PONTIANAK POST - Lupa nama seseorang sering kali membuat orang merasa serba salah. Di satu sisi ingin tetap menjaga hubungan baik, tetapi di sisi lain khawatir lawan bicara merasa tidak dihargai.
Menurut Founder Digital Etika Edgar Bayu Refansyah MSi, ada cara yang lebih elegan untuk mengatasi situasi tersebut tanpa membuat suasana menjadi canggung.
Mengakui Lupa Justru Lebih Menghargai
Edgar menjelaskan, lupa nama merupakan hal yang manusiawi, terutama bagi orang yang sering bertemu banyak orang. Namun, cara menyikapi kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam etika berkomunikasi.
Baca Juga: Salah Sebut Nama Orang? Ini Cara Memperbaikinya Tanpa Menambah Rasa Canggung
Menurutnya, mengakui lupa jauh lebih baik daripada berpura-pura masih mengingat.
"Berpura-pura ingat mungkin terasa seperti jalan pintas, tapi bisa membuat situasi lebih canggung, apalagi jika sampai salah menyebut nama," jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Karena itu, kejujuran dinilai menjadi pilihan yang paling aman sekaligus menunjukkan penghargaan kepada lawan bicara.
Gunakan Kalimat yang Sederhana dan Tulus
Baca Juga: Etika Bermedia Sosial Penting Agar Unggahan Liburan Tidak Menimbulkan Masalah
Saat ingin menanyakan kembali nama seseorang, Edgar menyarankan menggunakan kalimat yang sederhana tanpa kesan menginterogasi.
"Misalnya, 'Maaf, boleh diingatkan lagi namanya?' atau 'Saya mau pastikan, namanya siapa ya?'," tuturnya.
Menurutnya, pemilihan kata yang santai dan tulus akan lebih mudah diterima dibandingkan kalimat yang terkesan terburu-buru atau terlalu formal.
Selain itu, nada bicara yang tenang juga membantu menjaga percakapan tetap nyaman.
Hindari Pertanyaan yang Membuat Orang Tidak Dihargai
Edgar mengingatkan bahwa tidak semua pertanyaan cocok digunakan ketika lupa nama seseorang.
Ia menilai kalimat seperti "Kamu siapa ya?" atau "Aku lupa kamu yang mana" sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan kesan bahwa lawan bicara tidak penting untuk diingat.
"Nada meremehkan atau terlalu santai juga bisa berdampak negatif. Intinya, hindari kalimat yang membuat orang lain merasa tidak penting untuk diingat," tegas Edgar.
Menurutnya, tujuan utama komunikasi bukan sekadar memperoleh informasi, tetapi juga menjaga perasaan orang lain.
Bahasa Tubuh Membantu Mencairkan Suasana
Selain memilih kata-kata yang tepat, komunikasi nonverbal juga berperan penting.
Baca Juga: Tiga Batas Etika Keep Tempat yang Perlu Dipahami Masyarakat
"Senyum ringan, kontak mata, dan nada suara yang tenang bisa membuat situasi lebih cair," ungkap Edgar.
Dalam situasi formal seperti rapat atau acara kantor, ia juga menyarankan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Biasanya lawan bicara akan otomatis menyebutkan namanya kembali," sambung Edgar.
Cara tersebut dinilai lebih alami sekaligus membantu menghindari rasa canggung saat percakapan berlangsung. (*)
Editor : Chairunnisya