Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Puluhan Siswa Ngabang Masuk Rumah Sakit, Diduga Keracunan MBG

Arief Nugroho • Kamis, 20 November 2025 | 19:40 WIB

Para pelajar korban dugaan keracunan MBG yang dilarikan ke Klinik Utama ST. Elisabeth Ngabang.
Para pelajar korban dugaan keracunan MBG yang dilarikan ke Klinik Utama ST. Elisabeth Ngabang.

NGABANG – Puluhan pelajar di Kabupaten Landak terkapar setelah diduga mengalami keracunan makanan. Kejadian yang menimpa siswa SMA dan SMK Persekolahan Maniamas Ngabang ini terjadi setelah mereka mengonsumsi menu Makanan Bantu Gizi (MBG) di sekolah pada Rabu (19/11/2025).

Gejala yang muncul, mulai dari mual, muntah, hingga diare, langsung menggerakkan Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, untuk menjenguk korban yang tengah dirawat di Klinik Utama ST. Elisabeth Hungaria Ngabang.

Dalam kunjungannya, Bupati Karolin menegaskan bahwa penyelidikan tengah dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti keracunan tersebut.

"Kami sedang menyelidiki penyebabnya dan akan berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional di Kabupaten Landak untuk memastikan hal ini," ujar Bupati.

Salah satu pelajar yang dirawat mengaku mulai merasakan mual dan pusing setelah menyantap soto ayam sebagai bagian dari menu MBG. Kejadian ini memunculkan pertanyaan mengenai kelayakan makanan yang disajikan kepada para pelajar.

Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Landak, Yohanes, juga mengunjungi lokasi perawatan korban pada Kamis (20/11/2025) dini hari.

Ia mengungkapkan permohonan maaf dan keprihatinannya atas insiden tersebut, serta menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan pelajar menjadi prioritas utama.

"Kami akan tetap mengikuti prosedur standar operasional (SOP), tetapi yang paling penting adalah penanganan medis yang maksimal untuk anak-anak kami," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, operasional dapur SPPG Hilir Kantor Ngabang II untuk sementara dinonaktifkan.

Yohanes menjelaskan bahwa SOP yang ada mengharuskan dihentikannya operasional dapur hingga hasil uji laboratorium sampel makanan keluar.

"Kami berharap dukungan dari Dinas Kesehatan dan BPOM Pontianak untuk membantu mempercepat proses pemeriksaan," katanya.

Yohanes juga memastikan bahwa pihaknya akan transparan dalam menyampaikan hasil uji laboratorium kepada publik.

Untuk mencegah kejadian serupa, SPPG Kabupaten Landak telah mendatangkan alat rapid test untuk memeriksa bahan makanan.

"Alat rapid test sudah tersedia di setiap SPPG, dan ini akan digunakan untuk meminimalisir risiko keracunan di masa depan," jelasnya.

Meskipun demikian, ia mengungkapkan bahwa distribusi alat tersebut belum sepenuhnya merata di seluruh dapur SPPG, dan uji coba masih dilakukan untuk memastikan efektivitas alat tersebut. (arf)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Mbg #keracunan #sakit #landak #klinik #rumah sakit #NGABANG #makanan