PONTIANAK POST - Dokter anak di Kota Pontianak, Mardiyan Aprianto, mengatakan, obesitas pada anak perlu direspon serius oleh semua pihak, terutama pada usia sekolah, karena ketidakseimbangan antara asupan kalori dan aktivitas fisik.
Menurutnya pola makan berlebihan, kurangnya pengawasan orang tua, dan gaya hidup sedentari menjadi faktor utama yang memicu kondisi obesitas pada anak.
Mardiyan menjelaskan bahwa obesitas pada anak termasuk kategori gangguan nutrisi atau malnutrisi, yang tidak hanya terkait kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi. Berdasarkan pengamatan dan beberapa penelitian, kasus obesitas paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan makan yang berlebihan namun tidak diimbangi dengan aktivitas harian.
“Gangguan nutrisi pada anak tidak hanya masalah kekurangan gizi, tetapi juga termasuk kelebihan gizi atau obesitas. Kejadian obesitas lebih banyak dijumpai pada anak usia sekolah karena asupan energi yang tidak seimbang dengan keluaran energi,” jelas dr. Mardiyan saat diwawancarai Pontianak Post kemarin.
Lanjut Mardiyan, pola makan anak sehari-hari menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Konsumsi jajanan sekolah, minuman manis, fast food, dan camilan kemasan dapat meningkatkan risiko obesitas, terutama jika tidak disertai pengawasan keluarga.
Menurutnya, dampak pola makan ini juga tergantung kondisi keluarga. Orang tua dengan kesibukan tinggi cenderung sulit mengontrol asupan kalori anak, sehingga pengaruh pola makan yang tidak sehat menjadi lebih besar.
Untuk mencegah obesitas, Mardiyan menekankan pentingnya membangun pola makan yang ideal sejak bayi lahir. Pemberian ASI eksklusif diikuti pengenalan makanan padat sesuai usia merupakan langkah awal. Pada masa balita hingga anak sekolah, pemberian susu dan makanan manis sebaiknya dibatasi dan ditakar agar asupan kalori tetap seimbang.
Selain pola makan, kurangnya aktivitas fisik juga merupakan faktor signifikan yang mendorong obesitas pada anak. Anak yang menjalani gaya hidup sedentari cenderung menumpuk kalori yang tidak terpakai, sehingga berat badan meningkat.
“Aktivitas fisik yang cukup penting untuk menyeimbangkan kalori yang masuk. Anak perlu bergerak agar tubuh dapat menggunakan energi secara optimal,” kata dokter yang praktik di RSUP Pontianak Utara ini.
Tantangan lain yang dihadapi dokter anak adalah edukasi gizi kepada orang tua. Orang tua mesti memahami pentingnya menjaga pola makan anak.
Mardiyan menyebutkan bahwa umumnya kasus obesitas ditemukan pada anak usia 5–7 tahun. Kondisi ini berisiko memicu berbagai penyakit komorbid sejak dini, seperti diabetes tipe 2, gangguan jantung, ginjal, serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan, terutama jika obesitas terjadi pada anak usia 0–5 tahun.
Dia mengingatkan bahwa obesitas mengganggu sistem metabolisme tubuh, sehingga risiko penyakit lain meningkat lebih cepat dibanding anak dengan berat badan normal.
“Perjalanan mencegah obesitas memang tidak mudah, tetapi dengan kolaborasi antara orang tua, tenaga medis, dan sekolah, semua menjadi mungkin. Edukasi gizi dan aktivitas fisik yang konsisten akan membantu anak tetap sehat dan terhindar dari obesitas serta komplikasi yang menyertainya,” pungkas Mardiyan. (mse)
Editor : Hanif