NGABANG – Pasien meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Landak kembali bertambah.
Hingga November 2023, pasien meninggal telah mencapai sembilan orang. Terbaru, seorang siswa MI Nurul Islam Ngabang meninggal dunia akibat DBD pada pekan ini. Pemimpin Pondok Pesantren Nurul Islam Kh Luqman Qosim membenarkan hal tersebut.
“Betul bang dia siswa MI atau SD, anak ini tidak tinggal di pondok,” ungkapnya di Ngabang.
Kecamatan Ngabang masih jadi penyumbang kasus tertinggi dengan lima pasien meninggal, Sengah Temila dua pasien meninggal, dan Jelimpo serta Air Besar satu pasien meninggal. Sehingga kasus meninggal dunia per 8 November 2023 berjumlah sembilan orang.
Angka kasus DBD secara umum juga terus bertambah. Per 8 november 2023, kasus DBD di Kabupaten Ladak berjumlah 146 penderita. Kecamatan Ngabang, masih menjadi penyumbang angka tertinggi dengan 87 kasus, disusul Sengah Temila 18 kasus, Menjalin 12 kasus, Mandor 11 kasus, Sebangki dan Air Besar 4 kasus, Menyuke dan Jelimpo 3 kasus, Kuala Behe 2 kasus, serta Mempawah Hulu dan Meranti 1 kasus.
“Kasus terbanyak di Kecamatan Ngabang dengan insiden 87 penderita,” ungkap Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Landak Pius Edwin, di Ngabang Kamis (9/11).
Pius mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk menekan pencegahan kasus DBD. Salah satunya yakni secara intensif melakukan Penyelidikan epidemiologi (PE) DBD.
Penyelidikan itu dilakukan setelah adanya laporan mengenai warga yang terkena DBD.
Kegiatan PE ini meliputi penelusuran latar belakang penderita DBD, mulai dari hasil diagnosis, tempat tinggal, riwayat perjalanan, kegiatan sehari-hari.
Cara terbaik untuk mencegah penyakit demam berdarah, menurutnya adalah dengan mengurangi munculnya jentik nyamuk melalui kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Kami di tiap Puskesmas juga melakukan fogging fokus pada daerah kasus DBD dengan radius 200 meter persegi dari tempat kejadian kasus. Pemberian bubuk abate guna mencegah perkembang biakan jentik nyamuk,” ungkap Pius.
Mantan Direktur RSUD Landak itu mengatakan, pihaknya juga masih terus menggencarkan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat.
Puskesmas rutin menggelar sosialisasi terkait kasus DBD melalui tim promosi kesehatan di wilayah kerja masing-masing.
Sosialisasi juga dilakukan melalui siaran radio terkait kasus DBD. “Kami lakukan koordinasi lintas sektor dengan desa terkait peningkatan kasus DBD. Setelahnya secara bersama melakukan promosi kesehatan melalui jejaring baik itu melalui promkes Puskesmas dan promkes Dinkes,” tutup Pius. (mif)
Editor : A'an