Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Sungai Amoy Jadi Percontohan Agroforestri, Kubu Raya Pulihkan 32 Hektare Lahan Kritis

Uray Ronald • Jumat, 26 Juni 2026 | 22:01 WIB
Pemkab Kubu Raya mengembangkan model agroforestri pada lahan kritis di Blok Sungai Amoy. (Antara)
Pemkab Kubu Raya mengembangkan model agroforestri pada lahan kritis di Blok Sungai Amoy. (Antara)

 

PONTIANAK POST - Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bersama Sampan Kalimantan Barat mulai mengembangkan model agroforestri di lahan kritis sebagai upaya memulihkan kawasan hutan dan mangrove sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Program tersebut diawali dengan rehabilitasi lahan seluas 32 hektare di Blok Sungai Amoy, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo, mengatakan pendekatan ini dirancang agar pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi kerusakan lahan akibat kebakaran dan degradasi yang terjadi selama lebih dari satu dekade.

Sujiwo menegaskan pelestarian lingkungan tidak harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, lahan yang selama ini dianggap tidak produktif dapat diubah menjadi sumber penghidupan baru apabila dikelola secara berkelanjutan.

"Kami ingin membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan jika dikelola dengan baik dan melibatkan seluruh pihak," ujarnya dikutip dari Antara, Jumat (26/6).

Baca Juga: DLHK Kalbar Tegaskan Komitmen Tangani Lahan Kritis dan Evaluasi Izin Tambang

Ia berharap model agroforestri yang diterapkan di Kubu Raya dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam memulihkan lahan kritis tanpa mengabaikan kepentingan ekonomi masyarakat.

Direktur Sampan Kalimantan, Fajri Nailus Subchi, menjelaskan program ini tidak hanya berorientasi pada rehabilitasi hutan, tetapi juga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat melalui pengembangan Multi-Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman serbaguna.

Tanam 3.500 Bibit Kelapa Genjah

Sebanyak 3.500 bibit kelapa genjah ditanam pada tahap awal di lahan seluas 32 hektare. Komoditas tersebut dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan mulai berproduksi sekitar tiga tahun setelah penanaman.

Selain buah kelapa, masyarakat dapat mengembangkan produk turunan seperti nira yang diolah menjadi gula merah, kecap, hingga berbagai produk olahan bernilai tambah.

"Proyek ini bukan sekadar menanam pohon untuk menghijaukan kembali kawasan, tetapi dirancang sebagai solusi ganda, yakni memulihkan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal," kata Fajri.

Warga Didorong Menanam Komoditas Jangka Pendek

Selama menunggu tanaman utama menghasilkan, masyarakat didorong menanam komoditas hortikultura jangka pendek seperti cabai, jagung, dan terong. Tanaman tersebut diharapkan menjadi sumber pendapatan harian bagi keluarga yang terlibat dalam program.

Selain itu, masyarakat juga diarahkan mengembangkan tanaman produktif lain seperti kopi, petai, dan jengkol yang dinilai sesuai dengan karakteristik lahan setempat.

Pendekatan ini membuat proses rehabilitasi tidak hanya berorientasi pada pemulihan lingkungan, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekonomi warga selama masa transisi.

Target Rehabilitasi Diperluas pada 2026

Berdasarkan analisis citra satelit, terdapat sekitar 2.000 hektare lahan terbuka di kawasan Sungai Amoy dan sekitarnya akibat kebakaran hutan serta degradasi lahan dalam kurun lebih dari sepuluh tahun terakhir.

Jika tidak segera dipulihkan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta memperburuk kerusakan ekosistem di kawasan pesisir Kalbar.

Karena itu, program rehabilitasi akan diperluas pada 2026 dengan target 97 hektare yang tersebar di sejumlah hutan desa di Batu Ampar, Teluk Nibung, Nipah Panjang, Sungai Besar, hingga Ambawang.

Baca Juga: Lahan Kritis Kalbar Capai 708.399 Ha, DLHK Sebut Persentase Masih Rendah

Program agroforestri ini melibatkan sekitar 200 kepala keluarga yang selama ini menggantungkan penghidupan dari pengelolaan lahan di kawasan tersebut.

Bagi masyarakat pesisir, rehabilitasi lahan bukan sekadar upaya memulihkan hutan. Program ini juga membuka peluang pendapatan yang lebih berkelanjutan, sekaligus menjaga lingkungan agar tetap produktif bagi generasi mendatang.

Sejauh ini, persoalan lahan kritis masih menjadi tantangan besar bagi Kalbar. Berdasarkan penetapan nasional terbaru, luas lahan kritis di provinsi ini mencapai 708.399 hektare.

Seluas 418.903 hektare berada di dalam kawasan hutan dan 289.496 hektare di luar kawasan hutan. Luasan tersebut setara sekitar 8,64 persen dari total kawasan hutan di Kalbar.

Program agroforestri di Sungai Amoy Kubu Raya dapat diadopsi oleh daerah lain yang juga memiliki lahan kritis,*

Editor : Uray Ronald
#agroforestri Kubu Raya #ekonomi masyarakat pesisir #lahan kritis #Mangrove #rehabilitasi hutan