PONTIANAK POST — Jika Anda adalah tipe pribadi yang selalu bangga dengan citra diri yang tenang, santai, dan kepala dingin (calm, cool, and collected), ada kemungkinan besar Anda sebenarnya menyimpan bara kemarahan yang jauh lebih besar daripada yang disadari atau ingin diakui.
Mengingat kemarahan sering kali dicap sebagai emosi yang tidak elok secara sosial, banyak orang akhirnya memilih untuk menutupinya (masking anger). Ketika topeng ini dipakai terlalu lama dan terlalu lihai, individu tersebut bahkan bisa benar-benar lupa bahwa mereka sedang marah.
Namun, emosi memiliki sifat layaknya zat cair: sekeras apa pun dipendam, ia akan tetap mencari celah untuk keluar. Melansir analisis klinis dari pakar psikologi Nick Wignall, banyak pasien yang bersikeras mengaku tidak sedang marah, namun pola hidupnya justru menunjukkan sebaliknya. Mengakui kemarahan bukanlah hal yang tabu, namun ketidakmampuan mendeteksinya justru akan menjadi racun bagi diri sendiri dan lingkaran sosial.
Baca Juga: Begadang terus? Dokter Sebut Kurang Tidur Bisa Bikin Mudah Marah dan Emosi, Ini Penjelasannya
Berikut adalah 5 kebiasaan yang tanpa sadar sering dilakukan oleh orang-orang yang sedang memendam kemarahan tersembunyi:
1. Mengalami Kecemasan Kronis (Chronically Anxious)
Banyak individu terjebak dalam kecemasan kronis karena mereka terlampau takut menghadapi kemarahan diri sendiri. Alhasil, mereka rela menampung beban stres luar biasa demi menghindari konflik.
Secara kasatmata, orang cemas terlihat bertolak belakang dengan karakter pemarah; mereka tampak penurut, lemah lembut, atau bahkan mudah dimanfaatkan (pushover). Padahal, kecemasan adalah ongkos mahal yang harus dibayar akibat menolak mengakui kemarahan. Kemarahan adalah alarm alami manusia saat terjadi ketidakadilan atau pelanggaran batasan diri (boundary violations).
Sebagai contoh, seorang anak yang tumbuh di lingkungan keluarga abusif belajar bahwa mengekspresikan kekecewaan hanya akan mengundang bahaya. Saat dewasa, trauma ini terbawa menjadi kebiasaan mengabaikan amarah. Dampaknya: ia tidak pernah berani membela diri, menumpuk beban kerja berlebih di kantor demi menghindari konfrontasi dengan atasan, atau bertahan dalam hubungan interpersonal yang toksik karena takut memicu kemarahan pasangan.
Baca Juga: Marah Bisa Jadi Tanda Kesedihan yang Dipendam, Kenali Faktanya Menurut Psikologi di Sini
2. Terjebak dalam Spiral Rumit Rumination (Merenung Negatif)
Hanya karena seseorang tidak pernah meluapkan kemarahan kepada orang lain, bukan berarti amarah itu sirna. Kemarahan yang diarahkan ke dalam diri sendiri (self-directed anger) justru jauh lebih destruktif.
Orang-orang ini dikenal sebagai sosok penyabar, penuh empati, tidak pernah berteriak, dan sangat ramah di mata publik. Namun, di dalam kepala mereka, terjadi dialog batin yang sangat kejam berupa rumination—yaitu kebiasaan mental memikirkan kesalahan masa lalu secara negatif dan tidak produktif.
Misalnya, kritikan kecil dari atasan akan membuat mereka menghabiskan waktu berjam-jam di malam hari untuk merutuki diri dan melabeli diri sendiri sebagai produk gagal. Meskipun rumination sering kali berujung pada rasa sedih dan malu, bahan bakar utamanya adalah kemarahan pada diri sendiri. Jika Anda berjuang melawan perfeksionisme akut dan kritik diri yang kejam, mulailah sadar bahwa ada amarah terpendam yang perlu diurai.
