Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Golkar Kalbar Ajak Masyarakat Nonton Film Lyora, Kisah Nyata Ketangguhan Cinta dan Perjuangan Menanti Buah Hati

Deny Hamdani • Kamis, 7 Agustus 2025 | 20:40 WIB
DPD Ormas MKGR Kalimantan Barat, dibawah kepemimpinan H. Prabasa Anantatur, menggelar Nonton Bareng (nobar) Film Lyora, Kamis (7/8) sore.
DPD Ormas MKGR Kalimantan Barat, dibawah kepemimpinan H. Prabasa Anantatur, menggelar Nonton Bareng (nobar) Film Lyora, Kamis (7/8) sore.

PONTIANAK POST — DPD Ormas MKGR Kalimantan Barat, dibawah kepemimpinan H. Prabasa Anantatur, menggelar Nonton Bareng (nobar) Film Lyora: Penantian Buah Hati, sebagai bagian dari gerakan nasional yang diperintahkan langsung  Ketua Umum DPP Partai Golkar dan Ketum DPP Ormas MKGRI.

Acara Nobar ini digelar pada hari Kamis(7/8) sore pukul 16.40-18.30 Wib di Studio 21, Ayani Mega Mall. Selain diikuti kader-kader Partai Golkar dan masyarakat umum di Kalimantan Barat, nobar ini juga bertujuan menyebarkan pesan moral dan ketangguhan dalam menjalani ujian hidup, khususnya dalam perjuangan mendapatkan momongan.

H. Prabasa Anantatur, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat dan Sekretaris DPD Partai Golkar Kalbar, menyampaikan kesan mendalam usai menonton film tersebut.

“Saya lihat tadi kesannya bagus ya. Ini sebagai kekuatan pesan buat kita semua. Film ini menunjukkan contoh kegigihan dua pasangan untuk mendapatkan keturunan. Dan ini bisa menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia, khususnya tentang ketangguhan seorang perempuan dan seorang laki-laki dalam mempertahankan rumah tangga di tengah cobaan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Film Lyora sendiri diangkat dari kisah nyata Meutya Hafid, Menkominfo RI juga kader Golkar RI, dan suaminya, Noer Fajriansyah, yang menjalani perjuangan panjang selama bertahun-tahun untuk memiliki anak. Mereka mengalami tiga kali keguguran dalam satu tahun, sementara Meutya sendiri sudah memasuki usia 40-an saat memulai program bayi tabung.

Namun, dengan ketabahan, doa, dan dukungan penuh satu sama lain, harapan itu akhirnya terwujud. Pada usia 44 tahun, Meutya melahirkan Lyora—sebuah keajaiban yang dinanti.

"Nah ini, mudah-mudahan tidak hanya dua contoh ini. Banyak perempuan atau laki-laki lain, hanya gara-gara menunggu buah hati, di tengah jalan malah berpisah. Inilah makna yang ingin kami sampaikan: jika sudah pas padu dengan pasangan, sekuat tenaga jangan berpisah. Berdoa, berusaha, dan percaya bahwa yang terbaik akan datang,” tegas Prabasa.

Ia juga memuji penampilan para aktor, khususnya Marsha Timothy yang memerankan Meutya Hafid, dan Darius Sinathrya sebagai Fajri. Menurutnya, peran mereka sangat hidup dan menyentuh hati. "Oh pas benar, bagus ya. Tadi saya tanya teman-teman, terasa sekali perannya. Terasa seperti dunia nyata. Kesedihan, perjuangan, suka dan duka dibangun dengan sangat baik. Sosok bu Mutya Hafidz dan pak Fajri tadi sudah pas dimainkan. Bagus sekali jalan cerita filmnya," ujarnya.

Film Lyora sendiri disutradarai oleh Pritagita Arianegara, nominasi Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2016, dan diproduksi oleh Paragon Pictures & Ideosource Entertainment. Film ini juga dibintangi oleh aktor dan aktris ternama seperti Widyawati, Olga Lydia, Hannah Al Rashid, dan Aimee Saras. Rencananya, film ini akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada Agustus 2025.

Lebih dari sekedar kisah perjuangan hamil, Lyora mengangkat isu penting seperti tekanan sosial, beban finansial, dan perlunya kebijakan publik yang lebih mendukung pasangan yang menjalani program fertilitas. Film ini juga menjadi pengingat bahwa cinta, kesabaran, dan doa bisa membawa keajaiban.
Sebagai bentuk dukungan, Golkar Kalbar juga mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk menonton film ini.

"Film ini layak ditonton. Bukan hanya hiburan, tapi juga pembelajaran hidup. Mari kita jadikan kisah Meutya dan Fajrie sebagai inspirasi, bahwa tidak ada yang mustahil jika kita tetap bersatu, berdoa, dan tidak menyerah,” pungkas Prabasa.

Dengan pesan yang kuat dan kisah yang menyentuh, Lyora tidak hanya menggambarkan perjuangan fisik dan emosional, tapi juga merayakan kekuatan cinta, harapan, dan ketahanan sebuah keluarga. Di tengah maraknya perceraian dan tekanan sosial, film ini hadir sebagai angin segar mengingatkan kita semua bahwa setiap perjalanan punya waktunya, dan setiap doa punya jawabannya. (den)

Editor : Miftahul Khair
film Lyora Penantian Buah Hati golkar kalbar Nobar