Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Revitalisasi Bahasa Daerah Kalbar Terbatas, Rasio Pengajar 1 banding 20

Marsita Riandini • Selasa, 16 Desember 2025 | 10:23 WIB

 

Ilustrasi: Guru sedang mengajar di kelas.
Ilustrasi: Guru sedang mengajar di kelas.

PONTIANAK POST -  Kepala Balai Bahasa Kalimantan Barat, Uniawati mengatakan persentase penambahan bahasa, sastra, dan aksara yang terverifikasi dalam peta kebinekaan mencapai 56 persen. Menurutnya, ada  9 bahasa daerah terpetakan.

"Hasil pengambilan data tahun 2025 di 12 titik pengamatan, terdapat penambahan 2 bahasa, yaitu bahasa Ope Ope dan Taba, 9 dialek, dan 1 subdialek," ungkapnya (15/12).

Rasio pengajar bahasa daerah terhadap penutur muda yang terimbas mencapai 1:20. Adapun  bahasa daerah yang direvitalisasi yakni bahasa Melayu dan bahasa Hibun. Kota/Kabupaten yang terlibat yakni Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Mempawah, Kabupaten Sanggau.

" 472 orang pengajar utama terlibat dalam revitalisasi bahasa daerah sejak tahun 2024, kemudian 238 orang di tahun 2025," paparnya.

Sebanyak 4953 tunas bahasa ibu mendapatkan pengimbasan bahasa daerah ditahun, dan 414 siswa mengikuti Festival Tunas Bajrasa Ibu sejak tahun 2024, 216 siswa di tahun 2025.

Produk penerjemah yang dimanfaatkan peserta didik mencapai 28 persen, terdiri dari  129 judul cerita berbahasa daerah sejak tahun 2022, 56 judul cerita  berbahasa daerah tahun 2025.

Ada 53 judul cerita anak berbahasa Melayu Pontianak, sebanyak 15 judul cerita anak berbahasa Melayu Putussibau, 16 judul cerita anak berbahasa Melayu Ketapang, 17 judulcerita anak berbahasa Melayu Sambas, 13 judul cerita anak berbahasa Melayu Sanggau, 10 judul cerita anak berbahasa Golik dan 10 judul cerita anak berbahasa Hibun.

"Ada  10.200 buku cerita anak berbahasa Melayu dan Hibun disebarluaskan ke 600 sekolah di 14 Kota/Kabupaten. Kemudian 31 buku cerita anak dimanfaatkan melalui kegiatan Pojok Baca dan Diseminasi Pemanfaatan Produk Penerjemahan," paparnya.

Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial dan Sumber Daya Manusia Sefpri Kurniadi, mengapresiasi capaian kinerja yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Kalbar, terutama dalam pembinaan, pengembangan, dan pelindungan bahasa dan sastra, khususnya di wilayah Kalimantan Barat.

"Kami mengapresiasi peran Balai Bahasa dalam meningkatkan literasi kebahasaan dan kesastraan di Kalbar," ujarnya.

Ketua MABM Kalbar, Chairil Effendy mengatakan apa yang dilakukan Balai Bahasa  turut membantu menjaga identitas dan karakter bangsa. Menjaga bahasa daerah, bahasa Ibu agar tetap eksis. Bagaimana pun, keberadaan bahasa Indonesia sumbernya dari bahasa daerah.

"Di dalam  bahasa dan sastra itu tercerminlah identitas dan karakter bangsa kita. Tadi juga sudah diusahakan pelestarian bahasa daerah,karena tanpa usaha pembinaan perlindungan  dan pelestarian, bahasa daerah ini cenderung akan punah," jelasnya.

Menurutnya, kepunahan bahasa daerah itu sudah lama terjadi. "Kepunahan itu sudah terjadi, bahkan sejak awal abad ke-19 di sepanjang Sungai Kapuas. Oleh karena itu apa yang dilakukan Balai bahasa saya pikir merupakan suatu gas mulia," pungkasnya. (mrd)

Editor : Hanif
#revitalisasi #kalbar #literasi #mabm #kebahasaan #bahasa daerah