PONTIANAK POST - Beberapa tahun terakhir, muncul pandangan yang cukup sering terdengar: “Gen Z itu generasi lemah.” Ungkapan ini tidak hanya beredar di media sosial, tetapi juga muncul dalam percakapan sehari-hari, ruang kerja, hingga dunia akademik.
Gen Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam situasi dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka menghadapi perkembangan teknologi digital yang masif, krisis global seperti pandemi, hingga perubahan sosial-ekonomi yang cepat.
Di satu sisi, generasi ini dikenal adaptif, kreatif, dan melek teknologi. Mereka mampu menguasai tren baru dengan cepat, terbiasa dengan informasi real-time, serta berani menyuarakan isu-isu sosial, lingkungan, dan kesehatan mental.
Namun, disisi lain, tidak sedikit yang menilai bahwa Generasi Z kurang tangguh, mudah stres, terlalu sensitif, dan sulit menghadapi tekanan.
Stereotip “lemah” ini sering kali berangkat dari perbandingan dengan angkatan sebelumnya, seperti Baby Boomers, Gen X, atau Milenial.
Angkatan lama melihat perbedaan cara pandang dan sikap Gen Z terhadap kerja keras, tanggung jawab, maupun cara menyelesaikan masalah. Pertanyaannya: apakah benar Gen Z lebih lemah, atau justru mereka hanya menampilkan bentuk ketangguhan yang berbeda sesuai zamannya?
Gen Z dan Tingkat Kecemasan yang Tinggi
Menurut data rujukan dari Insights Magazine, Gen Z dikenal sebagai generasi paling cemas sepanjang sejarah modern. Salah satu faktor utamanya adalah perkembangan media sosial yang membuat mereka terus-menerus terhubung dengan dunia luar.
Di satu sisi, media sosial memberi peluang untuk berkarya, berjejaring, dan belajar. Namun disisi lain, eksposur berlebihan terhadap kehidupan sempurna orang lain menciptakan tekanan psikologis.
Banyak anak muda merasa harus selalu terlihat sukses, cantik, kaya, atau berprestasi. Akibatnya, mereka mudah mengalami fear of missing out (FOMO), perasaan tidak cukup baik, hingga stres berkepanjangan. Kondisi inilah yang memicu lonjakan tingkat kecemasan pada Generasi Z.
Dalam kacamata angkatan yang lebih tua, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai tanda kelemahan, padahal sesungguhnya merupakan dampak dari ekosistem digital yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
Kurangnya Resiliensi Menurut Ahli Kesehatan Mental
Pandangan lain datang dari Niki Saks, seorang ahli kesehatan mental yang menilai bahwa Gen Z dan milenial memiliki tingkat resiliensi yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Ia menyebut pola asuh modern yang terlalu melindungi anak dari rasa tidak nyaman justru menimbulkan masalah baru.
Namun, penting dipahami bahwa rendahnya resiliensi bukan berarti angkatan ini tidak punya potensi.
Justru dengan kesadaran akan kelemahan tersebut, Generasi Z memiliki peluang besar untuk belajar mengelola stres, membangun daya tahan, dan menemukan cara baru menghadapi tantangan hidup.
Kekhawatiran Akan Stereotip Negatif
Menurut laporan Newsweek, banyak anak muda dari Generasi Z justru merasa terbebani oleh label negatif yang disematkan kepada mereka.
Istilah seperti “malas,” “entitled,” atau “tidak punya etos kerja” kerap muncul dalam percakapan publik, terutama dari kalangan generasi lebih tua.
Kenyataannya, stereotip ini bisa berbahaya. Label negatif tidak hanya mempengaruhi citra diri, tetapi juga berdampak langsung pada kepercayaan diri dan peluang kerja.
Seorang pencari kerja muda bisa merasa tidak layak hanya karena ia berasal dari angkatan yang sering dicap buruk. Dalam jangka panjang, stigma semacam ini berpotensi memperlebar kesenjangan antar generasi.
Dengan kata lain, Gen Z tidak hanya berjuang menghadapi realitas dunia modern yang serba cepat, tetapi juga harus menghadapi persepsi miring yang mungkin tidak sepenuhnya benar.
Banyak dari mereka menilai bahwa stereotip seperti “malas” atau “sulit bekerja sama” muncul karena perbedaan cara pandang antar angkatan.
Sebagai contoh, Generasi Z lebih memilih pekerjaan yang fleksibel dengan keseimbangan hidup yang sehat. Bagi sebagian generasi sebelumnya, sikap ini dianggap kurang ambisius.
Padahal, bagi Gen Z, menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup sama pentingnya dengan karier.
Mereka juga dikenal lebih vokal dalam menolak praktik kerja yang dianggap merugikan, serta lebih peduli terhadap nilai keberlanjutan dan inklusivitas.
Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dianggap kelemahan oleh angkatan lain, bisa jadi merupakan bentuk adaptasi terhadap tantangan baru yang belum pernah ada sebelumnya. (*)
Editor : Miftahul Khair