PONTIANAK POST - Masalah gizi balita dan risiko stunting masih menjadi perhatian serius di Desa Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya.
Menjawab persoalan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Panca Bhakti Pontianak melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang memfokuskan pada pemberdayaan kader Posyandu melalui inovasi pangan lokal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat Skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula Batch Tahap I yang didanai oleh Kemendiktisaintek.
Berdasarkan survei awal, kegiatan Posyandu di Desa Sungai Rengas telah berjalan rutin setiap bulan.
Namun, variasi pemberian makanan tambahan (PMT) masih terbatas pada produk instan dan bantuan dari luar desa.
Padahal, wilayah ini memiliki potensi pangan lokal bergizi, seperti ikan gabus dan labu kuning, yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui pelatihan dan pendampingan intensif, kader Posyandu dibekali kemampuan mengolah bahan pangan lokal tersebut menjadi makanan sehat, menarik, dan disukai balita.
Tiga produk unggulan yang diperkenalkan adalah nugget ikan gabus, gummy labu kuning, dan es krim labu kuning.
Seluruh produk dirancang menggunakan teknologi sederhana yang dapat diaplikasikan dengan peralatan rumah tangga seperti blender dan freezer, sehingga mudah diterapkan oleh kader dan masyarakat umum.
Program ini tidak hanya meningkatkan kapasitas kader Posyandu, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan.
Produk hasil pelatihan diharapkan dapat mulai diterapkan dalam kegiatan Posyandu sebagai PMT rutin. Para ibu balita pun dapat mempraktikkannya di rumah.
Inisiatif ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan produk menjadi usaha rumahan bagi kader.
Ketua tim pelaksana, Bdn. Melyani, S.ST., M.Kes., menjelaskan bahwa pendekatan program ini bersifat holistik dengan mengintegrasikan aspek gizi, teknologi pangan sederhana, dan pemberdayaan komunitas lokal.
“Keberlanjutan program pemberian makanan tambahan sangat penting untuk memastikan balita di Desa Sungai Rengas mendapatkan asupan gizi yang cukup guna menurunkan risiko stunting," katanya.
"Kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga melakukan pendampingan untuk membantu kader memproduksi dan menyajikan produk ini secara rutin. Monitoring dan evaluasi terus dilakukan agar program benar-benar berdampak pada status gizi balita,” tambah dia.
Program ini memberikan manfaat tidak hanya bagi balita, tetapi juga bagi masyarakat luas, kader Posyandu, serta perguruan tinggi yang terlibat dalam pengabdian masyarakat. Adapun manfaat yang diperoleh antara lain:
-
Bagi kader Posyandu, memperoleh keterampilan baru dalam mengolah bahan pangan lokal bernilai gizi tinggi sekaligus meningkatkan kemampuan memberikan edukasi terkait pola makan sehat dan gizi seimbang kepada masyarakat.
-
Bagi masyarakat, meningkatnya pemahaman tentang pentingnya diversifikasi pangan lokal yang sehat dan bergizi sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada makanan instan serta meningkatkan kesadaran konsumsi makanan bergizi.
-
Bagi balita, tersedianya variasi makanan tambahan yang lebih sehat dan bergizi sesuai kebutuhan tumbuh kembang, terutama sumber protein hewani dan nabati serta vitamin dan serat dari buah lokal berwarna kuning.
-
Bagi perguruan tinggi, program ini memperkuat kontribusi nyata dalam mendukung upaya pemerintah menurunkan angka stunting di Indonesia, sekaligus menjadi wadah implementasi tridharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian masyarakat berbasis riset dan inovasi.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, program ini menjadi contoh praktik baik berbasis komunitas yang dapat direplikasi di desa lain.
Selain memperkuat peran kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa, kegiatan ini juga menunjukkan peran aktif perguruan tinggi dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor. (ars/ser)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro