Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Keluhan Telur Mentah hingga Porsi Minim pada Program MBG Kayong Utara, Regional Kalbar Turun Tangan

Idil Aqsa Akbary • Selasa, 24 Februari 2026 | 10:05 WIB

 

MENTAH: Penampakan menu MBG tiga hari di Kayong Utara, telur mentah dikeluhkan orang tua dan guru.
MENTAH: Penampakan menu MBG tiga hari di Kayong Utara, telur mentah dikeluhkan orang tua dan guru.

PONTIANAK POST — Sejumlah orang tua murid dan guru mengeluhkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tiga hari yang dikeluarkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kekecewaan tersebut diunggah melalui status WhatsApp (WA) dan kemudian menyebar di media sosial, Senin (23/2).

Dalam unggahan itu, warga menuliskan antara lain, “Menyala untuk tiga hari ke depannya, lanjut nanti kalau bisa Aqua gelas dan kurma, Jak,” serta “Telur MBG mentah.”

Keluhan tersebut menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Tidak sedikit warga menyampaikan kekecewaannya secara terbuka melalui media sosial. Bahkan, kritik serupa juga disampaikan oleh sejumlah guru di sekolah penerima program.

“Miris, tidak sesuai sama sekali. Rapel tiga hari, tapi yang diterima cuma itu. Bukan tidak bersyukur, tapi bagaimana ya,” ujar seorang guru yang enggan disebutkan namanya di salah satu sekolah, Senin (23/2/2026).

Kekecewaan itu berujung pada sindiran dari tenaga pendidik. Mereka menilai terdapat ketimpangan antara anggaran negara dengan kondisi makanan yang diterima siswa. Hal tersebut memunculkan dugaan adanya oknum yang mengambil keuntungan pribadi. “Untungnya mungkin untuk beli baju Lebaran kali ya,” ucapnya dengan nada sindiran.

 

Pastikan Sudah Dievaluasi

Sementara itu, Kepala Program MBG Regional Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, memastikan keluhan terkait menu MBG di Kabupaten Kayong Utara telah ditindaklanjuti. Hal itu disampaikannya saat dikonfirmasi di Pontianak, Senin (23/2) malam.

Agus mengatakan pihaknya langsung menghubungi Kepala SPPG serta yayasan terkait setelah menerima laporan tersebut. Evaluasi dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program tetap sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

“Kami sudah menghubungi Kepala SPPG dan yayasan untuk meminta penjelasan terkait menu tersebut. Ini menjadi bahan evaluasi ke depan. SPPG juga sudah melakukan pertemuan dengan pihak sekolah bersama koordinator wilayah setempat,” ujarnya.

Terkait menu selama bulan Ramadan, Agus menjelaskan bahwa dalam SOP pelaksanaan MBG telah diatur penggunaan menu kering. Menu tersebut meliputi telur, buah, roti, kurma, atau makanan khas lokal lainnya.

Meski demikian, ia menegaskan menu tetap harus memenuhi standar keamanan pangan dan prinsip gizi seimbang. Hal itu meliputi pengecekan masa kedaluwarsa, kepemilikan izin edar seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta tidak menjadikan produk makanan kemasan ultra-processed food (UPF) sebagai menu utama.

“Dengan tetap menerapkan SOP keamanan pangan seperti mengecek kedaluwarsa, izin produk seperti PIRT, dan kaidah pemenuhan gizi seimbang. Bukan makanan kemasan pabrikan UPF yang dijadikan menu utama SPPG,” tegasnya.

Selain itu, menu yang dipilih tidak dianjurkan yang cepat basi maupun bercita rasa pedas. Untuk mekanisme pendistribusian, Agus menjelaskan makanan tetap dibagikan pada pagi hari, namun dibawa pulang oleh siswa untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. “Pendistribusian dilakukan pada pagi hari, dan makanan dibawa pulang oleh siswa untuk dikonsumsi saat berbuka puasa,” tutupnya. (bar)

Editor : Hanif
#Menu MBG #SPPG #Evaluasi #kayong utara #Orang tua #ramadan #guru