Baca Juga: Diecast Bukan untuk Dijual, Kolektor Ini Simpan 500 Mobil Mini Bernilai Emosional Tinggi
3. Berkomunikasi secara Pasif-Agresif
Sikap pasif-agresif muncul ketika seseorang merasakan letupan amarah yang intens namun takut untuk menyatakannya secara terbuka. Mereka bertindak agresif untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi mencoba bersembunyi di balik dalih tertentu agar terhindar dari tanggung jawab atas konsekuensi tindakan tersebut.
Beberapa manifestasi nyata dari kebiasaan pasif-agresif ini antara lain:
-
Sengaja datang terlambat saat pertemuan, namun selalu menyiapkan rentetan alasan logis.
-
Mendadak mengeluh sakit perut sesaat sebelum menghadiri acara bersama orang yang sebenarnya tidak disukai.
-
Sengaja menyelesaikan tugas kantor dengan kualitas buruk agar tanggung jawab tersebut dialihkan ke rekan kerja lain.
Dalam jangka panjang, pola ini akan menghancurkan reputasi Anda menjadi pribadi yang tidak bisa diandalkan. Jalan keluar satu-satunya adalah melatih sikap asertif—yaitu berani mengakui kejujuran kebutuhan diri sendiri namun tetap disampaikan dengan cara yang penuh hormat kepada orang lain.
Baca Juga: Bukan Sekadar Sedih, Inilah 4 Gejala Depresi yang Tak Disadari Banyak Orang
4. Gemar Meluapkan Dongkol secara Berlebihan (Venting)
Apakah Anda termasuk orang yang sering mengeluh, mendumal, atau curhat berulang-ulang (venting) kepada teman dan keluarga mengenai hal yang sama? Jika iya, itu adalah indikator kuat bahwa ada tumpukan frustrasi yang belum selesai.
Dulu, dunia psikologi sempat mempercayai teori katarsis—bahwa amarah adalah zat beracun yang harus segera dikeluarkan lewat luapan emosi agar lega. Namun, sains modern membuktikan bahwa teori tersebut keliru. Kebiasaan terus-menerus mengeluh (venting) justru akan memperbesar dan menyalakan api kemarahan tersebut dalam jangka panjang.
Venting hanya memberikan ilusi semu bahwa kita sedang menyelesaikan masalah, padahal tidak menyentuh akar konfliknya sama sekali. Strategi terbaik adalah akui rasa frustrasi tersebut, lalu pilih: lakukan aksi nyata untuk mengubah keadaan, atau ikhlaskan dan lepaskan sepenuhnya.
Baca Juga: Cara Menangani Tanaman Hias Baru Datang Agar Tidak Mengalami Stres Berat
5. Menjadi Pribadi yang Hiperkritis (Hypercritical)
Banyak orang menutupi kemarahan emosional mereka dengan membungkusnya dalam bentuk kritik intelektual yang dingin dan analitis terhadap orang lain.
Hal ini biasanya dipicu oleh rasa kecewa atau ketidakmampuan diri sendiri dalam mengambil keputusan besar di masa lalu. Rasa bersalah dan malu itu lambat laun bermutasi menjadi kemarahan internal. Guna meredam rasa rendah diri tersebut secara instan, ego mereka akan mencari pelarian dengan cara menghakimi atau mengkritik kekurangan orang lain secara tajam. Secara psikologis, mengkritik orang lain memberikan kepuasan semu bahwa diri kita "lebih tahu" dan lebih baik dari mereka.
Padahal, sikap hiperkritis ini hanyalah topeng rapuh dari rasa tidak aman (insecurity) yang mendalam. Kebiasaan menghakimi ini tidak akan mereda sampai Anda berani berdamai dengan kemarahan yang bersumber dari dalam diri sendiri. (*)
Editor : Rafael B. Junior