Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dari Pameran Swararupa Pontianak: Merawat Identitas Pesisir dan Rimba Lewat Rupa dan Suara

Siti Sulbiyah • Minggu, 23 November 2025 | 16:56 WIB

 

Puji Rahayu, salah satu seniman saat melihat karyanya dalam Pameran Swararupa yang digelar di Museum Kalimantan Barat.
Puji Rahayu, salah satu seniman saat melihat karyanya dalam Pameran Swararupa yang digelar di Museum Kalimantan Barat.

Dekolonisasi Estetika Pesisir dan Rimba Kalbar menjadi tema yang diangkat dalam Pameran Swararupa yang digelar pada 20–24 November 2025 di Museum Kalimantan Barat. Sebanyak 21 karya dari 12 seniman dihadirkan untuk mendekatkan dan mengedukasi masyarakat dalam pameran yang mengusung kolaborasi seni rupa dan suara tersebut.

 

Siti Sulbiyah, Pontianak

Puluhan orang tampak menikmati setiap karya yang dipamerkan di dalam ruangan Gedung Wawasan Nusantara, Museum Provinsi Kalimantan Barat. Ditemani alunan suara khas Dayak, mereka melihat satu per satu karya para seniman Kalbar, khususnya dari Kota Pontianak.

Salah satu seniman, Puji Rahayu, menarik perhatian lewat dua karyanya yang terinspirasi dari Andu dan Tengkawang, dua buah rimba Kalimantan Barat yang penuh makna. Ia membuat karya seni rupa dengan membuat motif dari kedua buah hutan tersebut.

“Kenapa ngambil dua motif itu? Karena dua buah tersebut memang khas Kalbar, dan keduanya sangat bermanfaat untuk masyarakat Dayak,” ujarnya.

Tengkawang, yang dikenal sebagai maskot flora Kalbar, menjadi simbol penting hubungan masyarakat dengan hutan. Sementara buah Andu, dalam sejumlah referensi, dikatakan Puji menjadi bekal perjalanan jauh.

“Ketika kehabisan makanan, Andu itu yang menyambung hidup,” ungkap Puji.

Karyanya dibuat dengan teknik kolase bertekstur, menggunakan material alami seperti kulit kayu kapuak. Prosesnya memakan waktu hingga dua bulan.

Ketua Pelaksana pameran, Deny Farid Yusman, menjelaskan bahwa Swararupa mencoba menggabungkan tradisi, motif, dan musik. “Di situ kita mengangkat tentang tradisi dan motif, kita kolaborasi dengan musik,” katanya.

Menurut Deny, pameran ini tidak hanya menunjukkan karya, tetapi juga menghidupkan kembali adat dan tradisi Kalimantan Barat. “Semoga kegiatan ini menjadi pemicu bahwa kita punya adat dan tradisi yang luar biasa. Jangan tinggalkan adat kita, jangan tinggalkan tradisi kita, karena itulah kita jadi diri kita,” katanya.

Pameran ini menonjolkan dua kekayaan budaya besar di Kalimantan Barat, yakni budaya pesisir Melayu dan budaya rimba Dayak. Dua hal ini hadir lewat berbagai medium, mulai dari lukisan, tekstil, tikar, hingga sablon motif pada kaos.

Menurutnya, seni adalah cara yang halus namun kuat untuk mengingatkan masyarakat bahwa tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan identitas yang harus dirawat.

Selain karya seni rupa konvensional, beberapa seniman mengeksplorasi multimedia dan material sehari-hari. Ada yang menggunakan barang bekas dengan tema motif tradisional, ada pula yang mengolah tikar menjadi karya visual.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah 12 Kalimantan Barat, Juliadi mengapresiasi terselenggaranya pameran ini. Ia juga menyebut seniman Kalbar tetap produktif meski menghadapi keterbatasan ruang dan anggaran.

Pameran ini menurutnya telah menghadirkan perspektif baru dalam penguatan budaya lokal melalui perpaduan antara suara dan rupa.

“Pameran ini menarik karena memadukan suara dan karya rupa yang mengangkat budaya pesisir khususnya Sambas serta budaya Melayu dan Dayak yang terlihat dari motif-motifnya,” kata Juliadi.**

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#pameran #seni #pontianak