Sujiwo Usulkan Embung dan Sumur Bor untuk Cegah Karhutla Berulang di Kubu Raya

Ashri Isnaini • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 14:53 WIB
Bupati Kubu Raya, Sujiwo mendampingi Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi karhutla di Desa Sungai Malaya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kamis (10/9) malam.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo mendampingi Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi karhutla di Desa Sungai Malaya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kamis (10/9) malam.

PONTIANAK POST – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali terjadi setiap musim kemarau di Kubu Raya dinilai membutuhkan solusi jangka panjang. Bupati Kubu Raya Sujiwo mendorong pemerintah pusat memperkuat mitigasi, antara lain melalui pembangunan sarana air seperti embung dan sumur bor.

Dorongan itu disampaikan Sujiwo setelah mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi kebakaran lahan gambut di Desa Sungai Malaya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, Kamis (10/9) malam.

Sujiwo mengapresiasi kunjungan Wapres karena dapat melihat langsung kondisi lahan yang terbakar dan upaya penanganan yang dilakukan pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Basarnas, relawan, serta berbagai unsur lainnya.

Baca Juga: Pemkab Kubu Raya Terima Rp20 Miliar untuk Karhutla, Penggunaan Dana Tunggu Arahan

“Ketika gambut (yang terbakar), beliau bisa menyaksikan langsung,” kata Sujiwo.

Menurut Sujiwo, lokasi yang ditinjau Gibran merupakan lahan, bukan kawasan hutan. Ketebalan gambut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kebakaran. Sujiwo mengatakan, berdasarkan pemantauan aplikasi BMKG, terdapat sekitar sembilan titik api di wilayah Kubu Raya pada Kamis (10/9). Meski demikian, kondisi secara umum masih cukup terkendali.

Sejumlah titik yang masih menyala antara lain berada di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, dan Kecamatan Rasau Jaya. Tim gabungan telah bergerak melakukan pemadaman dan pemantauan di lokasi tersebut.

Sementara itu, lahan yang terbakar di Desa Sungai Malaya diperkirakan sekitar 2,1 hektare. Menurut Sujiwo, kondisi tersebut masih dapat dikendalikan meski ketebalan gambut menjadi tantangan bagi petugas.

Baca Juga: Api di Lahan Gambut Padam Total Tanpa Asap! Polres Ketapang Jajal Racikan Cairan X-Fire

“Yang di sini, di Malaya ini ada kurang lebih 2,1 hektare yang terbakar, dan insyaallah terkendali. Memang lumayan tebal juga gambutnya,” kata dia.

Sujiwo menilai pemerintah daerah telah berupaya menangani karhutla dengan melibatkan berbagai unsur. Namun, kemampuan daerah terbatas karena anggaran juga harus dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan dasar masyarakat.

Dia menjelaskan, pemerintah kabupaten harus membagi anggaran untuk kebutuhan kesehatan, pendidikan, pertanian, perikanan, infrastruktur, dan pelayanan masyarakat lainnya.

Baca Juga: 12 Personel Karhutla Singkawang Diperiksa Kesehatan, Dapat Vitamin dan Masker N95 di Lokasi

Karena itu, Sujiwo berharap perhatian pemerintah pusat tidak berhenti pada penanganan ketika karhutla terjadi. Menurut dia, diperlukan sarana pencegahan yang dapat digunakan menghadapi musim kemarau panjang.

“Apakah embung, apakah sumur bor, supaya tidak berulang-ulang seperti ini,” kata Sujiwo.

Dia berharap kunjungan Wapres Gibran menjadi momentum bagi pemerintah pusat untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan karhutla di Kubu Raya, terutama dalam membangun langkah mitigasi dan pencegahan.

“Minimal nanti ada langkah-langkah dan upaya-upaya preventif, supaya ketika kemarau panjang sudah ada upaya mitigasi untuk melakukan pemadaman dan langkah-langkah yang konkret,” kata Sujiwo.

Sujiwo optimistis kehadiran Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka di wilayah terdampak karhutla akan membuat persoalan tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat.

Terkait kunjungan tersebut, Sujiwo mengatakan Gibran tidak memberikan instruksi khusus. Wapres hanya mengingatkan seluruh pihak untuk terus bekerja keras menangani karhutla. Sujiwo juga mengapresiasi kerja keras personel gabungan yang terus menangani karhutla di tengah kondisi sulit. Dia mengaku kerap turun ke lapangan sehingga mengetahui langsung perjuangan petugas dan relawan.

Dia mengatakan petugas dan relawan telah bekerja siang dan malam meski menghadapi risiko kesehatan akibat paparan asap.

“Para relawan, TNI, Polri adalah manusia yang tidak sempurna. Pasti ada kelemahan, kekurangan, tetapi mereka telah bekerja keras siang malam,” ujarnya. (ash)

Editor : Hanif
sujiwo sumur bor karhutla embung kubu raya