PONTIANAK POST - Istilah mabuk kepayang sudah lama digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta hingga sulit berpikir jernih.
Namun, tahukah Anda bahwa ungkapan tersebut ternyata berhubungan dengan tanaman yang benar-benar bisa membuat orang mabuk?
Kepayang atau kluwek, bahan utama masakan seperti rawon dan sup konro, mengandung zat beracun yang dapat menyebabkan pusing hingga kehilangan kesadaran jika dikonsumsi secara sembarangan.
Baca Juga: Kenali Jenis Rempah yang Sebaiknya Dipakai Segar atau Dikeringkan
Asal-usul Istilah Mabuk Kepayang
Disadur dari laman Institut Pertanian Bogor (IPB), istilah tersebut berasal dari tanaman kepayang (Pangium edule), sejenis pohon yang banyak ditemukan di kawasan Malesia, meliputi Malaysia, Indonesia, hingga Papua Nugini.
Di Indonesia, tanaman ini memiliki banyak nama, antara lain kluwek, kluwak, keluak, picung, pucung, pamarrasan, raja, dan pangi.
Tanaman kepayang dapat tumbuh secara liar maupun dibudidayakan. Pohonnya kerap ditemukan di pinggir sungai, hutan jati, daerah berbatu, hingga lahan yang tergenang air.
Yang menarik, istilah mabuk kepayang lahir karena biji tanaman ini memang mengandung zat yang dapat menyebabkan gejala seperti mabuk apabila dimakan mentah atau diolah secara tidak tepat.
Baca Juga: Cara Mudah Merebus Telur agar Matang Sempurna: Tidak Pecah, dan Mudah Dikupas
Bumbu Andalan Rawon hingga Sup Konro
Meski memiliki kandungan racun alami, kepayang justru menjadi salah satu bumbu penting dalam berbagai masakan Nusantara.
Biji kepayang yang telah melalui proses fermentasi dan pengolahan digunakan untuk memberikan warna hitam sekaligus cita rasa khas pada sejumlah hidangan.
Beberapa makanan yang menggunakan kepayang sebagai bahan utama antara lain:
- Rawon dari Jawa Timur.
- Sup konro khas Sulawesi Selatan.
- Brongkos dari Yogyakarta.
- Pamarrasan, bumbu khas Sulawesi yang digunakan untuk berbagai masakan ikan dan daging.
Rasa gurih dan aroma khas yang dihasilkan membuat kepayang tetap menjadi bahan favorit dalam dunia kuliner Indonesia.
Baca Juga: Meal Prep Sayur Beku Jadi Solusi Praktis Sarapan dan Bikin Bekal
Hampir Semua Bagian Pohonnya Bisa Dimanfaatkan
Kepayang ternyata bukan hanya berguna sebagai bumbu dapur. Hampir seluruh bagian tanaman ini memiliki manfaat.
Batangnya dapat digunakan sebagai bahan konstruksi, kayu bakar, hingga bahan baku korek api. Kulit batangnya secara tradisional dimanfaatkan sebagai racun ikan.
Sementara itu, daun kepayang digunakan sebagai pestisida nabati, sayuran, pembungkus daging, hingga bahan obat tradisional.
Buahnya juga telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, sedangkan bijinya selain sebagai bumbu masakan dapat digunakan sebagai pewarna makanan, bahan pengawet alami, hingga diolah menjadi minyak goreng.
Baca Juga: Teknik Blanching Dinilai Lebih Baik Dibanding Membekukan Sayur Mentah Langsung
Kandungan Racun yang Membuat Orang Bisa "Mabuk"
Di balik manfaatnya, kepayang memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Biji kepayang mengandung berbagai senyawa, seperti vitamin C, ion besi, beta karoten, tanin, serta sejumlah asam lemak. Namun, senyawa yang paling terkenal adalah asam sianida (HCN).
Asam sianida merupakan zat beracun yang juga ditemukan pada daun, buah, kulit batang, hingga akar tanaman kepayang.
Kandungan asam sianida pada biji kepayang dilaporkan mencapai 1.000 hingga 2.000 ppm.
Apabila dikonsumsi dalam keadaan mentah dan jumlah yang banyak, biji kepayang dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti:
- Pusing.
- Sakit kepala.
- Denyut nadi meningkat.
- Tubuh terasa lemas.
- Gangguan kesadaran.
Kondisi tersebut membuat seseorang tampak seperti orang yang sedang mabuk.
Dari sinilah diyakini muncul ungkapan mabuk kepayang yang masih populer digunakan hingga sekarang.
Baca Juga: Cara Aman Mengolah Sayur Beku Agar Nutrisi Tidak Banyak Hilang
Mengapa Kluwek Aman Dimakan?
Meski mengandung racun, kluwek yang digunakan dalam masakan sehari-hari umumnya aman dikonsumsi.
Hal ini karena biji kepayang telah melalui proses pengolahan khusus untuk mengurangi kandungan asam sianida.
Proses tersebut biasanya meliputi perebusan, fermentasi, perendaman, serta pencucian dalam air selama beberapa waktu.
Asam sianida memiliki sifat mudah larut dalam air dan mudah menguap, sehingga proses pencucian dan pemanasan menjadi cara efektif untuk menurunkan kadarnya.
Baca Juga: Kandungan Serat Sayur Beku Tetap Terjaga Meski Disimpan dalam Freezer
Karena itulah, kluwek yang telah diolah dengan benar dapat digunakan secara aman sebagai bumbu berbagai masakan tradisional.
Editor : Miftahul Khair