Masjid sebagai pusat kegiatan umat kini mengambil peran lebih besar dari sekadar tempat ibadah. Sebagian pengurus masjid kini mulai berinovasi, menjawab kebutuhan jemaah dengan pendekatan yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Salah satunya adalah Masjid Ikhwanul Mukminin di Sungai Raya Dalam, Kalimantan Barat.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Suasana siang itu di sebuah minimarket kecil di Sungai Raya Dalam tampak berbeda. Deretan anak-anak berseragam pramuka memenuhi lorong toko, memilih jajanan dan kebutuhan sekolah.
Ada yang sibuk mengantre di kasir, ada pula yang berkeliling rak mencari permen, biskuit, hingga minuman kemasan. Minimarket itu bernama I.M Mart, toko milik Masjid Ikhwanul Mukminin.
Sekilas, I.M Mart tak jauh beda dengan toko modern lainnya. Rak-raknya penuh barang kebutuhan sehari-hari, dari sembako, telur, hingga sabun cuci. Di pojok dekat kasir, aneka kue kering dan jajanan kemasan tersusun rapi. Bedanya, toko ini berdiri bukan semata untuk bisnis pribadi, melainkan sebagai bagian dari gerakan ekonomi jemaah.
Langkah berani itu berawal dari kegelisahan. Selama ini, sebagian besar masjid menggantungkan dana operasional pada donatur jemaah, melalui kotak amal harian, infak mingguan, atau sumbangan bulanan.
Padahal, sebagaimana pesan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla: “Saatnya bukan lagi jemaah memakmurkan masjid, tetapi masjid yang memakmurkan jemaah.”
Pesan itu menjadi cambuk pengurus Masjid Ikhwanul Mukminin. Mereka pun mendirikan koperasi jemaah pada 2022, sebagai badan usaha milik masjid.
“Kita modifikasi sistemnya. Tidak ada simpanan pokok atau iuran wajib, diganti dengan setoran modal. Setiap anggota setor Rp1 juta, bisa dicicil,” jelas Ketua Lembaga Masjid Ikhwanul Mukminin, H. Ahmad Effendi Lubis SE, belum lama ini.
Dari modal itulah lahir usaha pertama, yakni produksi air galon. Dengan kapasitas sekitar 1.200 galon perbulan, kebutuhan air minum jemaah bisa dipenuhi dengan harga lebih terjangkau. Usaha ini dikelola di atas tanah dan rumah wakaf masjid.
Setelah berjalan stabil, koperasi melangkah ke usaha berikutnya, yakni I.M Mart. Minimarket ini resmi dibuka pada 29 Agustus 2025, bekerja sama dengan Indogrosir melalui program Toko Mitra Indogrosir (TMI).
“Indogrosir membantu penyediaan barang, peralatan toko, hingga promosi. Kami tinggal fokus mengelola,” ujar Salman, Ketua Koperasi Jamaah Ikhwan Sejahtera.
Menariknya, I.M Mart juga menampung produk jemaah. Dari kue buatan rumah, hasil pertanian, hingga peternakan, bisa dijual di rak toko ini. Sehingga minimarket ini dapat menjadi wadah bagi jemaah untuk berkontribusi dalam ekonomi
“Jemaah bukan hanya pembeli, tapi juga bisa menjadi pemasok dan merasakan manfaat ekonomi bersama,” tuturnya.
Kini, setiap tahun dalam rapat anggota tahunan, koperasi melaporkan keuntungan yang sebagian besar masuk ke kas masjid.
Para anggota koperasi yang telah menyetorkan modalnya juga berhak menerima bagian dari hasil usaha koperasi. Sementara jemaah lain diuntungkan dengan harga belanja yang lebih murah dan dekat.
“Masjid bisa menjadi sumber daya ekonomi yang memberdayakan umat. Hadirnya I.M Mart dapat menjadi contoh bagaimana masjid dapat mengelola usaha dengan prinsip kebersamaan dan memberikan manfaat langsung kepada jemaah," tutup Salman.
Kehadiran anak-anak berseragam pramuka yang ramai berbelanja siang itu menjadi gambaran nyata, bahwa usaha masjid bisa tumbuh menjadi bagian kehidupan sehari-hari jemaah. Masjid tak lagi sebatas tempat ibadah, tapi juga pusat ekonomi yang menghidupi umat.**
Editor : Aristono Edi Kiswantoro