Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Midji-Norsan, Masih Sejalan atau Berbeda Haluan?

Shando Safela • Selasa, 7 Mei 2024 | 11:02 WIB
Sutarmidji dan Ria Norsan.
Sutarmidji dan Ria Norsan.

PONTIANAK - Hiruk pikuk menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan dihelat pada 27 November 2024 mulai terasa. Pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Kalimantan Barat (Kalbar) misalnya, masing-masing bakal calon mulai mendaftar ke partai politik (parpol) untuk diusung.

Salah satu bakal calon yang dipastikan kembali bertarung pada Pilgub Kalbar tahun ini adalah Gubenur Kalbar Periode 2018-2023, Sutarmidji. Sejauh ini, Midji-sapaan karibnya sudah mendaftar ke seluruh parpol yang membuka pendaftaran bakal calon gubernur, yaitu Partai Demokrat, Golkar, PDIP, PAN, Nasdem, Hanura, dan juga PKB.
Selain Midji, beberapa tokoh lainnya juga dikabarkan telah mendaftar sebagai bakal calon gubernur ke beberapa partai. Sebut saja Anggota DPR RI Lasarus, mantan Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, termasuk mantan Wakil Gubernur (Wagub) Kalbar Ria Norsan. Dengan mendaftarnya Ria Norsan sebagai bakal calon gubernur, berbagai pihak mulai berspekulasi jika petahana Sutarmidji-Ria Norsan, bakal pisah jalan di Pilkada kali ini.


Jika berbicara politik, tentu semua kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi, sejauh ini dari semua tokoh yang mendaftar ke parpol, belum ada satu pun yang melamar satu paket sebagai pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur. Semua pihak kemungkinan masih menimbang-nimbang, hingga pendaftaran resmi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dijadawalkan pada Agustus 2024 mendatang.


Mengenai pasangan yang akan mendampinginya, Midji secara eksplisit menyatakan masih ingin bersama Ria Norsan. Hal tersebut disampaikan saat dirinya mengembalikan berkas pendaftaran bakal calon gubernur di Sekretariat DPD Partai Golkar Kalbar, Kamis (25/4). “Nanti kan dari partai juga nanti kita diskusikan, jadi (wakil) belum. Sekarang biar saja (isunya) berkembang di mana-mana. Tapi ya, sebagaimana yang sudah saya sampaikan, kan sudah saya sampaikan kalau sikap saya (masih ingin bersama Norsan), cuma ya dinamikanya kan bisa gimana, gitu, sampai partai memutuskan. Ya kita diskusikan, kalau cocok ya sudah kita jalan,” ungkapnya.


Sementara itu, Wagub Kalbar Periode 2018-2023, Ria Norsan menyampaikan saat ini masih terlalu dini untuk memutuskan iya atau tidak, apakah dirinya kembali berpasangan dengan Sutarmidji di Pilgub2024. Sikap tersebut disampaikan kepada awak media saat dirinya mengembalikan berkas pendaftaran sebagai bakal calon gubernur di DPW PAN Kalbar, Sabtu (4/5).


“Jadi begini, ini kan baru namanya pendaftaran partai, jadi belum ada pasangan. Semuanya daftar masing-masing, ada yang calon gubernur, dan ada yang calon wakil gubernur kan. Nanti baru kita tahu jelas itu apabila sudah mendaftar di KPU. Siapa berpasangan dengan siapa, itu baru jelas,” katanya.


Menurut Norsan, sejauh ini dirinya sudah mendaftar ke tiga partai sebagai bakal calon gubernur. Namun, kata dia, semua keputusan tetap di tangan partai. “Dan ini pun belum tentu dikabulkan partai, jadi kita baru mendaftar itu saja. Kemudian Pak Sutarmidji kemarin menyatakan masih ingin berpasangan dengan saya, tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi. Ini kan fleksibel artinya, yang namanya politik ini fleksibel, last minute bisa terjadi, nah itu kira-kira,” ujarnya.


Melihat dinamika, dan peta politik yang masih fleksibel, Sutarmidji tentu perlu juga menimbang sosok pendamping ideal selain Ria Norsan. Tokoh-tokoh seperti mantan kepala daerah, politisi atau anggota legislatif, serta tokoh masyarakat lainnya, tentu masih terbuka dipinang menjadi bakal calon wagub.
Pengamat Politik Kalbar, Ireng Maulana menilai, jika memang Midji-Norsan tidak lagi sepaket sebagai calon petahana pada Pilgub 2024, maka kompetisi di antara keduanya sebagai rival akan saling melemahkan ceruk elektoral antara satu dengan yang lainnya. Soalnya, kata Ireng, karakter kelompok pemilih keduanya hampir seragam, dan spot pemilih mereka juga beririsan cukup lebar.
“Pilihan pasangan (wagub) mereka masing-masing akan menentukan arah dukungan baru sebagai pemecah dari aksi saling tarik-menarik basis pemilih dari lubang yang sama,” katanya.


Lulusan ilmu politik dari Amerika Serikat itu menambahkan, masing-masing pendamping keduanya akan memberikan preferensi politik alternatif kepada pemilih. Kriteria pendamping untuk Midji atau Norsan, kata dia, akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor.
Pertama, kekuatan elektoral parpol pengusung. Kedua, daya tarik kepada pemilih muda. Ketiga, keterwakilan dari aspek kewilayahan. “Yang keempat, desain kompetitor lainnya di luar mereka berdua,” ucapnya.


Menurut Ireng, sebagaimana klaim dari aspek popularitas yang menempatkan Midji dan Norsan sebagai kandidat yang sangat dikenal, maka pendamping mereka harus menjadi aktor yang mampu mentransformasi surplus popularitas menjadi kekuatan elektabilitas.


“Masing-masing pendamping harus memiliki daya ikat elektoral dari modal popularitas yang sudah ada,” tambahnya.
Ia berpendapat, kekuatan elektoral parpol pengusung juga penting. Pasalnya, baik Midji ataupun Norsan tentu bisa melihat gap sebaran pemilih, antara pemilih yang hanya melihat figur, dan pemilih yang fanatik pada parpol.
“Selain itu, kemunculan kandidat lain sebagai kompetitor baru juga menentukan figur yang akan diajak untuk berpasangan. Profiling terhadap rival baru di luar mereka berdua akan ikut mengubah orientasi komposisi pasangan,” ujarnya.

Sekarang, disebutkan Ireng, semua tentu sudah mendengar, misalkan mantan Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan akan ikut berkompetisi pada pilgub melalui jalur independen. Selain itu, Ketua DPD PDIP Kalbar, Lasarus juga sudah bersiap maju melalui PDIP. Kedua kandidat itu, kata Ireng, merupakan kompetitor yang juga memiliki kekuatan elektoral solid.

Keduanya juga diyakini memiliki kesiapan maupun stamina berkompetisi yang sama siapnya dengan Midji atau Norsan. “Baik Midji ataupun Norsan (jika tak berpasangan), harus mengisi kehilangan satu sama lainnya. Caranya dengan menemukan pasangan baru yang mampu mengimbangi kebutuhan akan aspek elektoral yang mereka miliki lima tahun yang lalu ketika dulu pernah menjadi pasangan,” pungkasnya. (bar)

Editor : Shando Safela
#ria norsan #kalbar #pilgub kalbar #midji norsan #sutarmidji