysia, maksimal 5 kilogram sekali pesan,” ujar Roslah.

Ikan Asin Kak Ros merupakan salah satu upaya hilirisasi produk kelautan dan perikanan di Kalbar yang potensinya cukup melimpah. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam website resminya menyebutkan jumlah nelayan yang mencari ikan di laut di Kabupaten Bengkayang pada 2023 sebanyak 3.411 orang, Mempawah 3.015 orang, Ketapang 8.727 orang, Sambas 14.373 orang, Pontianak 2.996 orang, Kubu Raya 28.906 orang, Singkawang 2.063 orang, dan Kayong Utara 8.482 orang.

Sementara itu data Badan Pusat Statistik merilis Kalimantan Barat dalam Angka 2025, disebutkan produksi perikanan tangkap di laut untuk Kalbar sebanyak 162.638.383 kilogram.

Dari jumlah tersebut, Bengkayang sebanyak Bengkayang 8.995.752 kilogram, Mempawah 16.222.151 kilogram, Ketapang 26.762.284, Kayong Utara 23.777.925 kilogram, Kubu Raya 32.003.144 kilogram, Kota Pontianak 536.100 kilogram, dan Kota Singkawang 3.139.949 kilogram. 

Wakil Bupati Kubu Raya, Sukiryanto, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang disebutnya sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat. Menurutnya, UMKM bukan hanya berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

“UMKM memberikan kontribusi nyata terhadap penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena itu, kita perlu terus memperkuat sektor ini,” ujar Sukiryanto saat membuka Pelatihan Manajemen dan Kurasi Produk UMKM Kabupaten Kubu Raya, Selasa (28/10), di Aula Kepong Bakol DPMD Kubu Raya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terus berkomitmen memberikan pendampingan, pelatihan, dan perlindungan bagi para pelaku usaha agar mampu tumbuh dan bersaing di pasar lokal maupun nasional.

“Pendampingan ini bertujuan agar pengusaha mikro dan kecil dapat berkembang secara profesional dan mampu menembus berbagai level pasar,” katanya.

Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam manajemen usaha modern, memahami kebutuhan pasar, memperbaiki desain dan kemasan produk, serta memperluas jaringan pemasaran.

“Dengan pelatihan ini, kami ingin para pelaku UMKM bisa beradaptasi dengan tren dan menembus pasar ritel maupun platform digital,” jelas Sukiryanto.

Ia juga menekankan pentingnya kurasi produk agar kualitas dan daya saing produk UMKM Kubu Raya semakin meningkat. “Kurasi yang baik akan membuat produk UMKM kita layak bersaing dan tampil di etalase toko modern maupun marketplace digital,” tegasnya.

Roslah, pemilik Ikan Asin Kak Ros di Kubu Raya gencar pemasaran secara digital.
Roslah, pemilik Ikan Asin Kak Ros di Kubu Raya gencar pemasaran secara digital.

 

Ketahanan Pangan Biru 

Sementara itu, dilansir dari situs Kementerian Kelautan dan Perikanan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkap pentingnya implementasi program ekonomi biru untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perikanan dan ketahanan pangan nasional. 

Menteri Trenggono menjelaskan, ketahanan pangan bersumber dari tiga hal, karbohidrat, lemak dan protein. Khusus untuk protein, salah satunya berasal dari produk perikanan.

Merujuk data perdagangan yang selalu surplus, produk perikanan dinilainya sebagai sumber ketahanan pangan yang paling kuat.

“Silahkan diriset, laut dapat menjadi jawaban untuk mengatasi permasalahan pangan yang dunia sedang hadapi saat ini,” jelasnya.

Untuk mengoptimalkan potensi serta menghadapi tantangan yang ada, Menteri Trenggono menyatakan semua harus mulai menyadari pentingnya menempatkan ekologi sebagai panglima.

Pentingnya ekologi sebagai panglima telah menjadi perhatian KKP yang diimplementasikan melalui lima kebijakan Ekonomi Biru. Mulai dari memperluas kawasan konservasi laut; Penangkapan ikan secara terukur berbasis kuota; Pengembangan budi daya laut, pesisir dan darat yang berkelanjutan; Pengelolaan dan pengawasan pesisir dan pulau-pulau kecil; serta penanganan sampah plastik di laut melalui gerakan partisipasi nelayan atau Bulan Cinta Laut (BCL).

Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) KKP, Ishartini dalam siaran pers beberapa waktu lalu menyebutkan Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung penuh pelaku usaha, khususnya yang memproduksi makanan lokal berbahan dasar ikan untuk dapat melakukan ekspor.

Dukungan ini diantaranya dengan memberikan kemudahan mengurus sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) yang menjadi salah satu dokumen ekspor.

Sertifikasi HACCP sebagai jaminan proses produksi telah menerapkan standar sanitasi, higiene dan keamanan pangan sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen, keberterimaan pasar, serta memperkuat daya saing produk yang dihasilkan.

“Produk makanan lokal berbahan ikan, Badan Mutu telah melaksanakan sertifikasi HACCP pada pempek sehingga dapat memenuhi standar keamanan pangan global,” tutur Ishartini.

Proses mendapatkan sertifikat HACCP prosesnya mudah karena pengajuannya sudah online dan nantinya perusahaan atau UMKM akan didampingi para Inspektur Mutu yang profesional sampai mendapatkan sertifikat.

UPT Badan Mutu KKP di tiap - tiap provinsi juga telah menyediakan desk layanan publik atau semacam customer service serta layanan penyedia informasi publik (PPID).

Ishartini mencontohkan inspeksi yang dilaksanakan baru-baru ini pada tiga usaha pempek di Palembang untuk penerbitan HACCP.

Produksi pempek ikan tenggiri dan gabus per hari nya bisa menghasilkan 100 kilogram sampai 1 ton, serta menyerap tenaga kerja sampai puluhan orang tiap perusahaan. Inspeksi juga dilakukan di Yogyakarta untuk produk akhir frozen pempek.

 

Proses Sertifikasi HACCP Produk Pangan Asal Ikan

Untuk sertifikasi HACCP, tim Badan Mutu akan memeriksa kelengkapan dokumen sistem manajemen mutu dan keamanan pangan perusahaan. Seyelahnitu, dilakukan observasi lapangan melalui pengamatan langsung terhadap proses produksi, fasilitas, dan sanitasi di lokasi usaha.

Terakhir, dilakukan wawancara untuk menggali informasi dari personel perusahaan terkait pemahaman dan implementasi standar mutu yang berlaku.

Ishartini menjelaskan, pempek dan makanan lokal asal ikan lainnya dapat menjadi alternatif diversifikasi komoditas ekspor perikanan Indonesia dan tentunya memerlukan sinergi banyak pihak dan stakeholders untuk akses pasarnya.  **

 

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#ikan asin #ekspor #pangan #perempuan #kalimantan barat #nelayan #Pemberdayaan #kubu raya #malaysia