PONTIANAK POST - Perayaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini menjadi momen krusial bagi insan media untuk menilik kembali integritas mereka di tengah kepungan informasi yang sering kali bias. Di tengah gempuran konten yang tak terbendung, media massa dituntut tetap berdiri tegak sebagai pilar demokrasi sekaligus filter jernih bagi logika masyarakat.
Pesan ini digaungkan oleh Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, saat memperingati HPN pada Senin (9/2). Karolin menggarisbawahi bahwa PR besar jurnalisme masa kini bukan sekadar adu cepat tayang, melainkan bagaimana menyuguhkan berita yang akurat, berimbang, dan memiliki konteks yang jelas.
“Kita hidup di tengah banjir informasi. Berita datang sangat cepat dan masif, tetapi tidak semuanya benar dan tidak semuanya utuh. Di sinilah peran pers menjadi penting untuk membantu publik memahami mana fakta dan mana opini,” ujar Karolin.
Lebih lanjut, ia memandang bahwa jurnalisme tidak hanya soal memotret kejadian. Lebih dari itu, pers punya tugas memberikan makna mendalam pada setiap peristiwa. Dalam tatanan demokrasi, media bertindak sebagai instrumen pengawas agar roda pemerintahan tetap berjalan di koridor yang tepat.
Karolin secara gamblang menyatakan bahwa pemerintah daerah justru membutuhkan sentilan yang membangun dari awak media yang independen. Baginya, kritik tajam yang bersandarkan pada data akurat adalah asupan penting bagi kematangan demokrasi di level lokal.
“Pemerintah tidak boleh alergi terhadap kritik. Pers berhak bertanya, menguji, dan mengawasi. Itu bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan kebijakan benar-benar berpihak pada masyarakat,” katanya.
Khusus untuk konteks Kabupaten Landak, Karolin memberikan jempol pada media lokal yang dinilai sangat memahami denyut nadi warga. Media daerah tak sekadar menjadi corong kebijakan, tapi juga saksi hidup atas efektivitas layanan publik, mulai dari urusan kesehatan hingga isu sosial yang berkembang di akar rumput.
Sebagai bentuk komitmen terhadap keterbukaan informasi, Pemerintah Kabupaten Landak terus berupaya menjamin kebebasan pers. Karolin meyakini bahwa iklim kerja jurnalistik yang dialogis adalah kunci untuk merawat trust atau kepercayaan masyarakat. “Pemkab Landak memandang pers sebagai mitra kritis. Kebebasan pers adalah fondasi penting agar dialog antara pemerintah dan masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.
Ia pun tak menampik adanya tantangan berat di era internet, terutama soal kredibilitas. Di tengah menjamurnya hoaks dan disinformasi, publik haus akan rujukan berita yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. “Kepercayaan publik adalah modal utama pers. Itu dibangun melalui konsistensi, verifikasi, dan keberanian menjaga etika jurnalistik,” kata Karolin.
Meski terkadang hubungan antara birokrasi dan media diwarnai perbedaan perspektif, Karolin menganggap hal tersebut sebagai bumbu demokrasi yang sehat selama tetap mengedepankan rasa hormat. “Pers dan pemerintah tidak harus selalu sejalan. Tetapi tujuan akhirnya sama, yaitu melayani kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai penutup, Karolin memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi para jurnalis, terutama mereka yang berjuang di garda terdepan daerah meski dalam keterbatasan. Ia berharap HPN menjadi pemantik semangat untuk terus menjaga marwah profesi. “Di tengah banjir informasi, pers tetap dibutuhkan sebagai penuntun yang menjaga akal sehat publik. Selamat Hari Pers Nasional,” pungkas Karolin. (mif)
Editor : Hanif