MARSITA RIANDINI, Pontianak
Safira menyelesaikan hafalan ini lebih cepat dari prediksi pendamping. Sejak kecil, Safira sudah kehilangan kemampuan melihatnya. Saat duduk di TK Islam Yabunayya, Safira sudah dibiasakan untuk menghafal Alquran. Di usianya yang baru menginjak lima tahun, hafalan hanya sebatas surah-surah pendek saja. Namun, ini penilaian dari hasil hafalannya selalu memuaskan. Ini menjadi motivasi baginya untuk menjadi hafizah atau penghafal Alquran.
Tahun 2019, Safira bergabung sebagai santri di Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Kota Pontianak. Melalui program takhassus Thahfizhul Quran atau program khusus penghafal Alquran, Safira dibimbing untuk menghafal ayat demi ayat, hingga kemudian juz demi juz sampai akhirnya tuntas 30 Juz.
Layaknya penghafal pada umumnya, Safira juga menemukan tantangan. Terutama kemampuan penglihatan terbatas. Tapi setiap kali semangatnya kendor, dia kembali memotivasi diri sendiri dengan tetap menjaga dan memperbaiki ayat demi ayat yang sudah dihafalnya.
Saat awal menghafal Alquran, Safira tidak menguasai Alquran Braille atau Alquran khusus cacat netra atau penglihatan. Ahmadi Chandra, Pengurus Pondok Pesantren Mathlaul Anwar mengatakan,teknik yang digunakan santriwatinya ini melalui metode talaqi, yakni dengan mendengarkan dan menirukan bacaan Alquran tanpa melihat Alquran yang disampaikan oleh seorang guru atau pendamping secara langsung untuk mendapatkan pengucapan makhorijul huruf yang benar. “Awalnya seperti itu, ada yang membacakan lalu dia mendengarkan dan kemudian menirukan ayat-ayat tersebut,” jelas dia.
Kemudian Safira belajar menggunakan Alquran braille atau Alquran yang dirancang khusus untuk tuna netra dengan susunan huruf timbul. “Setelah dia bisa membaca Alquran braille baru kemudian dia bisa menghafal sendiri tanpa dibacakan lagi. Caranya, dia membaca Alquran tiga kali kemudian alqurannya di tutup, dan dibaca berulang-ulang sampai benar bacaannya tanpa memegang Alquran,” ungkapnya.
Mendengarkan murathal atau bacaan Alquran dari orang lain menjadi cara Safira menjaga hafalan. Ini dilakukan setiap hari, agar semakin memperbaiki kualitas hafalan. “Proses menghafalnya itu selain dibantu Alquran braille juga HP, dan Alquran elektronik dengan sering didengar dan dibaca berulang-ulang,” ungkap dia.
Safira juga kerap meraih berbagai prestasi dibidang Tahfiz. Anak dari pasangan Muharni dan Andi Syamsul Alam ini kerap juara di Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) cacat netra. Baik tingkat kabupaten,provinsi maupun nasional. Pernah juga juara harapan satu saar MTQ Pelajar di Bangka Belitung.Pada kegiatan yang digelar Sahabat Mata khusus Baca Alquran Braille, dia juara 1 tingkat nasional.
Ahmadi menambahkan, santrinya ini bergabung pada pertengahan Juli 2019, dan berhasil menyelesaikan hafalan Alquran pada 8 Maret 2021. Dia berharap ini menjadi motivasi bagi santri lain untuk bersemangat. Safira telah membuktikan. Dalam keterbatasan, ada jalan untuk menjadi penghafal Alquran. (*) Editor : Super_Admin