PONTIANAK - Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Maman Abdurahman angkat bicara terkait isu dan fitnah tak mendasar yang dianggapnya menyerang pribadinya terkait pembacaan Pandangan Umum (PU) usulan mencabut jabatan Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) DPD Golkar Kalbar, Ria Norsan ke Didi Haryono di Rakerda-Rapimda Golkar Kalbar, beberapa waktu lalu. Kebetulan sosok yang membacakan adalah Arief Rinaldi, Ketua DPD AMPI Kalbar yang juga putra calon Gubernur Kalbar 2025-2029. Dampak isu dikesankan zalim, kejam, sadis, mengarah ke fitnah dan kampanye hitam tersebut sudah menyerang dirinya dan keluarga besar Partai Golkar Kalbar.
"Saya hanya mau saya sampaikan begini ya. Isu besar yang beredar sekarang ini, seakan-akan saya sebagai Ketua Golkar Kalbar itu zalim, juga kejam yang memerintahkan Arief (Arief Rinaldi) membacakan PU di Rakerda-Rapimda untuk memecat pak Norsan (Ria Norsan) sebagai Wantim DPD Golkar Kalbar. Saya katakan secara pribadi dan institusi dari Partai Golkar itu adalah fitnah. Dan itu tidak benar," katanya disela-sela acara kunjungan Komisi VII DPR RI di Kalbar kemarin.
Maman kemudian menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya. "Benarnya seperti begini bahwa PU di Rakerda-Rapimda Golkar Kalbar awalnya dibacakan secara kolektif. Awalnya juga ada aspirasi internal Partai Golkar agar tak ada bias politik. Makanya, Partai Golkar mengusulkan pergantian pak Norsan (Ria Norsan) sebagai Ketua Wantim. Status beliau (Ria Norsan) sebagai kader Golkar masih tetap. Tetapi sebagai Wantim, kita (Golkar) usulkan diganti dengan pak Didi (Didi Haryono)," jelasnya. "Itu kebetulan SK saya sebagai Ketua DPD Golkar Kalbar yang memang datangnya dari arus bawah sendiri," timpalnya.
Maman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI ini berpikiran keputusan dan proses tersebut dalam sebuah organisasi berjalan biasa-biasa saja. Bahkan sebelumnya, Ria Norsan sudah memahami hal tersebut. Sebab sehari sebelum mendaftar, Maman mengakui berkomunikasi dengan Ria Norsan.
"Komunikasi kami. Saya sampaikan apa adanya usulan dari arus bawah soal wantim. Dan saya juga menghormati sebagai pribadi dan warga negara bahwa beliau (Ria Norsan) maju sebagai cagub di Pilkada serentak 2024. Itu haknya pak Ria Norsan. Masak, saya larang-larang," ucapnya.
Yang harus dipahami masyarakat Kalbar adalah tentunya sebagai sebuah dan bagian partai, Golkar harus mengambil langkah-langkah organisasi dalam berpolitik. "Saya katakana juga, Insha Allah pak Norsan jangan ada kekhawatiran. Tentu ada batasan-batasan partai Golkar dalam melakukan langkah organisasi politik. Bukan sekedar pergantian tetapi lewat mekanisme acara Rapimda-Rakerda Golkar Kalbar 2024, diusulkan untuk pergantian Wantim," jelasnya.
Yang membacakan juga sebetulnya bukan Arief (Arief Rinaldi). Tetapi dari Satker Ulama. Komunikasi panitia SC (Steering Committee) terjadi demikian. Panitia SC juga menyampaikan rasanya kurang pas dan tidak elok kalau disampaikan oleh Arief. Namun kenyataannya, Arief masih ngotot dan meminta membacakan PU tersebut. Ketika dalam sidang pembacaan PU, Maman kaget kenapa harus Arief yang membacakan. Posisi dirinya bersama pimpinan sidang lainnya sudah berada di depan.
"Hanya, pikiran saya waktu itu, ya sudahlah. Saya waktu itu juga tak berpikir apa-apa. Akan tetapi dua hari setelah acara Rapimda-Rakerda selesai, beredar isu liar. Saya diframing sebagai sosok zalim, sadis, dan kejam kepada keluarga Ria Norsan. Saya hanya mau sampaikan satu hal. Kalau saya kejam dan zalim tak mungkin bu Erlina, Golkar calonkan sebagai calon Bupati Mempawah," kata dia.
"Saya dan Golkar objektif kok dalam berpolitik dan mendukung bakal calon kepala daerah," timpalnya.
Maman berpikiran dan memahami menjelang Pilkada serentak 2024, tentunya beragam strategi politik bisa diciptakan. Mungkin saja, mau membangun opini dan kesan dizalimi atau terzalimi. Namun ada satu hal yang harus diluruskan partai Golkar. Dalam konteks politik praktis, sah-sah saja permainan playing victim terjadi.
"Tetapi karena ini menyangkut nama baik saya dan dikesankan sebagai orang sadis dan kejam, saya harus luruskan sebagai manusia. Sampai hari ini sebagai Ketua parpol, saya selalu berlaku proporsional dalam berpolitik," katanya.
Maman juga menepis isu besarnya bahwa Golkar memerintahkan Arief. "Saya luruskan itu. Dan itu bohong besar namanya kalau ada framing bahasanya seperti itu. Sebab di panggung Rakerda-Rapimda, justru Arief yang meminta membacakan. Jangan sampai ada isu Golkar menzalimi keluarga pak Norsan. Dari sisi pribadi dan institusi, sudah disampaikan panitia SC bahwa teman-teman panitia menyebutkan kurang pas rasanya kalau Arief membacakan ini," pungkas Maman.(den)
Editor : A'an