PONTIANAK POST- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya menjadi solusi memperbaiki kualitas gizi anak-anak, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui keterlibatan petani, peternak, dan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan program tersebut.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kubu Raya, Yusran Anizam, mengatakan manfaat Program MBG sudah mulai dirasakan langsung di masyarakat, terutama dalam mendukung upaya penurunan angka stunting yang masih menjadi tantangan di daerah itu.
“Kalau cerita manfaat MBG ini di lapangan, sudah tidak diragukan lagi. Anak-anak yang sekarang duduk di bangku sekolah ini banyak yang sebelumnya terpapar stunting, gizi buruk, dan gizi kronis. Sekarang mereka diberikan asupan gizi melalui Program MBG," kata Yusran di Kubu Raya, Kamis.
Menurutnya, pemerintah daerah selama beberapa tahun terakhir terus melakukan berbagai intervensi untuk menekan angka stunting. Kehadiran Program MBG dinilai memperkuat langkah tersebut melalui penyediaan asupan gizi yang lebih baik bagi anak-anak.
Selain berdampak pada peningkatan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia, program tersebut juga memberikan efek ekonomi yang luas bagi masyarakat.
"Bagaimana lapangan kerja bisa tercipta, ekonomi kerakyatan hidup. Petani, peternak, dan pelaku usaha lokal, ikut bergerak karena adanya kebutuhan pasokan pangan untuk program ini," tuturnya.
Yusran juga menanggapi berbagai kritik yang menyebut Program MBG menyebabkan berkurangnya alokasi anggaran pada sektor lain. Menurut dia, kebijakan yang diterapkan pemerintah lebih menitikberatkan pada efisiensi penggunaan anggaran guna mengurangi potensi kebocoran belanja negara.
"Kalau analisa saya, bukan memangkas program sektoral yang riil. Tetapi lebih kepada strategi efisiensi terhadap potensi kebocoran anggaran yang selama ini menjadi perdebatan publik," katanya.
Ia menambahkan Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi pelaksanaan program agar berjalan tepat sasaran dan terhindar dari penyimpangan.
"Pak Presiden sudah berkali-kali menyampaikan agar masyarakat ikut mengontrol, membuat video, dan melaporkan langsung jika ada penyimpangan. Ini menunjukkan pengawasan publik sangat penting," katanya.
Kesiapsiagaan Menghadapi Karhutla
Di sisi lain, Yusran mengungkapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya juga tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026.
Menurut dia, koordinasi lintas instansi telah dilakukan menyusul prediksi musim kemarau ekstrem yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, relawan damkar, hingga pihak swasta. Alhamdulillah, semua siap mengawal jika sewaktu-waktu terjadi karhutla," tuturnya.
Sebagai daerah yang rawan bencana, Pemkab Kubu Raya juga menyiapkan penguatan sarana dan prasarana penanganan bencana melalui optimalisasi belanja tidak terduga sesuai kemampuan keuangan daerah.
"Kubu Raya merupakan daerah rawan bencana, bukan hanya karhutla tetapi juga banjir dan angin puting beliung. Karena itu penanganannya harus serius dan melibatkan semua elemen," katanya.
Persiapan Kafilah MTQ
Selain fokus pada isu pembangunan dan kebencanaan, Pemkab Kubu Raya juga terus mematangkan persiapan Kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) untuk mengikuti MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang akan digelar di Kabupaten Kayong Utara.
Yusran mengatakan pemusatan latihan atau training center bagi para peserta dijadwalkan mulai berlangsung pada pertengahan Juni 2026 sebagai bagian dari persiapan menghadapi ajang tersebut.
“Kita harapkan tahun ini kafilah Kubu Raya bisa tampil maksimal dan meraih hasil terbaik,” katanya.
Ia menegaskan proses seleksi peserta dilakukan secara terbuka dan memberikan kesempatan bagi warga Kalimantan Barat dari berbagai daerah yang ingin mewakili Kabupaten Kubu Raya dalam kompetisi tersebut.
“Semangatnya MTQ ini adalah MTQ tingkat provinsi. Jadi semua warga Kalbar bisa saja mewakili daerah mana pun, selama prosesnya terbuka dan asal daerah peserta tetap dihargai,” katanya. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas