DPR RI Soroti Kelangkaan Air Bersih di Kalimantan Barat, Perlu Teknologi Khusus Kelola PDAM

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:55 WIB
Ilustrasi krisis air bersih
Ilustrasi krisis air bersih

 

PONTIANAK POST – Sungai Kapuas membelah Kalimantan Barat. Air mengalir di sepanjang wilayah provinsi ini, tetapi bagi sebagian masyarakat, mendapatkan air bersih masih bukan perkara mudah.

Ironi tersebut menjadi sorotan Anggota Komisi V DPR RI Abdul Hadi saat meninjau proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Arang Limbung di Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8/2026). Menurut dia, salah satu persoalan mendasar yang masih dihadapi Kalimantan Barat adalah kelangkaan air bersih.

Di tengah keberadaan Sungai Kapuas yang membentang, tantangan Kalbar bukan semata mencari sumber air. Persoalan lebih besar adalah bagaimana mengolah air yang tersedia menjadi layak digunakan masyarakat dan membangun infrastruktur distribusinya hingga menjangkau warga.

“Kita berharap proyek ini selesai dalam waktu satu tahun, 2027. Tetapi setelah jadi, pengelolaannya jangan sampai terkesan lepas begitu saja. Harus ada kerja sama yang kuat dengan PDAM,” kata Abdul Hadi.

Ia menekankan pembangunan SPAM tidak boleh berhenti pada pencapaian target fisik. Keberhasilan proyek, menurut dia, justru akan diuji setelah pembangunan selesai dan air benar-benar mengalir ke rumah-rumah masyarakat.

PDAM atau operator air minum daerah, kata dia, harus memiliki peran maksimal dalam mengelola dan mendistribusikan air secara efisien. Hal itu penting agar masyarakat tidak hanya memperoleh akses air bersih, tetapi juga mampu menjangkau tarif yang ditetapkan.

“PDAM harus berperan maksimal menghadirkan air di tengah masyarakat dengan efisien dan tidak memberatkan harga tarifnya,” tegas legislator Fraksi PKS tersebut.

Tantangan Besar di Lahan Gambut

Abdul Hadi mengatakan penyediaan air bersih di Kalbar memiliki tantangan yang berbeda dengan sejumlah daerah lain. Ia membandingkannya dengan daerah pemilihannya di Nusa Tenggara Barat.

Di sejumlah wilayah NTB, persoalan kekurangan air dapat diatasi melalui keberadaan bendungan yang menjadi sumber air baku. Air kemudian diolah dan didistribusikan melalui jaringan perpipaan.

Kondisi di Kalbar, menurut dia, jauh lebih kompleks. Karakteristik lahan gambut membuat pembangunan infrastruktur membutuhkan penanganan dan teknologi khusus.

“Di Kalbar memiliki wilayah gambut, sehingga pembangunan jadi sangat terbatas dan membutuhkan biaya yang cukup besar,” ujarnya.

Tantangan tersebut membuat penyediaan air bersih tidak cukup hanya dengan membangun jaringan pipa. Pemerintah juga harus memastikan sumber air baku tersedia, teknologi pengolahan memadai, serta infrastruktur dapat dibangun sesuai dengan karakteristik wilayah.

Di tengah persoalan itu, keberadaan Sungai Kapuas dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sumber air baku bagi masyarakat.

“Itulah yang memang harus diproses menjadi air bersih untuk masyarakat. Yang penting adalah airnya layak diminum dan kita menggunakan teknologi yang memadai untuk menghadirkan air tersebut bagi masyarakat,” kata Abdul Hadi.

Harapan dari SPAM Arang Limbung

Pembangunan SPAM Arang Limbung menjadi salah satu infrastruktur yang diharapkan dapat memperkuat pelayanan air minum di Kabupaten Kubu Raya.

Namun, Abdul Hadi mengingatkan proyek tersebut harus dilihat dalam jangka panjang. Pembangunan fisik hanyalah tahap awal. Persoalan berikutnya adalah memastikan sistem tetap berjalan, terawat, dan mampu melayani masyarakat secara berkelanjutan.

Karena itu, pengelolaan pasca-pembangunan menjadi perhatian penting. Operator harus memiliki kesiapan dalam menjalankan sistem, menjaga kualitas pelayanan, serta mengantisipasi berbagai risiko yang dapat mengganggu distribusi air.

Menurut Abdul Hadi, pembangunan infrastruktur air minum harus benar-benar bermuara pada kebutuhan masyarakat.

Sebab, di tengah musim kemarau dan kondisi cuaca yang semakin kering, kebutuhan terhadap air bersih menjadi semakin terasa. Air tidak hanya dibutuhkan untuk minum, tetapi juga untuk memasak, mandi, sanitasi, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.

Kelangkaan air bersih pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknis pembangunan. Di baliknya, ada kehidupan masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air setiap hari.

Kapuas Harus Jadi Sumber Kehidupan

Abdul Hadi menilai Kalbar memiliki potensi sumber daya air yang besar. Karena itu, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui teknologi yang memadai tanpa mengabaikan kualitas air dan keberlanjutan lingkungan.

Ia menegaskan negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap sumber daya alam, termasuk air, bagi kesejahteraan bersama.

“Sebab, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah tanggung jawab negara untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
DPR RI PDAM sungai kapuas Air Bersih kubu raya