PONTIANAK POST – Ratusan mahasiswa baru program pascasarjana Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak dari tiga program studi, yakni Magister Hukum, Magister Manajemen, serta Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Sabtu pagi (27/9) mengikuti kuliah umum yang digelar pihak kampus sebagai bagian dari tradisi akademik menyambut awal perkuliahan tahun akademik 2025/2026.
Bukan sekadar agenda seremonial, kuliah umum yang digelar di Aula Sekolah Pascasarjana UPB Pontianak ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang yang kuat di bidangnya. Mereka adalah Mayjen TNI Dr. Ir. Pujo Widodo, S.E., S.H., S.T., M.A., M.D.S., M.Si., M.Sc., M.Si (Han)., dari Universitas Pertahanan (Unhan), serta akademisi ekonomi dari Universitas Tanjungpura (Untan), Dr. M. Fahmi, S.E., M.M., Ak., C.A. Kehadiran keduanya memberi warna tersendiri bagi mahasiswa baru Pascasarjana UPB.
Adapun tema yang diangkat di dalam kuliah umum tersebut yakni tentang isu strategis pertahanan, keamanan, dan kebijakan perbatasan. Bagi UPB, yang banyak menitikberatkan kajian akademiknya pada persoalan perbatasan, topik ini bisa menjadi ruang belajar yang mempertemukan beragam disiplin ilmu—hukum, sosial, ekonomi, hingga lingkungan.
Rektor Universitas Panca Bhakti, Dr. Purwanto, S.H., M.HUM., FCBArb., FIIArb., dalam sambutannya menegaskan kuliah umum menjadi salah satu tradisi akademik di awal semester. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkaya wawasan mahasiswa dengan perspektif yang lebih luas.
“Universitas Panca Bhakti selalu berkomitmen memberikan ruang pembelajaran yang komprehensif. Dengan menghadirkan tokoh berpengalaman, kami berharap mahasiswa Pascasarjana UPB mampu melihat persoalan bangsa secara luas, terutama yang terkait isu strategis perbatasan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Direktur Sekolah Pascasarjana UPB, Dr. H. M. Doing, S.H., M.H. Menurutnya, menghadirkan narasumber yang berlatar akademisi sekaligus praktisi seperti Mayjen TNI Dr. Pujo Widodo adalah langkah penting untuk menambah dimensi pengetahuan mahasiswa.
“Beliau sering memberikan pencerahan terkait isu pertahanan, keamanan, dan perbatasan. Kehadiran beliau tentu sangat berarti, apalagi bagi mahasiswa baru kita yang sedang memulai perjalanan akademiknya,” jelas Doing.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. M. Fahmi, memberi perspektif berbeda dengan membedah isu perbatasan melalui kacamata ekonomi. Bagi Pascasarjana UPB, kombinasi keilmuan inilah yang membuat kuliah umum menjadi semakin relevan. “Perbatasan adalah ruang di mana persoalan hukum, ekonomi, sosial, dan budaya saling bertemu. Karena itu, kami ingin mahasiswa memiliki pemahaman yang menyeluruh,” tambah Doing.
Di luar diskusi akademik, kuliah umum ini juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan wajah baru Pascasarjana UPB. Tahun ini, tercatat 55 mahasiswa baru diterima pada Program Magister Hukum, 18 pada Magister Manajemen, serta 12 pada Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Sebelumnya, UPB telah meluluskan 40 mahasiswa Pascasarjana, dengan 10 di antaranya melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Kegiatan berlangsung interaktif. Mahasiswa baru tampak antusias mengajukan pertanyaan, mulai dari isu keamanan perbatasan hingga strategi pembangunan ekonomi wilayah. Dialog yang hidup ini mencerminkan semangat kritis sekaligus kesiapan mereka menempuh jenjang akademik magister.
Dengan menghadirkan kuliah umum yang menyentuh persoalan nyata bangsa, khususnya di kawasan perbatasan, Sekolah Pascasarjana UPB menegaskan komitmennya mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga adaptif terhadap dinamika sosial dan strategis nasional. Sebuah langkah nyata dalam menjawab tantangan sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang berkontribusi bagi masyarakat dan negara. (ser)
Editor : Hanif