SEGEDONG – Merespons pemberitaan Pontianak Post tentang Ibu Ratna (53), warga Jalan Nelayan RT 01/RW 01, Desa Sungai Burung, Kecamatan Segedong, yang sejak puluhan tahun menempati Rumah Tak Layak Huni (RTLH), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Mempawah pun menyalurkan bantuan program RTLH.
Bantuan berupa material bangunan dengan total nilai Rp12,5 juta itu diserahkan langsung Ketua BAZNAS Kabupaten Mempawah, Ustaz Marzuki Kadri, kepada Ibu Ratna, belum lama ini di kediamannya di Desa Sungai Burung.
Marzuki menjelaskan, pada dasarnya BAZNAS memiliki banyak program bantuan. Terutama, sebut dia, menyangkut delapan asnaf penerima zakat, infak, dan sedekah sesuai syariat yang ditetapkan dalam agama Islam.
“Kita juga memiliki program kemanusiaan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi serta dakwah. Kaitan dengan bantuan untuk Ibu Ratna ini, masuk dalam kategori bantuan program RTLH,” terang Marzuki yang dalam kesempatan itu didampingi pegiat sosial, Khairani.
Hanya saja, Marzuki mengakui jika BAZNAS dengan segala keterbatasan anggarannya, hanya mampu menyediakan dana untuk pembangunan rumah dengan ukuran sekitar 4x6 meter persegi.
“BAZNAS berbeda dengan Dinas Perkim dalam hal penganggaran. Maka, kita hanya menganggarkan untuk pembangunan rumah 4x6 meter dengan biaya Rp12,5 juta.
Tapi, Insya Allah nanti ada tambahan bantuan kemitraan dari Bung Ranie (sapaan akrab Khairani, Red) dan kawan-kawan untuk merealisasikan rumah layak huni untuk Ibu Ratna,” harapnya.
Terkait bantuan tersebut, Marzuki menambahkan, ada beberapa persyaratan administrasi yang harus dipenuhi penerima manfaat. Yakni, sebut dia, menyiapkan anggaran pembiayaan pembangunan, fotokopian KTP, KK, dan surat keterangan tanah (SKT).
“Kita juga ada target pembangunan. Mudah-mudahan dalam tiga bulan ke depan, pembangunan rumah untuk Ibu Ratna sudah rampung,” tuturnya.
Di tempat yang sama, pegiat sosial, Khairani, mengatakan dia dan rekan-rekan berencana membuka donasi untuk membantu realisasi pembangunan rumah layak huni untuk Ibu Ratna. Sebab, diakuinya, bantuan yang disalurkan BAZNAS belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan pembangunan.
“Rencananya, kita akan membuka donasi untuk Ibu Ratna. Jadi, kawan-kawan yang memiliki kelebihan rizki dan tertarik untuk berbagi bersama Ibu Ratna bisa menghubungi media sosial facebook Bung Ranie,” katanya.
Pria yang akrab disapa Bung Ranie itu berharap bantuan untuk Ibu Ratna dapat segera mengalir, sehingga secepatnya bisa direalisasikan untuk mendukung pembangunan rumah layak huni.
“Mudah-mudahan donasi yang kita buka bisa menarik simpatik para donatur untuk memberikan sumbangsihnya membantu Ibu Ratna agar bisa memiliki rumah yang lebih layak huni,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Ratna (53), warga Jalan Nelayan RT 01/RW 01, Desa Sungai Burung, Kecamatan Segedong, berprofesi sebagai asisten rumah tangga (ART) sejak puluhan tahun lalu menempat rumah tak layak huni.
Ratna yang bermukim bersama seorang anak perempuannya, digambarkan, menempati rumah dengan kondisi sangat memprihatinkan.
Salah satu ruangan yang rusak parah, terungkap adalah bagian dapur yang tak memiliki atap. Sehingga, jika turun hujan maka Ratna dan anaknya harus basah tersiram air hujan.
Ratna menceritakan kondisi rumahnya sangat memprihatinkan. Jika turun hujan, maka dirinya harus basah. Mengingat, bagian dapur rumah tersebut sudah tak memiliki atap karena roboh.
“Kalau turun hujan, maka kami akan basah dan kehujanan. Sebab, di dapur sudah tidak ada atapnya. Begitupun kalau angin kencang, rumah ini terasa berguncang. Dan saya hanya bisa berdoa kepada Allah, agar kami diselamatkan dari marabahaya,” lirihnya.
Tak hanya hujan dan angin kencang, sambung Ratna, dirinya juga kerap kebanjiran. Jika terjadi banjir, maka seluruh bagian rumah akan terendam dengan ketinggian air cukup tinggi hingga mengganggu aktivitasnya.
“Kalau sudah banjir, maka kita tidak bisa beraktivitas apapun mengingat seluruh bagian rumah terendam air. Kami hanya bisa berdiam diri menunggu banjir surut barulah bisa beraktivitas,” timpalnya.
Di samping itu, rumah yang ditempati Ratna dan anaknya juga tidak memiliki WC. Sehingga, Ratna dan anaknya harus menumpang ke rumah tetangga untuk buang air kecil dan besar.
“Tidak ada WC, biasanya kami menumpang kerumah tetangga,” imbuhnya.
Jauh di lubuk hatinya, Ratna sangat ingin memiliki rumah yang lebih layak huni. Rumah yang nyaman dan aman untuk dirinya beserta anaknya beristirahat dan bermukim. Namun, keterbatasan ekonomi membuat Ratna harus mengurungkan niat memperbaiki rumahnya yang rusak parah itu.
“Saya hanya bekerja sebagai ART dengan gaji sekitar Rp400 – Rp600 ribu perbulan. Uang yang saya hasilnya hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup. Itu pun harus pandai-pandai agar semua kebutuhan bisa terpenuhi ditengah situasi barang-barang yang serba mahal,” ucapnya.
“Mudah-mudahan ada pihak-pihak yang bersedia membantu kami untuk memperbaiki rumah ini supaya bisa lebih layak huni, agar kami bisa beristirahat di rumah ini dengan nyaman dan aman,” harapnya mengakhiri. (wah)
Editor : A'an