PONTIANAK POST — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap pekat di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, kian mengkhawatirkan. Menghadapi cuaca ekstrem, susutnya sumber air, serta keterbatasan anggaran, Bupati Landak Karolin Margret Natasa menempuh "jalur langit" dengan menggelar acara Doa Bersama.
Agenda bertajuk Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri tersebut dilaksanakan di Aula Besar Kantor Bupati Landak pada Kamis (3/9).
Karolin mengungkapkan bahwa jajaran Pemkab Landak bersama TNI, Polri, dan BPBD telah mengerahkan segenap kemampuan, mulai dari pemadaman darat hingga pengetatan sosialisasi. Namun, ketiadaan curah hujan menjadi kendala utama. Sementara itu, opsi teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan sukar direalisasikan akibat minimnya potensi pembentukan awan hujan.
Baca Juga: Karhutla Kian Mengkhawatirkan, Agus Sudarmansyah Dukung Mahasiswa Desak Status Bencana Nasional
"Setelah semua daya upaya dilakukan; pemadaman lewat darat, himbauan, sosialisasi. Pada akhirnya ya, kita mengakui bahwa problem kita ini memang problem alam juga, dengan tidak adanya hujan turun," ujar Karolin, Kamis (3/9).
Karolin merinci, data BMKG mencatat 88 titik panas (hotspot) menyebar di Kabupaten Landak dalam tiga hari terakhir. Kondisi tersebut memperburuk kualitas udara (PM 2.5) hingga masuk dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya. Menyikapi hal ini, Pemkab Landak mengambil langkah tegas dengan meliburkan sekolah dan mengalihkan proses belajar secara daring.
Dampak kemarau panjang ini juga melumpuhkan pasokan air bersih bagi warga akibat keringnya sumber air baku. "Sungai Landak yang begitu besar itu kedalaman air cuma kurang lebih 80 sentimeter, tidak sampai 1 meter hari ini. Sehingga PDAM pun nol, tidak mau, harus bergiliran bagaimana caranya agar air ini bisa tetap kita upayakan," jelas Karolin.
Guna mengatasi dampak krisis yang kian meluas, Pemkab Landak telah menetapkan status tanggap darurat bencana. Seluruh aparatur desa diinstruksikan segera mendirikan posko koordinasi untuk mempercepat aksi penanganan dini di tingkat lokal. Mengingat minimnya pos anggaran darurat di tingkat desa akibat efisiensi, Karolin bergerak cepat mengajukan permohonan ke pemerintah pusat.
Baca Juga: Musim Kemarau Bikin Warga Kesulitan Air, PDAM Tirta Khatulistiwa Kirim Bantuan ke Batu Layang
"Hari ini saya menandatangani surat untuk permohonan kepada Menteri Sosial dan Menteri Desa, agar desa-desa kami yang saat ini kondisinya defisit ataupun minim sekali dananya, bisa ada program desa siaga bencana atau apapun itu namanya," tegasnya.
Mengakhiri keterangannya, Karolin melayangkan peringatan keras kepada seluruh lapisan masyarakat agar menghentikan aktivitas pembakaran dalam bentuk apa pun, termasuk membakar sampah rumah tangga. Kondisi vegetasi yang sangat kering disertai angin kencang berisiko tinggi memicu kobaran api menjalar ke pemukiman warga. "Sudah tebal asap, masih lagi bakar. Kalau situasi sudah seperti ini, ya sudahlah, setop dulu apapun aktivitasnya," pungkas Karolin.
Sementara itu, Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari, menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga masyarakat secara luas.
“Doa bersama ini menjadi ikhtiar spiritual kita di tengah kondisi kabut asap yang berdampak kepada masyarakat. Namun, ikhtiar tersebut harus berjalan bersama dengan langkah nyata di lapangan dalam mencegah dan menangani karhutla,” ujar Devi.
Menurut Devi, masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api. Karena itu, dia mengajak seluruh warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, serta segera melaporkan apabila menemukan adanya potensi kebakaran.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar dan jangan membakar sampah sembarangan, karena dalam kondisi cuaca panas dan kering api sangat mudah menyebar,” katanya. (mif)
Editor : Rafael B. Junior