PONTIANAK POST - Tokoh masyarakat sekaligus anggota DPRD Kalimantan Barat dan Ketua NasDem Kabupaten Sambas, H. Subhan Nur mempertanyakan latar belakang investor asal Singapura, Long Dragon Investment yang akan bekerjasama dengan PT FAM NEXA Indonesia membangun mega proyek ambisius senilai Rp6,6 triliun.
Dia pun meminta pemerintah dan investor memberikan kejelasan legalitas dan latar belakang perusahaan asal Singapura tersebut, yang diklaim menjadi salah satu penggerak utama investasi untuk proyek ambisius di Kabupaten Sambas ini.
Itu karena berdasarkan penelusuran H. Subhan Nur sendiri melalui situs resmi pemerintah Singapura, www.bizfile.gov.sg , data terkait LONG DRAGON INVESTMENT Singapura tidak ditemukan sama sekali. Namun, ada catatan mengenai perusahaan bernama LONG DRAGON PTE LTD saja, yang memang berstatus aktif dan telah berdiri sejak tahun 1994. Sayangnya, aktivitas bisnis perusahaan ini lebih berfokus pada pembuatan pupuk dan senyawa nitrogen, serta perdagangan grosir bahan baku pertanian dan hewan hidup NEC (non-edible crops).
"Kami menemukan bahwa LONG DRAGON PTE LTD tanpa embel INVESTMENT ya, adalah sebagai perusahaan lokal yang sudah beroperasi selama 30 tahun dengan modal disetor hanya $10.000. Aktivitas utamanya jauh dari sektor properti atau investasi skala besar seperti yang direncanakan di Sambas," ungkap Subhan kepada Pontianak Post, Rabu (19/3).
Menurut Subhan, ketidakjelasan status perusahaan ini patut dipertanyakan, mengingat rencana kolaborasi dengan PT FAM NEXA Indonesia melibatkan nilai investasi yang sangat besar, yakni Rp6,6 triliun. Mega proyek ini mencakup pembangunan City Mall terintegrasi hotel bintang 5, pusat medis internasional (hospital), perguruan tinggi keperawatan internasional, apartemen, serta perumahan skala besar di Kabupaten Sambas.
"Kami meminta transparansi dan kejelasan kepada kedua pihak terkait legalitas dan kemampuan finansial Long Dragon Investment. Apakah mereka benar-benar memiliki kapasitas untuk mendanai proyek sebesar ini? Jangan sampai masyarakat dibuat kecewa jika proyek ini ternyata tidak dapat terealisasi," tegas Subhan.
PT FAM NEXA Indonesia; Dana Siap, Tapi Perizinan Belum Lengkap
Sebelumnya, President Director PT FAM NEXA Indonesia, Johnny Famin Efendy, menyatakan bahwa pendanaan untuk proyek ini sudah siap dan tinggal menunggu kelengkapan perizinan. Namun, fakta mengenai status LONG DRAGON PTE LTD yang lebih berfokus pada industri pertanian dan pupuk membuat publik semakin kritis terhadap rencana investasi ini.
"Kami tetap berkomitmen menjalankan prosedur perizinan sesuai aturan yang berlaku. Namun, kami juga ingin memastikan bahwa mitra kami memiliki rekam jejak dan legalitas yang jelas," tambah Johnny saat dimintai tanggapan.
Proyek ini sejatinya diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru bagi Kabupaten Sambas dan sekitarnya. Namun, sorotan dari DPRD Kalimantan Barat mengenai legalitas mitra asing menunjukkan perlunya pengawasan ketat terhadap proses investasi asing di daerah.
H. Subhan Nur menegaskan agar Pemerintah Kabupaten Sambas tidak gegabah memberikan izin tanpa memastikan semua dokumen perusahaan mitra sudah diverifikasi secara menyeluruh. "Jika ada indikasi ketidaksesuaian atau potensi masalah di masa depan, kami akan meminta evaluasi ulang terhadap kerja sama ini," ujarnya.
Diapun menyoroti baru-baru ini ada investasi masuk di Sambas dengan nilai anggaran mencapai Rp300 miliar untuk industri kelapa sawit. Dananya ada, investasinya jelas dan melibatkan banyak tenaga kerja tetapi ditolak secara halus oleh kepala daerahnya. "Ini yang kami (DPRD Kalbar) soroti. Jangan investasi yang jelas dan serius masuk ditolak dengan segala narasi halus, tetapi investasi yang masih butuh banyak afirmasi dan konfirmasi begitu saja di welcome kan seperti disiapkan "karpet merah" saja," ucapnya.
Pihak DPRD Kalimantan Barat sendiri berencana menggelar rapat dengan mengundang perwakilan dari Long Dragon Investment dan PT FAM NEXA Indonesia, kedepannya. Tentunya untuk membahas detail rencana investasi di wilayah Sambas.
"Prioritas utama kami (DPRD Kalbar) adalah memastikan kepastian dan keberlanjutan proyek demi kepentingan masyarakat di Sambas. Kami tidak menolak investasi asing, tetapi kami juga tidak ingin masyarakat dirugikan karena kurangnya transparansi. Semoga semua pihak bisa bekerja sama dengan baik demi kemajuan daerah," tutup Subhan
Sementara itu, masyarakat Sambas juga menanti kepastian realisasi mega proyek ini. Sebagian besar berharap proyek ini dapat meningkatkan lapangan kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, ada juga yang khawatir jika proyek ini hanya menjadi wacana tanpa bukti nyata.
"Mudahan terwujud, dapat juak kita karaja disitu," kata Amri, salah satu pemuda Sambas dengan nada antusias.
Masyarakat Kabupaten Sambas sendiri dan stakeholder lainnya menunggu langkah konkret dari semua pihak terkait untuk menjawab tantangan ini. (den)
Editor : A'an