Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjangkau Pendidikan di Ujung Kubu Raya: SMPN 2 Batu Ampar Buka Sekolah Terbuka, Agar Tak Ada Anak Putus Sekolah.

Deny Hamdani • Minggu, 25 Mei 2025 | 15:58 WIB
SMPN 2 terbuka menjadi tantangan baru bagi Pemkab, Disdikbud, Politisi, sekolah dan masyarakat setempat untuk memberikan pemerataan pendidikan bagi anak-anak terjauh.
SMPN 2 terbuka menjadi tantangan baru bagi Pemkab, Disdikbud, Politisi, sekolah dan masyarakat setempat untuk memberikan pemerataan pendidikan bagi anak-anak terjauh.

PONTIANAK POST - Di ujung Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, sebuah terobosan penting tengah dilakukan dalam dunia pendidikan. Untuk pertama kalinya, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Batu Ampar membuka Sekolah Terbuka, sebagai upaya menjembatani anak-anak yang putus sekolah atau tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal.

Lokasi Sekolah Terbuka ini berada di Dusun Cabang Ruan, Desa Batu Ampar — wilayah yang cukup jauh dan sulit dijangkau. Jaraknya sekitar 5,2 km dari sekolah induk, dengan medan yang tidak selalu ramah bagi para siswa maupun guru yang harus bolak-balik setiap hari.

“Kami sangat memperhatikan tenaga pengajar yang bertugas ke sana. Perjalanan yang jauh dan melelahkan tentu membutuhkan dukungan lebih,” kata Kepala SMPN 2 Batu Ampar, Lukman Hidayat, S.Pd saat memaparkan pendapatnya di sekolah induk.

Gagasan pembukaan Sekolah Terbuka ini tak lepas dari peran politik pendidikan dari sosok Arifin, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari Dapil Kubater (Kubu, Batu Ampar, Terentang). Politisi Nasdem Kubu Raya ini gencar mendorong pihak terkait agar meratakan akses pendidikan tanpa pandang bulu. “Sekolah terbuka adalah solusi bagi anak-anak yang tidak bisa menempuh pendidikan karena keterbatasan geografis, ekonomi, atau kondisi sosial lainnya,” ujarnya.

Tidak hanya pemerintah, perusahaan swasta pun turut andil. PT Fajar Saudara Lestari (FSL), yang beroperasi di wilayah tersebut, menyatakan siap mendukung sepenuhnya keberadaan Sekolah Terbuka.

“Kami memiliki banyak karyawan yang memiliki anak usia sekolah. Kami ingin mereka bisa bersekolah dekat rumah, tanpa biaya tambahan. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat dan pelaku usaha,” tutur Juliadi dari PT FSL.

Menurut Syarif Muhammad Firdaus, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, Batu Ampar merupakan salah satu kecamatan dengan angka buta huruf tertinggi beberapa tahun lalu. "Anak-anak yang tidak sekolah ada dalam tiga kluster: yang pernah sekolah tapi putus, yang tamat di jenjang tertentu tapi tidak melanjutkan, dan yang sama sekali belum pernah bersekolah. Ini menjadi tantangan besar bagi kami,” katanya.

Sekolah Terbuka ini dikelola oleh SMPN 2 Batu Ampar sebagai sekolah induk, dengan akreditasi A. Meski berstatus formal, pola pendidikannya cenderung fleksibel dan semi non-formal, disesuaikan dengan kondisi peserta didik.

“Yang penting, mereka tetap mendapatkan ijazah resmi dari negara. Ini bentuk komitmen Pak Bupati agar tidak ada satu pun anak usia sekolah yang tidak bersekolah,” tambah Firdaus.

Siti Haninah, Wakasek Bidang Kesiswaan SMPN 2 Batu Ampar, menyampaikan bahwa antusiasme warga Dusun Cabang Ruan cukup tinggi. Awalnya hanya lima siswa yang mendaftar, namun jumlahnya terus bertambah.

“Kami percaya potensi anak-anak di sana besar. Mereka hanya butuh kesempatan dan akses yang lebih baik,” ujarnya.

Kini, harapan mulai menyala di pelosok Kubu Raya. Melalui Sekolah Terbuka, mimpi pendidikan yang sempat pudar mulai kembali menggelora. Setiap langkah menuju sekolah, setiap lembar materi pelajaran, adalah awal baru untuk masa depan yang lebih cerah.(den)

Editor : Hanif
#sekolah #putus sekolah #SMPN 2 #pendidikan formal #akses pendidikan #kubu raya #batu ampar