PONTIANAK POST - Peraturan Wali Kota (Perwa) Pontianak Nomor 22 Tahun 2025 tentang Pembatasan Jam Malam Anak mendapat respon positif. Yumi Pariyanti, Kepala SD Muhammadiyah 2 Pontianak menilai aturan ini baik untuk meningkatkan disiplin pelajar, mengurangi potensi bahaya, dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak. "Sangat mendukung sekali adanya aturan ini. Tentunya adanya aturan ini pasti sudah melalui evaluasi, studi kelayakan sehingga aturan ini mesti dikeluarkan," katanya.
Untuk mendisiplinkan anak-anak tidak bisa sepenuhnya oleh pemerintah. Menurutnya, meskipun aturan telah diterapkan, pengawasan dari orang tua dan lingkungan sekitar tetap penting untuk memastikan anak-anak tetap aman dan terlindungi. Kadang sulit dibedakan mana pelajar SMP, SMA bahkan mahasiswa ketika mereka mengenakan pakaian bebas.
"Secara fisik, ada juga kan anak SMP atau SMA yang postur tubuhnya seperti mahasiswa," ungkapnya.
Yumi menjelaskan usia anak-anak itu belum bisa bertanggung jawab sepenuhnya, belum bisa membedakan mana baik dan mana yang buruk. Selain itu, tidak semua dari anak-anak ini bisa membedakan mana kawan yang mengajak pada hal baik dan tidak baik. "Ketika anak-anak asyik nongkrong di kafe sekadar makan, minum. Kemudian setelah itu kemana? Apa yang dilakukan anak? Ini yang harus diawasi, dipantau," katanya.
Penerapan pembatasan jam malam bagi anak-anak itu bukanlah hal baru. Bahkan, lanjut dia telah ada dalam pendidikan Islam.
"Aturan jam malam itu sudah dari dulu ya. Maghrib itu sudah di rumah. Shalat berjemaah di rumah bagi perempuan dan ke masjid bagi laki-laki. Sebenarnya bila kita telah menerapkan pola pendidikan seperti itu, kita tidak khawatir lagi anak-anak akan keluar," ujarnya.
Yumi mengingatkan orang tua bahwa dengan anak tidak keluar rumah bukan berarti pengawasan orang tua menjadi kendor. Orang tua tetap harus memantau dengan pola asuh yang tepat. Orang tua harus tahu apa yang dilakukan anak selama di rumah. Inilah tantangan orang tua saat ini. Apalagi pengaruh teknologi yang membuat orang tua harus lebih peka dan terus belajar dalam menerapkan pola asuh.
Menurut Yumi, orang tua dapat membangun komunikasi yang baik dengan anak, misalnya dengan kehangatan keluarga dan ibadah. "Dulu itu kita makan malam itu bersama-sama. Kalau sekarang sudah jarang seperti itu. Maka sebagai orang tua harus meningkatkan kualitas komunikasi dengan anak," pungkasnya. (mrd)
Editor : Hanif