Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menikmati Sate Jamur di Kampung Sate Pontianak

Super_Admin • Senin, 8 Maret 2021 | 08:45 WIB
DIMINATI PEMBELI: Sate Jamur, salah satu menu andalan dari Kampung Sate di Jalan Urai Bawadi, Gang Suditrisno, Pontianak. ISTIMEWA
DIMINATI PEMBELI: Sate Jamur, salah satu menu andalan dari Kampung Sate di Jalan Urai Bawadi, Gang Suditrisno, Pontianak. ISTIMEWA
Selama pandemi Covid-19 berlangsung, tidak sedikit unit usaha yang terkena dampaknya. Mulai pemotongan gaji atau upah, pengurangan jumlah karyawan, hingga menutup usaha. Namun bagimana dengan unit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang justru menggeliat pada masa pandemi ini? “Kampung Sate” adalah salah satunya.

ARIEF NUGROHO, Pontianak  

“Kampung sate” adalah salah satu unit usaha rumahan yang menjajakan beragam menu sate. Sate ayam, sate sapi  dan yang menjadi menu andalannya adalah sate jamur. Bagi Anda yang vegetarian atau tidak mengkonsumsi daging, di sini Anda bisa menikmati sate terbuat dari jamur tiram.

Menurut Yanti (28), si pemilik “Kampung Sate”, usahanya tersebut dimulai sejak akhir Maret 2020, atau bertepatan dengan Covid-19. Meskipun demikian, usaha panganannya itu ternyata mendapat respon yang baik dari masyarakat. Usahanya berjalan hingga sekarang. “Alhamdulillah, meskipun pandemi, kami masih jalan,” katanya kepada Pontianak Post, Minggu (7/3).

Yanti mengaku, “kampung Sate” miliknya terinspirasi dari warung sate saat dirinya berkunjung ke kota Gudeg Yogyakarta. Di sana, warung tersebut menyajikan sate jamur yang menurutnya cukup unik dan memiliki cita rasa yang khas.

“Konsep awalnya, saya terinspirasi oleh menu sate jamur saat berkunjung ke Yogyakarta. Dan ternyata di Pontianak belum ada yang buka,” ceritanya. Dari situ lah, Yanti bersama sang suami, Hanif membuka usahanya itu.

Photo
Photo


Yanti bercerita, untuk penyajian, sate jamur-nya itu tidak lah berbeda dengan olahan sate lainnya. Seperti sate ayam, kambing maupun sate sapi. Sate jamur juga bisa dinikmati dengan nasi, lontong atau ketupat. “Kalau penyajiannya sih sama dengan sate lainnya. Termasuk bumbunya,” kata dia.

Hanya saja, proses pembuatannya yang sedikit berbeda. Ada perlakukan khusus. Dalam durasi pemanggangan misalnya. Sate jamur butuh durasi yang sedikit lama dibanding daging lainnya. “Mengingat tekstur jamur yang basah, sehingga proses pemanggangannya pun lebih lama,” terangnya.

Untuk bahan baku, Yanti menggunakan jamur tiram. Itu pun harus dipilih ukuran yang besar dan lebar. Dalam satu hari, ia bisa menghabiskan setidaknya dua kilogram jamur. “Yang menjadi kendala saat musim panas. Ukuran jamur kecil-kecil. Nah, jamur yang ukurannya kecil tidak bisa digunakan untuk sate,” bebernya.

Satu porsi sate jamur dibandrol dengan harga Rp 25 ribu, terdiri dari delapan tusuk. Dalam satu bulan, ia memperoleh omzet kotor sekitar Rp20 juta hingga hingga Rp25 juta per bulan.

Jika anda ingin mencicipi sate jamur, anda bisa berkunjung ke “Kampung Sate’ yang berlokasi di Jalan Urai Bawadi, Gang Suditrisno, Pontianak, dari pukul 08.00 wib-17.00 wib. 'Kampung Sate' juga menyajikan penjualan online via akun instagram @kampungsate.id. (*) Editor : Super_Admin
#Kampung Sate #Kuliner